JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



People

Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas


"Intro"

"slow music"

Clap (tepuk tangan satu kali)

Siapa yang familiar dengan opening video di atas? Ya benar, itu tadi adalah opening video-video dari channel Youtube bernama Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas, atau biasa disingkat dengan KKL, atau mereka sendiri lebih sering menyebut diri mereka qql.

Hah, apa tadi? Kok lampu lalu lintas, memangnya siapa sih mereka? Kemarin tim folksy berkesempatan untuk ngobrol dengan Aya dan Fabi, dua dari tiga anggota KKL. Nah, simak obrolan kami dengan mereka yuk, Folks!

Halo KKL! Kenalan dulu dong, kalian ini sebenernya siapa sih?

Halo halo, kami dari, kelompok kolektif lampu-lalu-lintas. Kita bertiga, ada aku (Aya) lampu merah, ada Fabi lampu kuning dan Fasya lampu ijo. Jadi di channel youtube qql itu ada video-video yang menggemaskan, hehehe. Video yang sebenarnya nggak penting, tapi, kita merasa itu penting. Topiknya bisa macem-macem, mulai dari seni, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Tapi sebenarnya lebih banyak tentang seni dan gaya hidup sih.

Awalnya gimana sih, kok bisa terbentuk KKL?

Jadi, kami dulu pernah satu sekolah, aku sama Fasya pernah satu ekskul, jadi aku tahu kalau dia suka hal-hal tentang seni juga. Waktu kita kelas 11, Fabi pindah sekolah. Nah, justru pas Fabi pindah, kita bertiga jadi deket. Hampir setiap minggu ketemuan, biasanya main ke pameran atau acara di jakarta bareng-bareng. Akhirnya bikin nama geng dan merintis karir jadi Youtuber.

Kok namanya bisa KKL, gimana sejarahnya?

Dulu namanya sempat The Lampu Merah, gara-gara pas ada acara ulang tahun temen yang temanya retro, kita bertiga sama-sama pakai turtle neck merah, kuning, dan ijo. Dari situ, kami menamai diri kami The Lampu Merah, tapi terus ganti jadi lampu lalu lintas karena sebagai Aya, si lampu merah, aku merasa spotlight nya di aku, padahal yang lain juga kerja untuk video-video kami di Youtube. Selain itu, kami ingin pakai istilah sebenarnya bukan istilah sehari-hari, jadi lampu lalu lintas bukan lampu merah lagi.

Ceritain dong, gimana awalnya sampai KKL buat video-video di Youtube?

Sebenarnya waktu KKL ada, kita nggak pernah sampai berpikiran untuk bikin video di Youtube. Waktu itu karena aku (Fabi) lagi siapin kado untuk acara tukar kado yang videonya ada di channel youtube KKL itu, awalnya spontan aja, pas itu liat ada kamera, terus ya ingin mengabadikan aja. Lalu, edit-edit videonya, dulu pertama kali di upload di channel pribadi aku, terus kepikiran, kenapa nggak coba bikin channel baru aja, dengan nama kita, qql.

Konten video-video KKL kok bisa unik gitu, apa emang ide kontennya sengaja dibikin beda?

Kami sebenarnya bikin konten video, tentang video yang pengen kita tonton. Seperti video ‘Pamer Barang : Pasar Baru’ misalnya, kami suka nonton thrift haul dari Youtuber luar negeri, dan di Indonesia sepertinya hal itu masih baru. Karena Fabi udah biasa thrifting kami akhirnya bikin video tentang thrift haul ala kami sendiri. Lalu, video KKL pertama, ‘Tuker Kado’, itu sebenarnya pengen ikutan video-video unboxing tapi dengan twist isi kado adalah barang-barang dari rumah sendiri. Kalau video yang ‘Sedetik Sehari’ Fabi duluan yang punya ide, dia udah sering bikin video-video ‘Sedetik Sehari’, pas KKL punya channel youtube, langsung deh di propose jadi project bulanan.

Kalau konten video seperti ‘Cerita Rakyat’ dan ‘Kultum’ emang dibuat untuk seru-seru an aja, atau mau kasih edukasi ke viewers juga?

