JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Words

We Heart Printed Magazine

Beberapa waktu terakhir, Tim Folksy menggodok tema Folksy Magazine edisi 17 mendatang. Pilihan jatuh pada persoalan printed magazine yang ‘tampaknya’ mulai kehilangan pembacanya dan beberapa diantaranya memutuskan tidak menerbitkan lagi versi cetaknya. Pada artikel ini, selain ingin sedikit memberi kode tentang tema Folksy Magazine 17, Tim Folksy juga ingin mengajak kamu bernostalgia dengan printed magazine.

Tim Folksy mencoba merasakan kembali beberapa hal menyenangkan yang bisa didapatkan dari printed magazine. Tentunya, tidak bisa begitu saja tergantikan oleh e-magazine.

Kertas itu sendiri,

Hmm, ketika membeli printed magazine, hal pertama yang sangat ‘ngena’ di benak kita mungkin bau kertasnya ya Folks. Rasanya sulit dideskripsikan, momen pertama kali membuka majalah yang barusan dibeli seperti sesuatu yang sakral karena setelah beberapa kali dibaca dan dibuka-buka maka bau kertasnya akan berbeda, hahaha.

Selain baunya, sensasi saat menyentuh kertas majalah yang glossy atau ada pula yang doff juga sangat menyenangkan hati. Kita lalu membayangkan proses orang-orang dibaliknya membuat konten-konten majalah tersebut hingga akhirnya dicetak. Mungkin saat baru saja keluar dari percetakan, kertasnya masih hangat hingga sampai di tangan kita dengan keadaan yang apik dan rapih.

Bonus modus

Siapa dari kalian yang membeli suatu edisi majalah tertentu dengan menguras tabungan uang jajan hanya karena bonusnya? Hahaha. Dulu, Tim Folksy salah satunya. Di momen-momen tertentu memang beberapa majalah menyediakan bonus yang lucu-lucu seperti agenda saat menjelang akhir tahun, hand body lotion, pouch hingga tas!

Nah, kalian yang suka musik pasti masih ingat ya beberapa majalah musik yang mungkin saat ini sudah tidak lagi terbit versi cetaknya, memberikan bonus poster band favorit kamu.

Cheating di toko buku

Satu ini terdengar negatif tapi menghangatkan kalau dikenang, ya. Majalah-majalah besar khususnya yang impor biasanya kurang terjangkau harganya ya, Folks. Demi menjawab rasa penasaran dan haus akan literasi (hahaha) akhirnya kita membuka sampul majalah di toko buku tanpa seijin petugas, lalu membaca bagian yang paling menarik hati, lalu keterusan sampai duduk berjam-jam di toko buku.

Nah, apa saja kenang-kenangan tentang majalah cetak yang tidak bisa tergantikan oleh e-magazine, versi kamu Folks? Ada juga lho beberapa pembaca yang menggunakan majalah bekas untuk sampul buku, khususnya di bagian yang ia sukai, foto idola misalnya. Jadi lebih semangat belajarnya kan, hehe.



Mengelola Stres, Bagaimana Caranya Ya?

Melanjutkan pembahasan pada rubrik sebelumnya, kali ini kita akan berkenalan lebih dekat dengan cara dasar agar dapat mengelola stres dalam diri kita. Mengelola berarti melakukan upaya agar tekanan yang terjadi dalam diri kita dapat berubah menjadi bermanfaat dan membuat pikiran dan tubuh kita lebih sehat dan bugar. Langkah awal dalam pengelolaan stres adalah mengenali kondisi stres yang sedang kita alami, apakah itu stres positif atau negatif telah dibahas pada edisi sebelumnya.

Dalam dunia psikologi, ada dua pendekatan umum dalam merespon hadirnya stres yang negatif. Respon ditujukan agar situasi stres negatif yang melanda seseorang dapat diolah dan diubah sehingga mengarah pada kondisi netral, tidak terlalu memunculkan reaksi negatif atau bahkan dapat diubah menjadi suatu stres yang positif sehingga akan menjadi motivasi atau pendorong.

Pendekatan pertama dalam merespon stres dikenal sebagai pengelolaan berfokus pada masalah (problem focus coping). Cara ini berarti seseorang berusaha untuk mencari pintu keluar atau solusi atas persoalan atau tekanan yang sedang terjadi. Artinya, ketika ada masalah datang misalnya ada penugasan bertubi-tubi atau teguran dari atasan, lalu diikuti dengan usaha menjalankan tugas, atau perbaikan diri, maka sebetulnya kita telah melakukan suatu proses penanganan stres berfokus pada masalah. Pada contoh lain misalnya, ketika kita sedang mengalami masalah keuangan.

