JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



All Categories

Folksy DIY Tutorial: Washi Tape Rosette Badge

Kalian suka koleksi washi tape? begitu sudah ada "segunung" trus bingung mau buat apa aja? Gimana kalau kita bikin rosette badge aja? Nih tim Folksy punya tutorial bikinnya :)



Seniman Atau Pengrajin? Yang Penting Sih Rajin

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010, dalam sebuah wawancara oleh sebuah koran di Jakarta, saya pernah ditanya bagaimana saya melihat diri saya, seniman atau pengrajin. Dengan cepat saya jawab pengrajin, karena saya sadar sekali betapa saya memulai proses berkarya saya berasal dari sana. Tidak hanya dalam membuat produk namun juga komunitas dan pasar yang saya ikuti baik di Jakarta maupun di luar Indonesia.

Saya masih ingat bagaimana semangatnya saya saat diajarkan membuat sabun berbungkus pita menggunakan jarum pentul di bangku Sekolah Dasar dulu. Yang kemudian saat di bangku Sekolah Menengah ada trend jepit rambut dari pita yang saya juga pelajari dengan penuh semangat dan kemudian bahkan berani mulai menjual jepit rambut pita tersebut kepada tetangga dan bibi serta teman ibu saya. Hingga di tahun 2004 saat saya melihat trend korsase dari felt di Jakarta waktu itu,saya pun mulai menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membuat kelopak bunga yang paling sempurna di seluruh jagat raya untuk korsase felt buatan saya. Saya juga masih ingat saat dengan malu-malu memperlihatkan kepada seorang teman sekotak felt korsase buatan saya yang langsung dengan penuh semangat teman saya itu menawarkannya pada teman-teman kantornya. Atau seorang teman lain yang memiliki sebuah toko furniture juga menawarkan untuk menjualkannya di tokonya. Itulah pertama kali saya mengenal yang namanya membuat sesuatu dan menjualnya kepada orang lain. Tidak mudah, bukan karena saya merasa kesulitan menentukan harga atau menjualnya kepada siapa, tapi lebih kepada betapa beratnya ternyata merelakannya menjadi milik orang lain! Haha!

Perasaan sulit berpisah dengan karya buatan tangan masih berlanjut sampai pada tahun 2008 saat saya mulai melihat kolase sebagai medium membuat karya seni setelah sejak tahun 2000 saya hanya melihat kolase sebagai cara untuk membuat zine saja. Lewat blog seniwati-seniwati kolase dan mix media seperti Lisa Congdon, Mati Rose dan Karena Colquhoun, saya melihat lagi bagaimana kolase kemudian bisa menghasilkan karya yang sangat cantik dan membahagiakan tidak hanya di mata tapi juga di dada pembuatnya. Karenanya kemudian mulailah saya menghabiskan berjam-jam setiap pulang kantor membuat kolase hingga kemudian berpameran dan juga membuat lokakarya hingga hari ini dan disebut sebagai seniman kolase kemudian. Dan walaupun saya masih sulit berpisah dengan beberapa karya kolase yang saya buat, namun saya juga sadar bahwa kalau saya tidak menjualnya lalu mau saya taruh dimana?Karena ruangnya sudah tidak ada, sementara saya juga butuh uang. Jadi mari realistis sajakan?

Jadi kembali ke pertanyaan diatas, apakah saya seniman atau pengrajin?saya akan bilang saya keduanya.Walaupun ada bedanya tentu saja. Misalnya saya membuat karya kolase untuk pameran, membuat produk kriya untuk dijual. Tapi toh karya kolase yang dibuat untuk pameran juga kemudian dijual kan? Atau saya ada pesanan membuat produk kriya untuk souvenir pernikahan, saya juga menerima pesanan kolase untuk dekorasi kantor teman. Kemudian kalau kolase hanya ada satu buah karya asli, karya kriya saya walaupun jumlahnya banyak namun tetap tak akan pernah cukup banyak untuk bisa dibilang produk massal. Artinya, tetap ada eksklusifitas disitu kalau memang mau bicara eksklusifitasya. Lalu kebutuhan akan artisan. Sebagai pengrajin saya sangat bergantung pada artisan untuk banyak produk kriya saya, sama seperti kebutuhan saya saat mau berpameran akan artisan yang membuat bingkai dan membantu pemasangan display pameran saya.  Iyakan?

Lalu kalau kita bicara tentang cerita karya dan produk kriya yang kita buat, semuanya ada ceritanya walaupun perspektif ceritanya berbeda. Bisa lewat konsep karya, bisa lewat bahan untuk kriyanya. Artinya produk itu baik karya seni atau kriya, mereka bukan produk kodian atau buatan massal yang bisa dibeli di mal atau department store. Dengan publik yang masih belum banyak mengerti proses pembuatan sebuah karya seni atau kriya buatan tangan, mengedukasi publik untuk seorang seniman dan pengrajin menjadi beban yang bisa dibagi bersama agar publik mengerti kenapa karya dan kriya buatan kita nilainya berbeda dengan apabila mereka membeli produk massal. Karena walaupun dengan banyaknya market atau bazaar art & craft seperti sekarang menurut saya tidak lantas berarti publiknya sendiri mengerti tentang produk atau karya yang mereka beli selain karena mereka menyukai tampilannya. Apalagiya? Oh proses kurasi. Apabila di galeri atau pameran ada kurasi, di banyak art & craft market juga banyak yang mengaplikasikannya terlebih apabila memang ada tema tertentu dari market tersebut. Belum lagi kalau bicara profesionalisme, seniman dan pengrajin saya percaya memiliki ekspektasi yang sama dari klien atau pembeli mereka.

Iya kan, hampir tidak ada bedanya menjadi seniman atau pengrajin pada akhirnya. Kita semua ingin bisa hidup dari karya atau kriya yang kita buat karena kita senang membuatnya. Toh intinya sama, berkarya dengan gaya dan keterampilan yang kita miliki dan pelajari sampai hari ini. Sama-sama bergengsi, sama-sama bikin bangga. Hanya sekarang pertanyaannya mau jadi seniman dan pengrajin seperti apa kitanya?

Kalau saya mau jadi seniman dan pengrajin yang rajin, karena rajin membawa banyak manfaat di dunia dan akhirat.

“Saya percaya semua orang kreatif, tapi memang tidak semua orang rajin.”