Kalau cerita rakyat, awalnya kami juga nggak tau tetang cerita itu, terus search, kok ternyata bagus, jadilah dibikin konten buat video. Konten ‘Cerita Rakyat’ mengedukasi kami lebih dulu. Kalau ‘Kultum’ pada dasarnya emang sharing aja, tapi dikasih batas waktu tujuh menit, biar ngomongnya nggak ngalor-ngidul. Disetiap video yang di upload, kami pengen ada outcome yang positif dari video itu, entah menghibur atau mengedukasi, jadi kuota, waktu, dan effort yang dikeluarin buat nonton video kami tidak terbuang sia-sia.

Pertanyaan terakhir, gimana sih pandangan KKL tentang video-video youtube di Indonesia?

Kalau dari aku (Fabi) sendiri, mungkin selama ini banyak youtuber yang masih mementingkan popularitas, padahal kalau digunakan dengan baik dan benar, sebenarnya Youtube itu bisa menjadi wadah untuk kita berbagi informasi. Walaupun aku masih jarang liatnya di Indonesia, tapi semakin kesini semakin banyak channel-channel Youtube yang kreatif, kritis, yang tidak mementingkan popularitas tetapi lebih mementingkan bobot kontennya. Walaupun memang masih jarang, tapi sepertinya akan berkembang.

Nah, itulah tadi hasil obrolan tim folksy kemarin dengan Aya dan Fabi, anggota dari KKL, seru banget kan ngobrol sama mereka. Kalau kalian masih penasaran dengan mereka atau penasaran dengan video-video mereka, langsung saja buka youtube channel mereka di Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas. Selamat menonton!



Artsy People of The Month: Sombong


Beberapa waktu lalu, Tim Folksy ngobrol dengan Igi Anjangbiani atau biasa disapa Sombong. Singkat cerita, founder karakter Souka dan Sashi ini matanya sempat minus tiga, tapi enggan pakai kacamata. “Sempat dibilang begitu (sombong), karena dulu suka jarang nengok kalau disapa.” Ujarnya, saat menjelaskan kenapa Sombong dipilih jadi nama populernya hingga saat ini.

Jika kalian cek akun Instagram @sombong_ ada dua karakter hewan lucu dan ‘tidak biasa’ yang sering banget muncul di feeds nya. Satu adalah kucing bermata lima, satunya lagi yaitu kelinci tanpa mata, hidung, mulut, termasuk kumis. Mereka adalah Souka dan Sashi, urban toys ciptaan Sombong selain karyanya yang lain yaitu lukisan.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini tertarik dengan seni rupa sedari kecil. Igi atau Sombong yang lebih suka dibilang sebagai visual artist ini, aktif mengikuti pameran sejak tahun 2015. Sempat bercerita juga bahwa tahun 2017 kemarin, ia lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Selamat, Igi! Bulan Desember ini, Sombong adalah artsy people of the month yang dipilih Tim Folksy. Kami sempat tanya-tanya Sombong soal mengapa ia memilih medium untuk berkarya, arti mainan buat dia, sampai bayangan soal kalau saja saat ini tidak menggiati seni.

Igi Anjangbiani (@sombong_)

Ceritain dong tentang kesenian yang kamu giati. Sudah sejak kapan dan apa yang membuat kamu memilih medium yang bersangkutan?

Wah, banyak sekali. Pokoknya ada suatu masa di mana aku nyobain semua yang bisa kujangkau (berkaitan dengan seni rupa). Karena waktu kuliah tahun ke-dua, mulai ada kesadaran buat aktif pameran tapi nggak ada yang ngajakin. Akhirnya semua submission pameran yang bisa didaftarin aku ikutin, dari pameran post card sampe patung. Sekarang sedang cukup fokus bikin karya fine art, dua tahun terakhir lagi banyak ngulik “toys” dan lukisan, karena ya memang ternyata irisan kecintaan dan teknologi yang bisa kejangkaunya di dua medium itu.

Ceritain soal nama sombong

Wah, nama Sombong itu ceritanya panjang. Tapi kalau disingkat, intinya memang sempet dibilang begitu, karena dulu suka jarang nengok kalau disapa. Gara-gara sempet minus tiga tapi nggak pakai kacamata jadi nggak kelihatan kalau ada yang nyapa hahaha.

Mainan yang kamu buat, punya nama kah? Inspirasinya dari mana?