Pada bulan ini banyak sekali musibah dalam keluarga, kemudian berakibat pada pengeluaran tak terduga yang berlebih. Tiba-tiba teringat pada tagihan asuransi dan beberapa cicilan kredit yang harus dibayar.  Nah, situasi ini dapat berujung pada dua hal. Pertama, perilaku marah-marah, mengurung diri, menangisi, atau yang kedua mencari cara agar mendapatkan pemasukan baru. Seperti berusaa mencari sesuatu yang dapat digadaikan atau dijual, maupun mencari pinjaman sementara yang berarti tutup lubang dan gali lubang. Cara-cara yang lebih menghasilkan adanya uang atau dana bagi keluarga itu merujuk pada proses pengelolaan stres berfokus pada masalah.


Pendekatan kedua adalah mengelola tekanan dengan terlebih dahulu mengatur situasi emosi dalam diri kita. Pada pendekatan ini, penekanannya adalah bagaimana kita dapat terlebih dulu memunculkan usaha agar emosi yang dirasakan saat muncul suatu tekanan tidak meledak-ledak yang dapat berakibat pada tindakan kurang sehat, maupun justru merusak diri sendiri. Sebagai contoh, ketika mendapati anak dengan pengasuh sedang bermain di arena bermain pusat perbelanjaan, lalu terdorong oleh anak lain sehingga bibirnya berdarah.

Respon si ibu berupa dengan menarik nafas terlebih dahulu, memeluk anak untuk menenangkan, lalu mengajak anak ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengalir sambil menenangkan diri. Kemudian, menuju pada klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi anak. Tindakan ini merupakan salah satu respon terhadap situasi penuh tekanan yang terlebih dulu berpusat pada emosi. Saat kita dapat menarik nafas ketika tekanan terjadi lalu menenangkan diri, maka ada waktu agar proses bernalar dapat terjadi. Alih-alih si ibu mencari anak yang mendorong atau orang tuanya dan memarahi habis-habisan atau berkata kotor. Hal tersebut merupakan respon emosi negatif yang dapat berujung pada tindakan kurang sehat dan kurang bermanfaat.

Selain itu, akan muncul pula respon sosial yang dapat menjadi stresor baru bagi kita seperti para pengunjung lain yang menjadikan kita sebagai bahan tontonan. Bisa juga muncul ketakutan pada anak karena respon kita yang marah-marah pada orang lain, tetapi dapat dipersepsi anak sebagai marah pada dirinya.

Lalu, ketika kita mendapati situasi yang membuat stres, pendekatan manakah yang terbaik? Coping berfokus pada masalah atau emosi?


Published on Folksy Vakantie Issue (2016)

Edited by Angela Shinta

Main Illustration by Maskrib


Liburan Itu Rasa, Bukan Masa

Pekerja serabutan, itu adalah profesi yang rasanya lebih tepat buatku sejak tidak lagi bekerja di kantor beberapa tahun terakhir ini. Karena walaupun bidang yang aku geluti kurang lebih mirip, tapi bentuk-bentuk pekerjaannya beragam sekali. Mulai dari menulis, jualan online, mengoordinir pameran, berpameran, menyelenggarakan lokakarya, dan banyak lagi. Mengerti kan sekarang, mengapa aku memilih disebut pekerja serabutan?

Lalu, kalau ditanya aku lebih memilih jadi pekerja serabutan atau kantoran, ternyata aku lebih menyukai jadi pekerja serabutan. Aku menyukai keadaan dimana aku bisa memilih bentuk pekerjaan yang mau aku lakukan atau tidak. Aku menyukai beragamnya pekerjaan yang bisa aku lakukan dalam satu waktu sehingga aku hampir tak sempat merasa jenuh. Aku juga ternyata menjadi lebih berani dalam mengambil bentuk-bentuk pekerjaan yang ditawarkan kepadaku. Ya, karena setelah satu pekerjaan selesai, aku bisa langsung melakukan pekerjaan baru yang sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya, kan? Aku juga merasa tidak mesti kreatif 24 jam dalam 7 hari seperti pekerjaan kantoranku sebelumnya. Sekarang aku bisa memutuskan kapan aku mau dan mesti berpikir kreatif, kapan aku hanya ingin bekerja menggunakan keterampilanku yang lain.

Belum lagi jaringan rekan kerja yang semakin bertambah bersamaan dengan datangnya sebuah pekerjaan baru. Plus, tentu saja ruang kerja yang bisa di mana saja, tak selalu mesti di meja kerja. Oh ya, baju kerja! Hampir tidak ada yang namanya baju kerja. Setiap baju yang kupakai bisa menjadi baju kerjaku kapanpun aku menginginkannya.