 Ika Vantiani  


Artikel ini pernah dipublish di Folksy Magazine 


You are perfect, everything is just only in your mind

Kalian pernah menonton film berjudul I Feel Pretty (2018)? Bukan termasuk film box office sih, tapi aku memang lebih suka menonton film yang tidak ada di daftar tontonan wajib kekinian. Random saja, apapun yang sepertinya menarik aku tonton. Film komedi romantis yang dikemas dengan sangat ringan, buat hiburan ‘receh’ kalau bisa dibilang. Sudah bisa ditebak dari judul dan poster kalau film ini bercerita tentang seorang perempuan yang ingin terlihat cantik. Yups betul sekali! Ceritanya tentang perempuan yang merasa minder karena dia merasa jelek dan gendut. Suatu ketika saat si perempuan itu mengalami kecelakaan kecil di sebuah gym, tiba-tiba dia merasa tubuh dan wajahnya berubah menjadi sangat cantik, serta menarik. Disinilah semuanya dimulai, perempuan itu menjadi sangat percaya diri hingga mendapatkan pekerjaan yang diharapkan dan kekasih yang diidamkan. Padahal dalam kenyataannya, kondisi badannya tetap sama seperti dia yang dahulu, tetap tambun. Ujung dari konflik film itu adalah ia menyadari bahwa selama ini dirinya tidak pernah berubah, tetap sama. Hanya pemikirannya saja yang membuatnya merasa sempurna, cantik, berbadan bagus, sehingga berani menampilkan diri apa adanya. Keberuntungan untuk mendapatkan pekerjaan yang dia sukai bukan karena ia berpenampilan bak model, tetapi karena keberaniannya untuk mengutarakan pendapatnya dan selalu memiliki ide cemerlang sehingga disukai oleh bosnya. Bukan juga karena dia cantik dan langsing, sehingga akhirnya mendapatkan seorang kekasih. Namun, pembawaannya yang menyenangkan dan lucu, jadilah ada laki-laki yang suka dan mau menjadi kekasihnya.

Ternyata perasaan dan gambaran cantik atau tidaknya diri kita hanya ada di pikiran saja, atau bisa dibilang hasil dari konsep diri. Apakah itu konsep diri? Konsep diri adalah pandangan individu tentang dirinya, meliputi gambaran tentang diri dan kepribadian yang diinginkan, diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik atau psikologis. Calhoun dan Acocella (1990) juga menjelaskan bahwa konsep diri terdiri atas tiga hal yang meliputi: pengetahuan terhadap diri sendiri (real-self), pengharapan mengenai diri sendiri (ideal-self), yaitu pandangan tentang kemungkinan yang diinginkan terjadi pada diri seseorang di masa depan, dan penilaian tentang diri sendiri (social-self), yaitu penilaian dan evaluasi antara pengharapan mengenai pribadi seseorang dengan standar dirinya yang menghasilkan harga diri, yang berarti seberapa besar orang menyukai dirinya sendiri.

Konsep diri ini bisa berubah sepanjang kehidupan dan kemauan tiap orang. Apakah konsep diri kita positif atau negatif, semua pribadilah yang mengendalikan. Konsep diri positif biasanya menunjukkan adanya penerimaan diri dimana seseorang mengenal pribadinya dengan sangat baik. Jadi, ketika kita berpikir bahwa diri kita cantik dengan segala yang dipunyai, kita jadi fokus pada hal positif sehingga diri menjadi lebih bahagia. Sedangkan, seseorang yang memiliki konsep diri negatif ketika ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya, atau yang dihargai dalam kehidupannya. Ketika kita merasa tidak cantik ataupun menarik, imbasnya membuat pribadi menjadi pesimis, minder, tidak bisa mencintai diri sendiri, bahkan tidak memiliki penghargaan terhadap diri sendiri. Sehingga, kita lupa kalau sebenarnya ada nilai positif di dalam diri sendiri yang justru tidak bisa dilihat oleh orang sekitar. Nah bagaimana, konsep diri seperti apa yang ingin kalian miliki? apakah kalian sudah berani mengubah konsep diri kalian?


Artikel ini pernah dipublish di Folksy Magazine edisi 16.


Studio Vlog: DIY Selotip Kain

Hai folks, kami masih suka bebikinan lho meskipun sudah tidak dimasukkan di majalah Folksy, sebagai gantinya, DIY kami dimasukkan di Youtube channel Folksy Press. Kalian sudah subscribe belum? Kalau belum, buruan gih! :) 



Maybe it’s time to discover yourself more

Folks, apa yang kamu lakukan ketika perasaan-perasaan tidak mengenakkan datang? Seperti sedih, gelisah, merasa tidak menambahkan nilai apa-apa terhadap apa yang dipercayakan padamu, atau perasaan bahwa kamu adalah yang terburuk dari sekian banyak kolegamu. Mengutip kalimat dari Adjie Santosoputro, seorang ahli di bidang self healing and mindfulness, bahwa seperti halnya bahagia, perasaan-perasaan sedih juga butuh kita terima dan rasakan.

Setelah menerima perasaan tidak mengenakkan itu, coba kita melihat ke dalam sendiri. Kira-kira, apa yang menyebabkan berbagai perasaan dan pikiran negatif itu muncul? Sebagian orang memilih jalan-jalan ke tempat yang jauh dan belum pernah dikunjungi sebelumnya. Menyenangkan memang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya, kan? Mari coba terlebih dahulu cara sederhana ini. Kamu butuh selembar kertas dan pena untuk menuliskannya satu demi satu. Pertama, ceritakan yang kamu rasakan dan pikirkan. Tuliskan semuanya, bahkan sampai selembar hingga dua lembar kertas tidak cukup lagi. Setelah itu, ceritakan juga apa yang membuatmu merasakan dan memikirkannya. Apakah pekerjaanmu, atau keseringan membuka media sosial, atau kekhawatiranmu terhadap masa depan? Ceritakan.

Sekarang, waktunya kamu menyortir. Apa saja hal-hal yang harus kamu kurangi dan kamu tambah, supaya kamu merasa lebih baik. Apakah itu seorang teman yang akhirnya kamu rasa memberikan pengaruh negatif? Atau mungkin pikiran-pikiranmu sendiri yang terlalu khawatir tentang hal-hal kecil membuatmu jadi kurang bersyukur? Coba timbang-timbang, mungkin saja kamu juga menemukan bahwa kamu perlu mengubah rutinitas. Kamu mungkin ingin mencoba yoga, mengikuti komunitas baru, bahkan mungkin melakukan hal yang selama ini menjadi ketakutanmu.