Ada dua karakter yang ada namanya, Sashi yang kelinci. Lalu ada Souka, kucing bermata lima yang suka muncul di graffiti yang kubuat.

Inspirasinya, kalau Sashi dari fakta yang aku temukan soal kelinci. Kelinci ternyata bisa mati gara-gara dikagetin doang, secemen itu. Gara-gara tingkat stresnya tinggi. Nah, sisi itu aku ambil jadi representasi rasa takut dan khawatir yang kualami. Kalau Souka yang kucing gara-gara aku suka kucing dan katanya nggak boleh kalau matanya satu (pernah dimarahin orang), jadi matanya lima.

Apakah dijual? Gimana caramu memberi nilai untuk karyamu?

Dijual dong, hehe. Kalau toys cara nentuin harganya yaitu dari ukuran dan dibantu konsultasinya oleh @so.toy. Kalau lukisan, aku dibantu juga sama orang yang sudah biasa pricing lukisan. Itu kalau nilai materi duit. Kalau nilai yang lain, ya itu kayak anak sendiri, sayang aja gitu.

Buatmu, mainan itu berarti apa dan seperti apa? Bayanganmu kalau di dunia ini nggak ada mainan?

Wah gila sih, mainan itu ternyata bisa diextend dari banyak wilayah visual maupun konsepnya. Bisa jadi seni dan bisa juga jadi banyak hal menarik lainnya. Kalau di dunia nggak ada mainan...nggak mungkin sih. Selama rasa bosan manusia masih ada, bentuknya aja yang terus berubah.

Sekarang lagi sibuk apa?

Sedang sibuk mencari uang, hehe. Nyiapin karya buat pameran pertengahan bulan ini (Desember) dan tahun depan. Juga masih sibuk nungguin satu pameran yang sekarang masih berlangsung.

Menurutmu, artsy itu apa dan yang gimana? Beda nggak kira-kira dengan definisi artsy yang berkembang sekarang?

Kalau yang aku tahu, artsy itu orang yang tertarik dengan seni. Beneran tertarik atau yang sekedar nampang doang. Aku bingung juga dengan istilah artsy sekarang, menurutku asal kontribusinya baik ke budaya dan seninya, nggak masalah.

Menurutmu, kamu artsy nggak?

Kalau definisi artsy sesimpel tertarik dengan seni, berarti aku artsy. Kalau beda lagi ya berarti belum tentu J

Menurutmu orang perlu punya ‘sense of art’ nggak di hidupnya, kenapa?

Hmm, bingung ya, sense of art aku nggak paham. Tapi yang penting adalah bisa memahami, segala sesuatu selalu berkenaan dengan sesuatu yang lain. Makna tunggal itu nggak ada dan harus sadar kalau melihat segala sesuatu, bisa nggak cuma dari satu sisi.

Motto hidup kamu?

Motto hidup yang coba aku kejar adalah jadi jujur, baik dalam hidup maupun bikin karya.

Apa yang kamu pikirkan akhir-akhir ini?

Yang aku pikirin akhir-akhir ini, bagaimana caranya makan obat pakai pisang dan mulai harus menerima kalau diriku memang tida berbakat ;(

Kalau lagi creative block, biasanya kamu ngapain?

Kalau kasusnya aku creative block, biasanya diawali dengan “pengen keliatan pinter”, diatasinya dengan damai sama diri sendiri dan jadi jujur sebisanya. Kalau nggak pinter yaudah nggak usah pura-pura pinter, hehe.

Mood penting nggak buat berkarya?

Penting. Aku kenal beberapa orang yang bisa bikin karya bagus kalau sambil mabok atau justru bagus banget kalau patah hati, galau, dsb. Kalau aku nggak bisa, harus dalam keadaan stabil. Kalau lagi nggak enak hati, biasanya nggak ngerjain apa-apa. Kecuali commission work yang deadline nya udah kelihatan mah yaudah gimana lagi harus dikerjain.

Kalau passion, penting nggak?

Passion penting, kalau memang cinta biasanya dia akan mengajari dirinya sendiri untuk jadi lebih baik.

Seandainya kamu nggak menggeluti dunia seni seperti sekarang, di bayanganmu kamu bakal berprofesi atau jadi apa?

Kalau nggak seni-senian aku sekarang sedang di kantor imigrasi, dideportasi dari Jepang karena tidak kredibel sebagai translator/guide dan pakainya visa liburan.