Hal ini juga yang ternyata aku lebih sukai, waktu kerjanya. Waktu kerja yang dikembalikan padaku sepenuhnya kapan aku mau bekerja, berhenti dahulu, lalu kerja lagi dan seterusnya. Mau sejak pagi, sore, atau hanya malam hari. Aku biasanya mencoba menggunakan malam hari untuk pekerjaan yang membutuhkan laptop, sisanya untuk bepergian dan bikin sesuatu tanpa laptop. Belum sepenuhnya berhasil tentu saja, tapi sekarang aku mengerti kemewahan menjadi pekerja serabutan seperti yang sering dikatakan orang-orang padaku. Tapi bicara waktu kerja, mesti bicara liburan juga dong. Nah, ini dia yang mestinya aku bicarakan dari tadi! Haha! Maaf buat pembukaan yang lumayan panjang di depan ya.

Saat aku kerja kantoran, aku mesti bekerja dalam jangka waktu tertentu setiap hari di dalam ruang dan rekan kerja yang sama. Tentu saja ada istirahat makan siang dan juga waktunya pulang, tapi tetap saja yang namanya cara kerja kantoran lama kelamaan akan datang rasa jenuh. Tentunya tekanan yang kita rasakan setiap hari tidak selalu menjadi lebih ringan saat kita pulang. Juga, walaupun pekerjaan yang kita lakukan di kantor cukup bergam, tapi yang jelas misalnya dari jam sembilan pagi sampai lima sore kita mesti duduk di meja, bekerja.

Makanya, hari libur termasuk akhir pekan, menjadi sesuatu yang istimewa rasanya. Saat itu setidaknya bisa melepaskan semua beban tanggungan dikejar-kejar pekerjaan selama beberapa hari. Sungguh tenteram dan damai. Namun, buat aku yang pekerja serabutan ini, liburan itu bisa kapan saja. Aku tidak mesti menunggu akhir tahun atau Lebaran, termasuk jatah cuti. Toh waktu kerjaku pun tidak baku. Aku bisa merasa tidak perlu menyentuh pekerjaan sama sekali sepanjang hari, baru besok mulai bekerja lagi. Aku bisa memilah pekerjaan yang aku lakukan setiap harinya termasuk jangka waktu dan tenggat waktunya agar aku tidak merasa tertekan terlalu lama. Siapa menunda, dia yang merana. Itulah yang mesti aku ingatkan terus-menerus kepada diriku setiap hari. Tapi liburan, aku bisa lakukan kapan saja karena untukku hari ini, liburan adalah jeda. Ia bukan sesuatu yang mesti panjang, berhari-hari dan keluar dari rutinitasku setiap hari. Ia adalah berbagai kegiatan yang tujuannya menjadi jeda dari rentetan kegiatanku setiap hari. Bisa kecil, besar, tak terduga, juga repetisi. Tak masalah, yang penting rasanya. Cara menikmatinya. Jadi, kalau ditanya apa liburanku hari ini?

Berjalan kaki di taman sambil memotret tanaman yang bergerak-gerak tertiup angin, memberi makan burung-burung gereja yang berterbangan mengelilingi atap rumah, mendengarkan album terbaru Justin Bieber sambil menyanyi keras-keras dan joget-joget. Kemudian mewarnai kuku karena sudah mulai bocel-bocel, juga membaca buku puisi buatan teman satu kantorku dulu.

Itu hanya untuk hari ini lho ya. Besok, bisa jadi bentuk liburanku berbeda lagi. Bisa jadi lebih sedikit jumlahnya dan lebih aneh bentuknya, tapi yang penting kan liburan. Jeda dulu. Sekali lagi, karena liburan itu rasa, bukan masa. 


Pernah dipublish di majalah Folksy, edisi 11, Vakantie Issue (2016)

Edited by Angela Shinta



5 Things I’ve Learned About Running a Handmade Decoration Shop

Handmade decoration, menjalani usaha kecil di bidang ini bisa dibilang gampang-gampang susah, juga seneng-seneng nyebelin. Banyak hal-hal yang bisa dieksplorasi dan dipelajari dari berjualan produk dekorasi rumah. Lebih spesifiknya, hiasan dinding (wall decoration). Nah, berikut ini beberapa hal yang sekiranya bisa aku dan tim bagi untuk kalian, semoga bermanfaat ya!