Setelah kamu memetakan dan menyortir, putuskan tindakanmu! Mari buat list yang berisi aktivitas konkret berdasarkan apa yang sudah kamu dapatkan dari menyortir. Jika kamu merasa lelah karena begadang tanpa alasan yang jelas, lalu di pagi hari merasa tidak semangat, coba cari cara-cara mengatasinya. Misalnya, minum susu hangat sebelum tidur, kemudian memilih jam tidur tidak diatas tengah malam. Jangan lupa untuk tetap konsisten melakukannya ya. Menurut penelitian, sesuatu yang dilakukan berulang-ulang selama 21 hari akan menjadi sebuah kebiasaan baru. Nah, tidak ada salahnya kan memiliki kebiasaan baru yang lebih positif? Kenali dirimu lebih jauh, jika kebiasaan tersebut membuatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, kamu berhasil.

Biasanya dengan memetakan seperti ini, semuanya akan kelihatan lebih jelas Folks. Kamu pun jadi lebih mengerti apa sebenarnya yang kamu inginkan. Apalagi, ketika kamu memutuskan mencoba hal yang tidak pernah kamu duga-duga sebelumnya, adrenalinmu jadi terpacu, ada kejutan-kejutan kecil saat kamu mencobanya. Aku pun melakukannya Folks, tahun kemarin adalah pertama kalinya aku mencoba facial. Hal ini kuputuskan karena salah satu hal yang membuat mood ku tidak baik di pagi hari adalah jerawat membandel yang kulihat di kaca tiap akan memulai aktivitas. Facial untuk pertama kali, rasanya sangat menyenangkan, aku pun turut menebak-nebak apa yang akan dilakukan selanjutnya kepada wajahku, hahaha.


P.S. Artikel ini pernah dimuat di Folksy Magazine edisi 17


Play with scarf

Kalian suka pakai scarf tapi bosan kalau dipakai seperti biasanya? Coba intip foto dari Folksy berikut, siapa tau menginspirasi kalian untuk pakai scarf dengan gaya lain ;) Enjoy!




Credit:

Photographer: Luthfi Satya | G: @luthfisatya
Stylist: Olla Agustia Leriani | IG: @olla.tia
Model: Muthia Pratamadea | IG: @mpratamadea
Scarf: Start From The Bottom | IG: @startfromthebottom
Earring: Frigiliana.id | IG: @frigiliana.id
Venue: Sumringah | IG: @sumringahid


Hello Stranger, How Are You?


Semasa kecil, orang tua membatasi kita untuk berinteraksi dengan orang asing, bahkan bagi orang tua yang over protective, mereka memberikan doktrin bahwa orang asing itu berbahaya dan anak-anak dilarang bermain dengan orang asing. Ditambah lagi, pada masa saya kanak-kanak, populernya film Sherina yang diculik oleh orang yang pura-pura menjadi kenalan orang tuanya, membuat saya pribadi semakin parno dengan orang asing. Sebenarnya doktrin dari orang tua tadi merupakan usaha preventif yang baik, namun apabila berlebihan sepertinya dapat menumbuhkan kepribadian malas bersosialisasi alias anti sosial.

Nah, dewasa ini, menyapa dan berkenalan dengan orang asing sudah tidak semenakutkan itu, loh. Ketika menunggu bus, menunggu hujan, menunggu antrian, selalu dihabiskan untuk bermain gadget, membaca buku, atau sekedar melamunkan entah apa itu. Lalu-lalang orang-orang terabaikan, menjadi individual dan larut dalam kepentingan pribadi, seakan dunia ini hanya tentang kita dan kita sendiri. Daripada hanya terkekang dalam keheningan tak berarti, bukankah lebih baik menyapa atau berbicara dengan bahasa manusia?

Kio Stark dalam TED Talks menyebutkan dua hal yang menjadi kelebihan dari berbicara dengan strangers; Yang pertama adalah kita dapat membicarakan hal apa saja, berkata jujur tentang hal yang cukup receh, hingga hal-hal pribadi. Pertemuan singkat, dan kemungkinan untuk bertemu lagi di kemudian hari kecil, maka konsekuensi ceritamu akan tersebar pun juga kecil; Kedua, hubungan kita dengan orang-orang terdekat menimbulkan bias tersendiri, kita berekspektasi bahwa mereka sebagai orang  terdekat sudah sangat mengerti kita, seolah-olah mereka memiliki kemampuan untuk membaca pikiran saja. Ketika dengan orang asing, sudah pasti mereka tidak tahu semua hal tentang kita, member sedikit penjelasan juga akan memberikan mereka sedikit pemahaman, tidak perlu repot-repot berharap mereka mengerti kita secara mendalam. Nah, dari dua hal tersebut sudah terlihatkan bagaimana unik dan serunya pengalaman yang akan kita alami ketika bercengkerama dengan orang asing!

Kemudian, untuk memulai pembicaraan, Kio Stark menyebutkan bahwa biasanya pembicaraan dimulai dengan topik yang mengacu pada pihak ketiga. Misal bagaimana kita memberikan compliment terhadap apa yang ia pakai, betapa lucu kucing yang dia pelihara, atau anak berumur dua tahun yang ia ajak jalan-jalan ketaman.

“When you talk to strangers, you’re making beautiful interruptions into the expected narrative of your daily life and theirs.”- Kio Stark

Untuk menanggapi kutipan tersebut, saya ingin menceritakan sedikit “beautiful interruptions” yang pernah terjadi pada saya. Saya sendiri selalu mengalami percakapan menarik dengan orang asing di bandara, dimana setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, bagaimana mereka mengejar waktu penerbangan yang ternyata malah delay, bagaimana mereka merasakan dan memaknai perpisahan untuk merantau, bagaimana mereka mempersiapkan yang mereka tuju, percakapan-percakapan seperti itu sangat menarik bagi saya. Pernah suatu hari, di bandara, saya diceritakan pengalaman religious dari seorang ibu yang menjadi TKW Taiwan, topic pembicaraan kami dimulai akibat saya secara ceroboh memasukkan barang-barang bagasi kedalam mushola. Kemudian beliau bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya, meski saya sedikit tidak percaya, namun tetap dengan antusias mendengarkan karena semangat yang dibawa beliau.

Kemudian juga terjadi perbincangan saya dengan pria 30 tahunan yang baru saja mengisi seminar kewirausahaan di kota tempat kami bertemu, juga akibat pihak ketiga yaitu delay-nya penerbangan. Banyak hal yang kami bicarakan, dari masalah kota yang relate dengan kuliah yang saya pilih sekarang, hingga kuliah dari beliau agar saya lebih peka dalam melihat peluang berwirausaha, di setiap kesempatan. Dari kedua cerita tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa interupsi dari orang asing memang betul indah, bagaimana mereka dapat menyebarkan semangat walaupun kita tidak saling mengenal, pun saya mendapatkan banyak hal yang benar-benar baru, bahkan bias dibilang kuliah/seminar gratis, hahaha.