Gimana Folks, kamu yang lagi bingung mencari passion apakah jadi berniat pergi ke Jepang dan jadi translator? Hahaha. Selanjutnya, menurutmu siapa yang seru untuk diinterview sebagai artsy people of the month di Bulan Januari tahun depan Folks? Silakan kasih saran melalui direct message di akun Instagram @folksymagazine atau @folksypress ya. Nah, berikut ini adalah beberapa karya Igi berupa patung dan lukisan. Selebihnya, kamu bisa cek di akun Instagram @sombong_
enjoy!

Sashi

Ceritain sedikit dong tentang karya ini.

Ini adalah salah satu dari empat karya yang masuk dalam seri berjudul “kw” (2017). Visualnya berupa parodi alfamart tapi isinya adalah 'alfa mighty morphin power ranger'. Apa ya, bingung juga. Pokoknya itu adalah hasil dari upaya aku untuk ngulik soal humor, jadinya begitu. Minimal bisa bikin yang liat senyum dikit. Dasarnya memang aku suka karya yang kocak dan punya ambiguitas tinggi. Itu di Bandung, waktu itu bareng kolektif di mana aku tergabung di dalamnya, namanya @klub.remaja.



Ngobrol Bareng Javafoodie

Ketika kamu bepergian ke tempat baru, misalnya ke luar kota apa yang pertama kali kamu pikirkan Folks? Yup, makan apa yaaaa. Nah, di era digital saat ini, khususnya berkembangnya media sosial yang menekankan aspek visual, hastag dan lain sebagainya, jadi mengingatkan kita akan para foodgram. Sepertinya jasa mereka memang sangat kita butuhkan ketika sedang bepergian dan mencari rekomendasi kuliner di tempat tersebut, ya.

Fenomena foodgram, atau pendahulunya yaitu foodblogger memang sudah ada sejak beberapa tahun belakangan Folks. Jika kalian ingat, hal ini pernah diulas pada Folksy Magazine edisi 9 tahun 2016. Namun, saat ini pun obrolan tentang foodgram rasanya masih cukup relevan ya, mengingat jasanya pun masih bisa dilihat eksistensinya hingga saat ini. Pada waktu itu, Tim Folksy sempat ngobrol dengan salah satu foodgram yaitu @javafoodie, yuk simak obrolannya!

Siapa saja orang dibalik Javafoodie? Apa kegiatan kalian selain menggiati bidang ini?

Di Javafoodie ada dua orang, saya (Dadad Sesa) dan Aji Suhendra. Saya seorang penulis dan social media consultant. Aji seorang fotografer dan barista.

Kenapa membuat blog kuliner?

Awalnya, saya memang suka mengeksplor banyak spot makan, mulai dari yang tradisional, pinggir jalan, sampai kafe dan fine dining. Kebetulan, memang suka menulis dan mendokumentasikan perjalanan saya, jadi saya tuangkan ke blog yang lama kelamaan menjadi didominasi tentang makanan.

Menurutmu, apa bedanya foodblogger dengan foodgrammer?

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan istilah itu, apalagi perbedaannya. Toh, Instagram dapat dibilang micro blog juga layaknya Twitter. Foodblogger sendiri pad mulanya memang berasal dari blog seperti saya ini yang kemudian menjamah Instagram supaya lebih luas jangkauannya. Saya sendiri merasa dua media ini (blog dan Instagram) memang punya plus minusnya. Pada blog, saya lebih punya banyak ruang untuk menulis, sedangkan Instagram saya jadi lebih dekat dengan pembaca. Instagram pada akhirnya ya tujuannya untuk mengarahkan pembaca ke blog saya juga salah satunya. Mau Javafoodie dibilang foodgrammer atau foodblogger buat saya sama saja, itu cuma sebutan.

Apa keuntungan menjadi foodblogger atau foodgrammer?

Saya jadi punya kesempatan untuk belajar banyak dari orang-orang baru yang saya temui. Sesama foodblogger/foodgrammer dan pemilik-pemilik rumah makan, kafe dan sebagainya. Lingkar relasi semakin bertambah luas. Jogja nggak sempit-sempit banget ternyata.

Pengalaman unik yang pernah dialami selama menjadi foodblogger/foodgrammer?