1.       Bagaimana sih membuat konten wall decoration yang cocok untuk konsumen?

Membuat konten akan selalu diawali dengan imajinasi tentang siapa calon konsumen kita. Misal, Maken Living biasanya membayangkan seorang karyawati yang ingin menjadikan dirinya lebih bersemangat menjalani pekerjaannya. Ia membutuhkan sesuatu yang estetis dan kreatif untuk mengisi kubikelnya. Nah, kami mencoba membuat produk dengan ukuran minimalis dan konten yang lucu untuk memberi semangat.


2.       Pahami selera dan keinginan personal konsumen

Setelah konsumen menyampaikan berbagai keinginannya, kami coba mengolah segala informasi. Kemudian, tentu menuangkannya ke dalam desain. Sejauh pengalaman Maken Living, konten personal yang sering dibuat adalah sketsa wajah pengantin atau anggota keluarga.


3.       Belajarlah untuk ‘lebih dekat’ dengan konsumen lewat komunikasi secara organik

Kenyamanan konsumen dalam berkomunikasi dengan sebuah brand akan meningkatkan kedekatan. Melalui kedekatan, harapannya konsumen akan menjadi pelanggan (returned customer). Nah, cara membuat channel e-commerce sendiri, adanya customer service yang melayani chat dan e-mail (berkomunikasi secara organik) akan sangat membantu mengembangkan usaha.


4.       Pelihara brand kamu melalui konten dan packaging

Gimana sih cara berkomunikasi dengan konsumen melalui konten dan packaging? Konsistensi konten dalam berbagai media channels yang kita miliki akan membawa brand ke dalam posisi yang baik dalam ingatan konsumen. Setelah produk kita sampai di tangan mereka, packaging akan jadi pengantar yang mujarab untuk menempatkan brand dalam hati konsumen.


5.       Produk kita harus punya nilai lebih!

Buat kami, hal paling sederhana untuk memberikan nilai lebih adalah informasi. Informasi tersebut bisa berupa tips tentang bagaimana memasang dan menyusun wall decoration. Jadi, konsumen akan punya pilihan berbagai cara memasang dan menyusun wall decoration-nya.


Photo source: https://www.instagram.com/makenliving/
(Published in Folksy Magazine 8th Edition) 

Edited by Angela Shinta D. P.


A Letter from the Future

Kepada Aku yang baru menginjak 17 tahun,

Kamu bukan lagi anak kecil yang suka merengek pada orang tuamu. Hari ini kamu akan mulai melihat dunia. Dunia yang selama ini hanya kamu dengar dari bisikan angin dan para orang dewasa yang sok tahu. Berawal dari perjalananmu ke sebuah kota nun jauh di sana, kamu akan melihat dan merasakan berbagai fenomena yang terasa asing bagimu. Memang tidak mudah awalnya, tapi percayalah bahwa kamu dapat melalui semuanya dengan baik.


Kamu akan bertemu dengan orang-orang baru yang datang silih berganti. Sebagian akan menyakitimu, sebagian akan menjadi penonton bagi lakumu, dan sebagian akan setia pada dirimu. Satu hal yang pasti, mereka semua akan menjadi pelajaran berharga bagimu. Petualanganmu tak akan berhenti sampai di situ. Keingin tahuanmu yang tinggi akan membawamu menuju tempat-tempat yang tak pernah kau kunjungi sebelumnya. Dari tempat-tempat ini, kamu akan menyadari bahwa kamu hanya bagian kecil dari semesta, dan kamu patut mensyukurinya.


Nanti, kamu akan lebih sering berjalan sendiri dan mengevaluasi diri. Merenungi banyak hal yang muncul di luar ekspetasimu. Mempertanyakan ini itu sambil menikmati senja dari daun jendela di bilik kamarmu dan mendengar musik kesukaanmu. Kadang kalau sedang bosan dengan musik-musik itu, kamu akan menikmati langit senja dalam hening. Meski atmosfirnya akan membuatmu semakin larut, luapkan saja, yakinlah bahwa lara itu akan berlalu seiring dengan pergantian hari. Menunjukkan titik lemahmu sekali-kali itu tak apa, setidaknya kamu jujur pada dirimu sendiri.


Hal terakhir yang perlu kamu ingat adalah kamu memiliki potensi luar biasa untuk menjadi manusia yang luhur. Lakukanlah apapun yang menyenangkan hatimu. Baik itu dengan berkesenian, berbagi, ataupun hal lain yang dapat membuatmu tersenyum bahagia. Walau akan ada yang tidak selaras dengan caramu, biarkan saja. Menjadi sedikit berbeda itu asyik kok. Dengan itu kamu akan memahami bagaimana cara dunia bekerja.


Dari Aku, 5 tahun kemudian.


Editor: Angela Shinta Dara Puspita


Recent Post
Categories