Berinteraksi dan berbincang dengan orang asing selalu akan menjadi menarik; Menambah hal-hal baru sebagai pengetahuan baru; Belajar mendengarkan cerita orang lain dan mengajarkan kita untuk tidak melulu menjadi pribadi yang egois yang merasa bahwa dunia ini hanya tentang kita; Menambah kenalan baru atau mungkin kalian memang ditakdirkan bertemu, seperti yang terjadi pada film Hello Stranger dari Thailand (silakan ditonton sendiri karena saya tidak ingin memberikan spoiler).

Lalu, berbicara dengan orang asing tidak perlu tahu siapa namamu, di mana kamu tinggal, pembicaraan akan mengalir secara menarik ketika membahas hal-hal acak, dari topik yang sedang hangat, hingga hal-hal aneh sekalipun. Bagaimana? Tertarikkah untuk memulai percakapan dengan orang asing? Siapa tahu yang kamu sapa besok adalah penulis artikel ini.



Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas


"Intro"

"slow music"

Clap (tepuk tangan satu kali)

Siapa yang familiar dengan opening video di atas? Ya benar, itu tadi adalah opening video-video dari channel Youtube bernama Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas, atau biasa disingkat dengan KKL, atau mereka sendiri lebih sering menyebut diri mereka qql.

Hah, apa tadi? Kok lampu lalu lintas, memangnya siapa sih mereka? Kemarin tim folksy berkesempatan untuk ngobrol dengan Aya dan Fabi, dua dari tiga anggota KKL. Nah, simak obrolan kami dengan mereka yuk, Folks!

Halo KKL! Kenalan dulu dong, kalian ini sebenernya siapa sih?

Halo halo, kami dari, kelompok kolektif lampu-lalu-lintas. Kita bertiga, ada aku (Aya) lampu merah, ada Fabi lampu kuning dan Fasya lampu ijo. Jadi di channel youtube qql itu ada video-video yang menggemaskan, hehehe. Video yang sebenarnya nggak penting, tapi, kita merasa itu penting. Topiknya bisa macem-macem, mulai dari seni, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Tapi sebenarnya lebih banyak tentang seni dan gaya hidup sih.

Awalnya gimana sih, kok bisa terbentuk KKL?

Jadi, kami dulu pernah satu sekolah, aku sama Fasya pernah satu ekskul, jadi aku tahu kalau dia suka hal-hal tentang seni juga. Waktu kita kelas 11, Fabi pindah sekolah. Nah, justru pas Fabi pindah, kita bertiga jadi deket. Hampir setiap minggu ketemuan, biasanya main ke pameran atau acara di jakarta bareng-bareng. Akhirnya bikin nama geng dan merintis karir jadi Youtuber.

Kok namanya bisa KKL, gimana sejarahnya?

Dulu namanya sempat The Lampu Merah, gara-gara pas ada acara ulang tahun temen yang temanya retro, kita bertiga sama-sama pakai turtle neck merah, kuning, dan ijo. Dari situ, kami menamai diri kami The Lampu Merah, tapi terus ganti jadi lampu lalu lintas karena sebagai Aya, si lampu merah, aku merasa spotlight nya di aku, padahal yang lain juga kerja untuk video-video kami di Youtube. Selain itu, kami ingin pakai istilah sebenarnya bukan istilah sehari-hari, jadi lampu lalu lintas bukan lampu merah lagi.

Ceritain dong, gimana awalnya sampai KKL buat video-video di Youtube?

Sebenarnya waktu KKL ada, kita nggak pernah sampai berpikiran untuk bikin video di Youtube. Waktu itu karena aku (Fabi) lagi siapin kado untuk acara tukar kado yang videonya ada di channel youtube KKL itu, awalnya spontan aja, pas itu liat ada kamera, terus ya ingin mengabadikan aja. Lalu, edit-edit videonya, dulu pertama kali di upload di channel pribadi aku, terus kepikiran, kenapa nggak coba bikin channel baru aja, dengan nama kita, qql.

Konten video-video KKL kok bisa unik gitu, apa emang ide kontennya sengaja dibikin beda?

Kami sebenarnya bikin konten video, tentang video yang pengen kita tonton. Seperti video ‘Pamer Barang : Pasar Baru’ misalnya, kami suka nonton thrift haul dari Youtuber luar negeri, dan di Indonesia sepertinya hal itu masih baru. Karena Fabi udah biasa thrifting kami akhirnya bikin video tentang thrift haul ala kami sendiri. Lalu, video KKL pertama, ‘Tuker Kado’, itu sebenarnya pengen ikutan video-video unboxing tapi dengan twist isi kado adalah barang-barang dari rumah sendiri. Kalau video yang ‘Sedetik Sehari’ Fabi duluan yang punya ide, dia udah sering bikin video-video ‘Sedetik Sehari’, pas KKL punya channel youtube, langsung deh di propose jadi project bulanan.

Kalau konten video seperti ‘Cerita Rakyat’ dan ‘Kultum’ emang dibuat untuk seru-seru an aja, atau mau kasih edukasi ke viewers juga?

Kalau cerita rakyat, awalnya kami juga nggak tau tetang cerita itu, terus search, kok ternyata bagus, jadilah dibikin konten buat video. Konten ‘Cerita Rakyat’ mengedukasi kami lebih dulu. Kalau ‘Kultum’ pada dasarnya emang sharing aja, tapi dikasih batas waktu tujuh menit, biar ngomongnya nggak ngalor-ngidul. Disetiap video yang di upload, kami pengen ada outcome yang positif dari video itu, entah menghibur atau mengedukasi, jadi kuota, waktu, dan effort yang dikeluarin buat nonton video kami tidak terbuang sia-sia.

Pertanyaan terakhir, gimana sih pandangan KKL tentang video-video youtube di Indonesia?

Kalau dari aku (Fabi) sendiri, mungkin selama ini banyak youtuber yang masih mementingkan popularitas, padahal kalau digunakan dengan baik dan benar, sebenarnya Youtube itu bisa menjadi wadah untuk kita berbagi informasi. Walaupun aku masih jarang liatnya di Indonesia, tapi semakin kesini semakin banyak channel-channel Youtube yang kreatif, kritis, yang tidak mementingkan popularitas tetapi lebih mementingkan bobot kontennya. Walaupun memang masih jarang, tapi sepertinya akan berkembang.