Apa ya? Saya kebetulan sering banget memotret jajanan pinggir jalan, kadang ada beberapa penjualnya malu-malu. Paling epic di Tongseng Sudimoro, penjualnya langsung sembunyi masuk dan saya cuma kayak orang bego ngelihatinnya. Sampai akhirnya saya terpaksa foto makanannya saja.

Apa saja yang diperlukan untuk menjadi foodblogger/foodgrammer?

Yang jelas nggak boleh takut mencoba. Nyobain sebuah tempat dan berakhir kurang memuaskan itu wajar banget. Kemudian, harus humble juga sih. Foodblogger bukan kritikus makanan seperti di luar negeri, jangan merasa lidah lebih elit daripada orang lain karena kita kan cuma berbagi info dan pengalaman. Pada saranya selera orang beda-beda, jangan seenaknya kasih kritik yang tidak membangun, harus berdasar. Sama yang terakhir, harus banyak baca. Apalagi tentang food and beverage. Harus mau belajar masak juga sih, biar tahu gimana susahnya masak.

Sebutkan tiga tempat makan favorit di Jogja

Susah ya, pertanyaannya. Kayak ditanyain buku favorit apa. Saya sih suka banget Sate Klathak Mak Adi, Mie Aayam Goreng Seyegan, sama Gudeg Pawon.

 

Terbit di Folksy Magazine edisi 9 tahun 2016

Disadur dengan gubahan seperlunya.

Photo by: @javafoodie


Ngobrol sama Deidra, Soal Ngeramal sampai Media Sosial

Yup, waktunya rehat Folks!

Sehari-hari, apa sih yang biasanya kamu lakukan? Bekerja, kuliah, sekolah, atau melakukan aktivitas lain di luar mainstream? Jangan kira, kesibukan orang di luar sana hanya begitu-begitu saja ya Folks, termasuk tentang cara memandang sesuatu, atau pekerjaan. Nah, beberapa waktu lalu Tim Folksy bertemu dengan Deidra Mesayu di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 30 nih. Lalu kami ngobrol santai di stand Klub Bangsawan sambil sesekali ngintip ke booth Folksy Press kalau-kalau ada kalian yang mampir, hihi. Oiya! Kalian sudah ke FKY belum? Jangan-jangan ada yang sudah bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, tapi belum pernah ke FKY.

Hmm, lalu ada apa sih dengan Deidra? Perempuan delapan bersaudara ini terkenal dengan gambar-gambarnya yang artsy, cara berpakaiannya, bahkan kemampuannya meramal. Karenanya, Tim Folksy (F) kali ini ngobrol dengan Deidra (D) sebagai #artsypeopleofthemonth. Terlepas dari apa yang orang-orang lihat tentang Deidra, khususnya melalui akun Instagram miliknya @ramesayur, Tim Folksy pengen tahu gimana sih cara pandang Deidra soal berbagai hal.

F: Deidra kan narot (tarot), capek nggak sih dicurhatin orang-orang? Paling wow, pernah dicurhatin soal apa?

D: Capek! Tapi itu kan emang pekerjaanku. Hmm, waktu itu sama bapak-bapak dicurhatin soal urusan ranjang.

F: Deidra itu peramal atau seniman?

D: Nah, aku tuh pengen fokus bikin karya dan ngembangin merchandise ku. Merchandiseku itu akan kukembangin rencananya. Biar orang nggak bingung gitu lho. Oh deidra tu yang ramal terus nggambar itu ya, atau yang nggambar terus ramal itu ya.

F: Kamu ngerasa artsy nggak?

D: Emmm, ya. Kurasa aku artsy, karena memang dari dulu aku begini.

Dulu waktu sekolah, suka nggak pede sama bentuk tubuh, mau pakai (pakaian) ini dan itu nggak pede (percaya diri). Dulu sempat insecure. Terus, dulu waktu sekolah kerjaanku nggambar. Jadi buku tuh ya isinya coret-coretan, gambar. Nah, begitu kuliah, oke nih nggak ada matematika, aku bisa nggambar aja. Dulu tuh aku nyatet suka, tapi nggak ada yang nyangkut di otak. Tapi nyatet sukak..

Nah, jadi kurasa aku artsy. Karena aku bukan yang tiba-tiba begini, tiba-tiba pakai bajunya yang artsy banget. Aku dari dulu memang begini, dan lingkunganku juga banyak seniman, bahkan orang tuaku seniman, apalagi waktu aku masuk kuliah.

F: Deidra, dulu kamu pernah social media detox ya, ceritain dong. Soalnya, kalau dilihat dari Instagram kan kamu kelihatan banyak ya temennya.

D: Ehhh, yeah you can say that. Bahkan aku aja bangga sama orang yang ngelihat aku banyak temen di Instagram. Tapi kalau aku butuh uang, butuh makan, butuh cerita, butuh ketenangan batin, aku nggak ke followers ku itu. Dari 4.000, yang mau bener-bener doain aku tiap hari, apalagi kalau aku udah meninggal yang mendoakan dan peduli sama keluargaku itu yang mana aja, nggak semua. Dari awal aku kebanyakan melihat timeline sampai ngerasa semua itu bullshithahaha akhirnya aku uninstall.

Setelah itu, mikir tuh jernih banget, kamu jadi getting your priority straight.

Kamu mau ngapain hari ini di antara jam boker (buang air besar) sampai sikat gigi, lalu pakai baju tanpa buka Instagram tuh gimana. Aku tuh dulu parahnya sampai bawa handphone (HP) ke kamar mandi, mandi pakai musik, baca buku komik di HP, semua di HP apalagi kerjaanku yang ramal online.

Nah, yaudah dari pada aku buang ramal online ku, mending aku buang Instagram ku dulu biar aku ngerti mana yang harus kubaikin mana yang nggak.

Tapi akhirnya ada orang yang bilang ke aku, “Kamu jangan kayak anak alay gitu lah. Kamu tuh kayak anak SMP labil gitu, deactivate atau uninstall Instagram terus balik lagi. Biarkan itu tetap ada di HP mu tapi gimana kamu kontrol biar nggak buka aja. Kalau kamu rasa itu toxic, cukup nggak buka aja.” Gitu, tapi kadang kalau kebutuhanku uninstall yaudah.

Itu masa-masa menyenangkan sih, dimana aku jadi lebih dekat sama teman-temanku.

Aku ngerasa kehilangan banyak waktu karena social media, ya sesimpel lagi makan bareng tapi masih ngecek (social media) gitu lho. Kan nyebelin ya?

F: Kamu tipe yang ingin berubah buat diri sendiri atau ngajak orang lain biar terinspirasi?

D: Dua-duanya. Prioritas pertamaku tetap buat diriku. Kalau aku senang, semoga orang lain terinspirasi. Nah tapi kalau pengen orang lain terinspirasi, cukup kudiemin aja, nggak usah gembar-gembor ternyata mereka terinspirasi sendiri kok. Nggak usah trying hard buat menginspirasi. Kayak orang yang pengen banget viral malah nggak viral. Terus mereka bilang, resep viral itu adalah jangan berusaha viral.

F: Kamu kalau berefleksi suka di mana? Suka jalan-jalan nggak?

D: Olah raga, karena kita fokus dan sambil mikir juga. Misal lari-lari, atau zumba, gitu enak. Aku suka jalan-jalan kalau ada uangnya. Aku lebih suka jalan-jalan sambil urusan kerjaan. Misal ke Jakarta dibayarin buat pameran, atau emang urusan pekerjaan jadi orang tuaku mengijinkan aku lebih merasa enak.

F: Oh Deidra tipe yang nurut sama orang tua ya? Atau kalau merasa benar lakuin aja begitu?

D: Dua-duanya juga. Kalau aku rasa orang tuaku sudah selalu bilang sesuatu, instingnya kok kebeneran terus mereka, aku nggak berani lagi maksain pikiranku. Tapi aku kadang maksain pikiranku karena nggak enak sama orang lain. Misal aku terlalu percaya sama teman, orang tua bilang ngapain kamu tuh percaya banget sama orang itu. Kadang first impression orang tua tuh lebih jeli. Nah kadang bundaku ngeluarin kalimat tuh blak-blakan, kalau ngomong direct banget, nurun ke aku sih hahaha. Kadang ya aku berusaha positif thinking, tapi aku temenan dari kecil sampai sekarang kok ya yang bundaku bilang bener terus. Temanku yang kubela mati-matian karena kukira baik, ternyata bundaku tahu kalau mereka bakal jahatin aku.