Nah, itulah tadi hasil obrolan tim folksy kemarin dengan Aya dan Fabi, anggota dari KKL, seru banget kan ngobrol sama mereka. Kalau kalian masih penasaran dengan mereka atau penasaran dengan video-video mereka, langsung saja buka youtube channel mereka di Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas. Selamat menonton!



Girl Gang Is Not My Thang

Saya percaya konsep kerja kolektif dengan sepenuh jiwa raga saya. Pengalaman saya berkolektif adalah yang membuat saya menjadi diri saya yang hari ini. Sejak pertama kali dikenalkan pada bentuk sistem kerja ini, dimana semua orang di dalamnya memiliki posisi, peran dan tanggung jawab yang sama, saya tidak lagi merasa mesti sendirian terus untuk menggapai sebuah tujuan. Dan yang paling penting, saya juga bisa belajar dan melihat bahwa semua orang itu SAMA. Tidak peduli jenis kelamin, orientasi seksual, latar belakang, status, jumlah followernya, ataupun dia temannya siapa. Tak ada ketua, semuanya adalah anggota.

Saya mulai berkolektif sejak tahun 2001. Awalnya hanya dengan teman-teman lelaki dimana saya selalu jadi satu-satunya perempuan di dalamnya. Tapi sebenarnya, tak pernah sekalipun saya merasa begitu kalau saja beberapa orang tidak mengingatkan tentang hal tersebut, karena memang saya tidak merasa dibedakan sama sekali oleh teman-teman berkolektif saya. Dari mulai pembagian kerja, peran dan tanggung jawab tak pernah sekalipun ada kata-kata ‘Lo kan perempuan…”. Saya sungguh merasa berdaya dan bangga dengan hasil-hasil kerja kolektif kami. Dan saat akhirnya kami mengambil keputusan untuk membubarkan kolektif pun kami melakukannya dengan biasa saja dan tetap berteman baik setelahnya. Begitu pun pengalaman saya berkolektif dengan beberapa teman lelaki dan perempuan untuk sebuah acara pameran yang kami buat bersama. Semuanya berjalan lancar hingga acara selesai walaupun pasti ada kekurangan disana sini tapi di akhir acara kami semua senang dan kolektif kerja kami berakhir dengan riang gembira bersamaan dengan berakhirnya acara. Dan satu hal yang menarik dari berkolektif bersama dengan teman lelaki semua atau dengan teman lelaki dan perempuan adalah kolektif kami dilihat sebagai sebuah kelompok kerja seperti banyak kelompok kerja lainnya. Orang luar melihatnya dari hasil-hasil kerja kami sebagai kolektif.

Namun ternyata kalau berkolektif bersama perempuan semua, dinamikanya jauh berbeda. Sebagai perempuan, saya mengerti dan mengakui spesialnya menjadi bagian dari kolektif yang semuanya perempuan terlebih saat perempuan lebih sering dimotivasi untuk berkompetisi mencari perhatian lelaki dan dibuat untuk merasa dirinya ‘kurang’ terus oleh lingkungan sekitarnya. Mungkin itu juga yang membuat sulit sekali mengaplikasikan bahwa kita semua sama kalau berkolektif bersama perempuan, karena selalu ada yang merasa minder atau ‘kurang’ dibandingkan anggota lainnya di dalam kolektif. Lalu kalau kita bicara emosi, semua orang tentu saja mempunyai emosi namun tampaknya kalau berada di dalam kolektif perempuan manajemen emosi adalah sebuah tantangan tersendiri. Berusaha untuk tetap tidak terbawa emosi saat anggota yang lainnya sedang sangat emosi bisa jadi sebuah tugas yang tidak ringan bagi anggota lainnya, apalagi kalau mesti berada di dalam situasi seperti itu berkali-kali. Belum lagi mereka yang bicara di belakang, sikut-sikutan, ingin lebih ‘tampil’ dari yang lainnya, dan kehidupan personal setiap orang di dalam kolektif yang juga memiliki tantangan tersendiri. Berkolektif bersama perempuan menjadi rangkaian upaya menanggulangi ini semua hingga seringkali malah lupa tujuan berkolektifnya semula untuk apa. Padahal  setiap orang di dalam kolektif ternyata memiliki definisi dan ekspektasi berbeda tentang apa itu berkolektif namun belum sempat menyamakan hal ini sudah kadung capek berkolektif jadinya. Lalu bumbu-bumbu dari anggapan dan tanggapan publik diluar kolektif yang melihat betapa kerennya kolektif yang isinya perempuan semua lalu mereka akan memberi ekspektasi-ekspektasi lengkap dengan kritik-kritik nyinyir tak berdasar yang makin menambah tekanan terhadap kolektif perempuan semua ini baik disadari ataupun tidak.

Jadi memang berkolektif bersama perempuan semua itu ternyata jauh lebih sulit daripada berkolektif dengan lelaki semua atau yang ada lelaki dan perempuannya. Setidaknya inilah kesimpulan saya sekarang setelah lebih dari 10 tahun berkolektif dengan berbagai tujuan. Mungkin sudah waktunya saya rehat dulu dari kehidupan berkolektif di luar sana supaya bisa lebih memfokuskan diri kepada kerja kolektif yang ada di dalam lingkungan terdekat saya sendiri seperti pasangan dan keluarga. Karena lalu apa gunanya berkolektif bila tak ada yang dihidupkan dan menghidupkan di dalamnya?





Artsy People of The Month: Sombong


Beberapa waktu lalu, Tim Folksy ngobrol dengan Igi Anjangbiani atau biasa disapa Sombong. Singkat cerita, founder karakter Souka dan Sashi ini matanya sempat minus tiga, tapi enggan pakai kacamata. “Sempat dibilang begitu (sombong), karena dulu suka jarang nengok kalau disapa.” Ujarnya, saat menjelaskan kenapa Sombong dipilih jadi nama populernya hingga saat ini.

Jika kalian cek akun Instagram @sombong_ ada dua karakter hewan lucu dan ‘tidak biasa’ yang sering banget muncul di feeds nya. Satu adalah kucing bermata lima, satunya lagi yaitu kelinci tanpa mata, hidung, mulut, termasuk kumis. Mereka adalah Souka dan Sashi, urban toys ciptaan Sombong selain karyanya yang lain yaitu lukisan.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini tertarik dengan seni rupa sedari kecil. Igi atau Sombong yang lebih suka dibilang sebagai visual artist ini, aktif mengikuti pameran sejak tahun 2015. Sempat bercerita juga bahwa tahun 2017 kemarin, ia lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Selamat, Igi! Bulan Desember ini, Sombong adalah artsy people of the month yang dipilih Tim Folksy. Kami sempat tanya-tanya Sombong soal mengapa ia memilih medium untuk berkarya, arti mainan buat dia, sampai bayangan soal kalau saja saat ini tidak menggiati seni.