F: Padahal orang-orang tahunya kamu seperti rebel gitu ya?

D: Iya kayak pemberontak gitu ya? Nggak, aku anak manis.

F: Pernah ada orang underestimate? Ceritain soal pertemanan kamu.

D: Ya, misal di Klub Bangsawan kan cewe-cewe berjilbab semua, nah lalu aku begini nih (penampilan). Pernah ada temannya Mbak Riri bilang, “Deidra tuh anaknya seks bebas ya?” Nah, temanku marah, mereka belain aku, kamu nilai dia dari pakaiannya doang? Deidra malah yang paling polos dari kami semua, gitu.

Makanya, teman-temanku yang sekarang ini kurasa harus kupertahanin sampai selama-lamanya. Ya karena mereka nggak kayak teman-temanku cowo waktu SMA dulu yang begini: wah iya Deidra bisa ‘dipakai’ kok. Dulu teman-temanku pada begitu, jadi akunya seperti objek. Seperti anjing yang ditendang-tendang gitu, haha.

Sekarang, nemu cewe-cewe yang lebih dewasa dan sayang aku, ngerawat aku, kalau ketemu teman-temanku yang setipe juga langsung sayang. Itu menurutku sesuatu yang membahagiakan sih.

F: Padahal banyak yang bilang kalau cewe temenan sama cowo-cowo itu bakal lebih asyik ya?

D: Nggak juga, tergantung itu tadi.

Nah aku jadi mau cerita tentang bedanya prasangka buruk sama insting. Prasangka buruk itu misalnya kamu berteman sama aku, terus aku bikin salah dan minta maaf. Besoknya waktu aku ngajak main kamu mikir ah deidra nih, jangan-jangan dia mau gitu lagi. Nah itu artinya kamu nggak percaya sama permintaan maafku

Tapi kalau insting, dari awal kamu ketemu udah ngerasa kok hatiku nggak nyaman ya, kok aku takut sih, kok keliatannya matanya jahat ya, kok ngeliatin atas bawah ya. Nah itu insting.

F: Sekarang Deidra lagi suka makan apa?

D: Aku mi! Aku sukak banget mi, apapun yang bentuknya mi aku suka. Sukak mi jawa, spaghetti, mi ayam, semuanya suka!

F: Share tips fashion dong, kalau beli-beli baju di mana sih?

D: Jadi, aku tuh sebenarnya jarang belanja yang beli tuh bundaku dan aku selalu dapat lungsuran (bekas) dari kakakku, atau bapakku, kakak sepupuku. Bundaku juga ngerawat bajunya baik-baik sih. Ini baju bunda waktu kuliah dulu, masih bisa dipakai. Nah bundaku tipe yang kalau beli baju bingung warna apa, beli semua hahaha.

Kalau menurutku Pujha tuh oke, tapi aku nggak kuat milih lama-lama, hahaha. Aku mending second-an dari temenku, jadi yang udah dikurasi temenku.

Aku kalau pakai baju sesuai mood dan nyaut, jadi apa yang ada di lemari kupakai.

 

Jadi itulah beberapa obrolan Tim Folksy dengan Deidra di FKY 30, Folks. Gimana, apakah kamu juga ingin social media detox habis ini? Atau yang sudah beberapa kali tahu Deidra, langsung kaget oh ternyata begini ya orangnya. Hmm, lalu Tim Folksy sempat bertanya kira-kira siapa nih orang yang seru buat diajak ngobrol selanjutnya? Deidra sudah sebut satu nama, tunggu #artsypeopleofthemonth selanjutnya ya!



Writer: Angela Shinta D. P.

Photo: Yasmine Sani Pawitra


Mencintai Produk Indonesia Ala Lookall Id

Unik, itulah kata yang pertama kali terlintas di benak Tim Folksy ketika bicara soal Lookall Id. Coba intip akun Instagram Lookall Id, kamu akan temukan sweater berdesain ayam jago, kaos kaki gambar kaleng kerupuk, dan barang lain yang bisa membuatmu terlihat estetik untuk mejeng di malam Minggu. Tampaknya, mengubah barang-barang biasa menjadi lebih unik, adalah ‘rebel’ versi Jaka, sosok dibalik brand yang berdiri sejak tahun 2015 itu. Serunya, Tim Folksy mendapatkan kesempatan untuk ngobrol langsung dengan doipenasaran?