Igi Anjangbiani (@sombong_)

Ceritain dong tentang kesenian yang kamu giati. Sudah sejak kapan dan apa yang membuat kamu memilih medium yang bersangkutan?

Wah, banyak sekali. Pokoknya ada suatu masa di mana aku nyobain semua yang bisa kujangkau (berkaitan dengan seni rupa). Karena waktu kuliah tahun ke-dua, mulai ada kesadaran buat aktif pameran tapi nggak ada yang ngajakin. Akhirnya semua submission pameran yang bisa didaftarin aku ikutin, dari pameran post card sampe patung. Sekarang sedang cukup fokus bikin karya fine art, dua tahun terakhir lagi banyak ngulik “toys” dan lukisan, karena ya memang ternyata irisan kecintaan dan teknologi yang bisa kejangkaunya di dua medium itu.

Ceritain soal nama sombong

Wah, nama Sombong itu ceritanya panjang. Tapi kalau disingkat, intinya memang sempet dibilang begitu, karena dulu suka jarang nengok kalau disapa. Gara-gara sempet minus tiga tapi nggak pakai kacamata jadi nggak kelihatan kalau ada yang nyapa hahaha.

Mainan yang kamu buat, punya nama kah? Inspirasinya dari mana?

Ada dua karakter yang ada namanya, Sashi yang kelinci. Lalu ada Souka, kucing bermata lima yang suka muncul di graffiti yang kubuat.

Inspirasinya, kalau Sashi dari fakta yang aku temukan soal kelinci. Kelinci ternyata bisa mati gara-gara dikagetin doang, secemen itu. Gara-gara tingkat stresnya tinggi. Nah, sisi itu aku ambil jadi representasi rasa takut dan khawatir yang kualami. Kalau Souka yang kucing gara-gara aku suka kucing dan katanya nggak boleh kalau matanya satu (pernah dimarahin orang), jadi matanya lima.

Apakah dijual? Gimana caramu memberi nilai untuk karyamu?

Dijual dong, hehe. Kalau toys cara nentuin harganya yaitu dari ukuran dan dibantu konsultasinya oleh @so.toy. Kalau lukisan, aku dibantu juga sama orang yang sudah biasa pricing lukisan. Itu kalau nilai materi duit. Kalau nilai yang lain, ya itu kayak anak sendiri, sayang aja gitu.

Buatmu, mainan itu berarti apa dan seperti apa? Bayanganmu kalau di dunia ini nggak ada mainan?

Wah gila sih, mainan itu ternyata bisa diextend dari banyak wilayah visual maupun konsepnya. Bisa jadi seni dan bisa juga jadi banyak hal menarik lainnya. Kalau di dunia nggak ada mainan...nggak mungkin sih. Selama rasa bosan manusia masih ada, bentuknya aja yang terus berubah.

Sekarang lagi sibuk apa?

Sedang sibuk mencari uang, hehe. Nyiapin karya buat pameran pertengahan bulan ini (Desember) dan tahun depan. Juga masih sibuk nungguin satu pameran yang sekarang masih berlangsung.

Menurutmu, artsy itu apa dan yang gimana? Beda nggak kira-kira dengan definisi artsy yang berkembang sekarang?

Kalau yang aku tahu, artsy itu orang yang tertarik dengan seni. Beneran tertarik atau yang sekedar nampang doang. Aku bingung juga dengan istilah artsy sekarang, menurutku asal kontribusinya baik ke budaya dan seninya, nggak masalah.

Menurutmu, kamu artsy nggak?

Kalau definisi artsy sesimpel tertarik dengan seni, berarti aku artsy. Kalau beda lagi ya berarti belum tentu J

Menurutmu orang perlu punya ‘sense of art’ nggak di hidupnya, kenapa?

Hmm, bingung ya, sense of art aku nggak paham. Tapi yang penting adalah bisa memahami, segala sesuatu selalu berkenaan dengan sesuatu yang lain. Makna tunggal itu nggak ada dan harus sadar kalau melihat segala sesuatu, bisa nggak cuma dari satu sisi.

Motto hidup kamu?

Motto hidup yang coba aku kejar adalah jadi jujur, baik dalam hidup maupun bikin karya.

Apa yang kamu pikirkan akhir-akhir ini?

Yang aku pikirin akhir-akhir ini, bagaimana caranya makan obat pakai pisang dan mulai harus menerima kalau diriku memang tida berbakat ;(

Kalau lagi creative block, biasanya kamu ngapain?

Kalau kasusnya aku creative block, biasanya diawali dengan “pengen keliatan pinter”, diatasinya dengan damai sama diri sendiri dan jadi jujur sebisanya. Kalau nggak pinter yaudah nggak usah pura-pura pinter, hehe.

Mood penting nggak buat berkarya?

Penting. Aku kenal beberapa orang yang bisa bikin karya bagus kalau sambil mabok atau justru bagus banget kalau patah hati, galau, dsb. Kalau aku nggak bisa, harus dalam keadaan stabil. Kalau lagi nggak enak hati, biasanya nggak ngerjain apa-apa. Kecuali commission work yang deadline nya udah kelihatan mah yaudah gimana lagi harus dikerjain.

Kalau passion, penting nggak?

Passion penting, kalau memang cinta biasanya dia akan mengajari dirinya sendiri untuk jadi lebih baik.

Seandainya kamu nggak menggeluti dunia seni seperti sekarang, di bayanganmu kamu bakal berprofesi atau jadi apa?

Kalau nggak seni-senian aku sekarang sedang di kantor imigrasi, dideportasi dari Jepang karena tidak kredibel sebagai translator/guide dan pakainya visa liburan.


Gimana Folks, kamu yang lagi bingung mencari passion apakah jadi berniat pergi ke Jepang dan jadi translator? Hahaha. Selanjutnya, menurutmu siapa yang seru untuk diinterview sebagai artsy people of the month di Bulan Januari tahun depan Folks? Silakan kasih saran melalui direct message di akun Instagram @folksymagazine atau @folksypress ya. Nah, berikut ini adalah beberapa karya Igi berupa patung dan lukisan. Selebihnya, kamu bisa cek di akun Instagram @sombong_
enjoy!

Sashi

Ceritain sedikit dong tentang karya ini.