Q: Apa sih tema dan hal yang melatarbelakangi Jaka bikin ini?

A: Sebenarnya tema yang diangkat bukan hanya makanan sih, tapi apa aja yang ada di keseharian yang  Indonesia banget. Latar belakang bikin ini sebenarnya adalah kejenuhan saya melihat tema lokal yang itu-itu saja pada berbagai brand Indonesia. Seperti tema pahlawan, tokoh, dan lainnya yang disajikan gitu-gitu saja. Padahal, Indonesia punya banyak objek menarik yang bisa diangkat, jika digali lebih dalam lagi. Seperti halnya spanduk pecel lele, mungkin kita sering menemukan dan melihat spanduknya tiap hari, tapi terkadang kita cuek gitu aja. Padahal itu adalah salah satu kearifan lokal yang Indonesia banget. Dari sana saya terpikir untuk membuat sebuah brand dengan mengangkat tema-tema yang ada di keseharian yang pastinya Indonesia banget, tapi dikemas dalam sebuah produk yang hype ala generasi millennial sekarang.

Q: Kenapa namanya Lookall?

A: Kenapa namanya Lookall? Itu sebenarnya gabungan antara LOKAL dan LOOK ALL mungkin definisi singkatnya adalah melihat semua kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kayaknya gitu.

Q: Craft apa saja yang dibuat Lookall? Apakah yang terpampang di Instagram saja?

A: Iya untuk sementara yang terpampang di Instagram saja, tapi dalam waktu dekat kita bakal ngeluarin beberapa produk baru lainnya. Stay tuned!

Q: Sejak kapan sih Jaka bergelut bersama Lookall.id? Apa ini bagian dari mencintai produk lokal?

A: Lookall Indonesia berdiri sejak tahun 2015. Yaps, mungkin ini salah satu cara untuk mendekatkan produk lokal Indonesia ke masyarakat yang lebih luas dan dari sana diharapkan tercipta rasa peduli dan mencintai produk dalam negeri. Selain itu produk ini juga diharapkan nantinya tidak hanya dinikmati orang Indonesia saja tapi dapat dinikmati orang luar Indonesia. Syukur-syukur bisa ngenalin Indonesia lebih jauh lagi di mata dunia.

Q: Gimana respon orang-orang terhadap apa yang Lookall tampilkan? Banyak kah yang berminat sama produk Lookall?

A: Alhamdulillah, untuk respon sangat positif dan lumayan banyak yang tertarik sama produk Lookall. Selain itu, banyak cerita seru yang datang dari orang-orang yang pakai produknya Lookall. Seperti halnya “Baju Kerupuk” yang kita buat, menimbulkan banyak cerita seru. Contohnya ada beberapa pelanggan kami yang cerita pada saat memakai produk tersebut, dia menjadi salah satu bahan perhatian orang-orang dan terkadang ditanyain, “Bang kerupuknya berapaan?” atau “Mbak, hati-hati kerupuknya melempem,” haha.. Dari sana mungkin bisa dikatakan kalau produk ini sudah mampu menarik perhatian dan diharapkan semakin banyak orang yang berminat terhadap produk Lookall.

Q: Dari sekian craft yang sudah dibuat, mana yang paling favorit?

A: Mmhh, mana ya?  Kayaknya digemari semua karena barangnya sudah pada sold out.

Q: Adakah rencana besar untuk Lookall?

A: Rencana besar? Apa ya? Mungkin angan-angan aja lah suatu saat nanti Lookall menjadi salah satu brand fashion setingkat dunia yang bertemakan Indonesia dan turut serta mengenalkan Indonesia di mata dunia.

Q: Pesan Jaka melalui brand Lookall?

A: Lihat di sekeliling kita, banyak kearifan lokal di dalamnya dan banyak objek-objek unik, menarik, dan terkadang menggelitik yang belum tentu di negara lain punya. Indonesia tidak hanya kaya akan budaya dan adat saja tapi objek-objek di dalamnya pun sangat beragam, maka dari itu hargai dan cintailah Indonesia!
 




Photo source: https://www.instagram.com/lookall_id



Recent Post
Categories