Ini adalah salah satu dari empat karya yang masuk dalam seri berjudul “kw” (2017). Visualnya berupa parodi alfamart tapi isinya adalah 'alfa mighty morphin power ranger'. Apa ya, bingung juga. Pokoknya itu adalah hasil dari upaya aku untuk ngulik soal humor, jadinya begitu. Minimal bisa bikin yang liat senyum dikit. Dasarnya memang aku suka karya yang kocak dan punya ambiguitas tinggi. Itu di Bandung, waktu itu bareng kolektif di mana aku tergabung di dalamnya, namanya @klub.remaja.



Battling Negativity in Simple Ways


Selain udara dan partikel-partikel kecil lain, ada satu hal yang sebenarnya selalu menghampiri kita setiap hari lho folks. Ya, negativitas. Ia adalah godaan yang cukup menggiurkan. Malas-malasan, belanja ini-itu tanpa ada tujuannya, sampai indahnya menunda sebuah pekerjaan. Kalau dibiarkan, dia bisa menjelma jadi bad habit dan berdampak pada pola hidup kita kedepannya. Baik dari segi gaya hidup, keuangan, hingga kesehatan. Jadi, kita harus melawannya agar tidak keterusan. Kali ini, Tim Folksy ingin mengajakmu refleksi sebentar tentang negativitas yang kita jumpai sehari-hari. Kadang, beberapa hal ini bahkan datang sebagai sesuatu yang dilematis.

Ronde I: Bangun pagi vs Bangun siang

Bangun agak siangan setelah malamnya begadang bukanlah masalah. Tapi, bangun kesiangan hingga sinar matahari masuk ke ruangan bisa mengurangi kualitas tidur kita loh, nanti pas bangun bukannya segar tapi malah pusing. Pasang jam alarm, jangan langsung dimatikan ketika berbunyi, buka jendela sambil pikirkan apa saja hal-hal yang bisa kita dapatkan dari bangun pagi, misal: sempat menonton video Youtube sebelum berkegiatan, atau baca berita hari ini!

Ronde II: Bawa vs Tinggalin gawai

Challenge diri sendiri untuk tidak membawa gawai saat kuliah atau meeting, terdengar sangat berat ya Folks. Apalagi, sekarang orang-orang lebih memilih untuk berkomunikasi hanya melalui aplikasi chatting di ponsel. Tapi, gawai ternyata merupakan pendistraksi yang sangat kuat lho, apalagi dengan adanya media sosial, duh rasanya mau buka Instagram dan Twitter setiap 10 menit sekali! Coba deh tinggalin gawaimu dan nikmati kegiatanmu dengan khidmat.

Ronde III: Makan minum sehat vs Makan minum enak

Sebagai negara tropis, suhu kota memang sangat gerah. Jadinya, setiap makan harus ditemani es teh biar segar. Hmm, padahal katanya apabila langsung meminum es teh setelah makan, bisa bikin anemia lho! Di samping itu, jika setiap hari kita mengonsumsi es teh manis dengan gula pasir berlebihan, bisa memicu diabetes juga. Biar hidup sehat, kayaknya nanti minum air putih aja deh selepas makan, tetap segar kok!

Ronde IV: Sekarang vs Nanti

Sepulang dari berkegiatan, tugas-tugas bukan berkurang, tapi malah semakin bertambah. Nah, kalau selesai dari satu kegiatan lalu tidak ada lagi aktivitas lain yang mendesak di hari tersebut, maka istirahatkan diri dulu sebentar. Cobalah tidur siang, lalu mengerjakan tugas yang sudah mulai menumpuk tersebut. Kalau tugasnya sangat banyak, kemudian dikerjakan sekarang saja tidak selesai-selesai, apalagi kalau dikerjakan nanti-nanti.

Ronde V: Belanja karena kebutuhan vs Belanja karena keinginan

Belanja itu menyenangkan, memang! Memanjakan diri dengan belanja barang-barang kesukaan kita, memang perlu sebagai apresiasi atas kerja keras selama ini. Tapi, apabila tidak dibatasi mungkin semua barang akan kita beli. Maka, menyusun skala prioritas sangat perlu lho, apalagi dalam urusan belanja. Supaya saat di kasir nggak shock sama tagihan!

Ronde VI: Tidur cepat vs Begadang

Kalau kata Bang Rhoma Irama, jangan begadang kalau tiada artinya. Begadang boleh kalau mendesak banget ya folks. Kalau tidak mendesak, kita berikan batasan-batasan untuk diri sendiri. Misalnya jam 12.00 harus sudah naik ke kasur dan tidur, bukan malah main gawai nggak karuan.

illustration: @ugagoo


Growing Up Means What?

Menjadi dewasa kadang terasa begitu dilematis, banyak hal yang cukup mengganggu saat memasuki usia 20-an. Seolah-olah di usia tersebut, kita sudah dapat menentukan pilihan sendiri yang dampaknya pun dirasakan sendiri.

Menjadi dewasa bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Tahun berlalu, mengantarkan pada kenyataan mutlak bahwa kita mulai meninggalkan masa-masa remaja yang hanya dapat ditengok kembali melalui album-album foto. Mungkin, secara tidak sengaja memori itu menyelinap ke dalam pikiran kita lewat lamunan siang bolong.

Menjadi dewasa, berarti keputusan penuh berada di tanganmu, benar. Namun, apakah benar dengan usia mencapai 20, kita sudah dapat mengetahui secara penuh wewenang untuk mengambil keputusan yang dampaknya akan dirasakan kemudian? Dewasa, bukanlah sekedar “Hey kamu, sudah 20 tahun, sudah dewasa, jangan kekanak-kanakan dong.” Bukan. Dewasa bukan tentang jumlah usia, ia adalah entitas terhadap dirimu sendiri dalam menghadapi kehidupan yang meningkat levelnya.

Pada akhirnya, kebijaksanaan menjadi salah satu indikasi dari kedewasaan. Ketika kamu dapat menghargai pendekatan orang yang bahkan tidak kamu kenal, kemudian menghargai segala keputusannya walaupun bertentangan dengan nilai yang kamu pegang. Selain bijaksana, kita juga menghargai berprosesnya orang lain, menjadi dewasa juga artinya bijak terhadap diri sendiri. Menghargai proses diri sendiri, mencintai diri sebagai orang yang paling dekat dan mengerti keadaanmu. Banyak yang bilang, semakin lama kamu hadir di dunia ini maka semakin terlihat juga mana yang benar-benar mencintaimu sebagaimana dirimu sendiri. Pada akhirnya, kita semua merupakan makhluk yang individualis. Ketika kita terlalu sibuk untuk mendapatkan dan mengiyakan apa yang dituntut ego sendiri, kenapa harus bergantung dengan orang lain?

Menjadi dewasa, salah satunya adalah berusaha menjadi mandiri dan mencintai diri sendiri.

Illustration: @aqshozulhida

Editor: Angela Shinta Dara Puspita



Memulai Hobi Baru

Seringkali kita mendengar pertanyaan, “Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu untuk pertama kalinya?"

Kenapa pertama kali itu penting? Karena melakukan berbagai hal untuk pertama kalinya dapat memberikan kita sensasi berbeda. Hal ini bagus untuk jeda terhadap rutinitas kita yang selalu itu-itu saja. Salah satu caranya adalah dengan memulai hobi baru, pasti di dunia ini ada banyak hal yang ingin kita coba untuk lakukan, tapi sayangnya kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk melakukannya. Ketika sudah dewasa dan memiliki kesempatan itu, tidak ada salahnya kita memulai hobi yang benar-benar baru. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.

Walaupun untuk memulainya seringkali ada rasa berat di awal, rasa sulit untuk memulai, lakukan saja dulu. Lakukan hal-hal yang menyenangkan untukmu, mulai dari yang paling mudah terlebih dahulu. Misalnya kamu ingin memiliki hobi baru menggambar, tidak apa-apa jika kamu mulai dari menggambar bentuk-bentuk yang sederhana terlebih dahulu, seperti lingkaran, kotak, segitiga, bintang dan sebagainya. Mengawali sebagaimana anak-anak kecil melakukannya. Perlahan, di tengah prosesnya mungkin kamu akan merasa bahwa ini tidak sesuai untukmu, kamu tidak punya bakat untuk melakukannya, jangan dirimu menyerah dengan mudah.

Konsisten untuk melakukannya juga penting untuk mengembangkan hobi baru. Jika kamu ingin memulai hobi baru seperti menulis misalnya, menulislah setiap hari dengan mendeskripsikan hari itu dalam satu kalimat, seperti “Hari ini menyenangkan, tanganmu menggenggamku hangat, lebih dari saat aku menggenggam cangkir tehku tadi pagi.” Lakukan ini setiap hari dengan rutin, lama-lama mungkin kamu bisa menerbitkan buku. Siapa yang tahu? Namun, jika sampai akhir kamu merasa ini tidak mudah, melakukannya sungguh berat, dan kamu ternyata tidak menyukainya lagi seperti dulu kamu ingin melakukannya, tidak apa-apa. Kamu boleh meninggalkannya, setidaknya kamu pernah memiliki pengalaman, tentang seperti apa rasanya, sensasinya melakukan hal-hal baru yang kamu ingin lakukan. Mulailah kembali hobi baru, sekali lagi, yakin pasti ada banyak hal yang kamu inginkan dalam dalam daftarmu. Jadi, selamat mencoba-coba dan bersenang-senang, semoga saja ada satu hobi yang membuatmu merasa cocok.


Editor: Angela Shinta Dara Puspita

Photo: @byputy


Behind The Scene: Fashion Spread Folksy 17th Edition

Selain artwork yang lucu-lucu, Folksy Magazine juga punya salah satu segmen andalan yaitu Fashion Spread. Edisi 17 yang bertema print is not dead nanti, sudah kami persiapkan sejak sebulan belakangan lho termasuk fashion spread-nya. Sambil menikmati membaca edisi 16, kita intip keseruan Tim Folksy saat pemotretan untuk edisi 17 yuk!

Fotografer: Luthfi Satya
Stylist: Yasmine Sani Pawitra
Venue: Uwitan Yogyakarta
Candid: Yohanes Paulus

Ngobrol Bareng Javafoodie

Ketika kamu bepergian ke tempat baru, misalnya ke luar kota apa yang pertama kali kamu pikirkan Folks? Yup, makan apa yaaaa. Nah, di era digital saat ini, khususnya berkembangnya media sosial yang menekankan aspek visual, hastag dan lain sebagainya, jadi mengingatkan kita akan para foodgram. Sepertinya jasa mereka memang sangat kita butuhkan ketika sedang bepergian dan mencari rekomendasi kuliner di tempat tersebut, ya.

Fenomena foodgram, atau pendahulunya yaitu foodblogger memang sudah ada sejak beberapa tahun belakangan Folks. Jika kalian ingat, hal ini pernah diulas pada Folksy Magazine edisi 9 tahun 2016. Namun, saat ini pun obrolan tentang foodgram rasanya masih cukup relevan ya, mengingat jasanya pun masih bisa dilihat eksistensinya hingga saat ini. Pada waktu itu, Tim Folksy sempat ngobrol dengan salah satu foodgram yaitu @javafoodie, yuk simak obrolannya!

Siapa saja orang dibalik Javafoodie? Apa kegiatan kalian selain menggiati bidang ini?

Di Javafoodie ada dua orang, saya (Dadad Sesa) dan Aji Suhendra. Saya seorang penulis dan social media consultant. Aji seorang fotografer dan barista.

Kenapa membuat blog kuliner?

Awalnya, saya memang suka mengeksplor banyak spot makan, mulai dari yang tradisional, pinggir jalan, sampai kafe dan fine dining. Kebetulan, memang suka menulis dan mendokumentasikan perjalanan saya, jadi saya tuangkan ke blog yang lama kelamaan menjadi didominasi tentang makanan.

Menurutmu, apa bedanya foodblogger dengan foodgrammer?

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan istilah itu, apalagi perbedaannya. Toh, Instagram dapat dibilang micro blog juga layaknya Twitter. Foodblogger sendiri pad mulanya memang berasal dari blog seperti saya ini yang kemudian menjamah Instagram supaya lebih luas jangkauannya. Saya sendiri merasa dua media ini (blog dan Instagram) memang punya plus minusnya. Pada blog, saya lebih punya banyak ruang untuk menulis, sedangkan Instagram saya jadi lebih dekat dengan pembaca. Instagram pada akhirnya ya tujuannya untuk mengarahkan pembaca ke blog saya juga salah satunya. Mau Javafoodie dibilang foodgrammer atau foodblogger buat saya sama saja, itu cuma sebutan.

Apa keuntungan menjadi foodblogger atau foodgrammer?

Saya jadi punya kesempatan untuk belajar banyak dari orang-orang baru yang saya temui. Sesama foodblogger/foodgrammer dan pemilik-pemilik rumah makan, kafe dan sebagainya. Lingkar relasi semakin bertambah luas. Jogja nggak sempit-sempit banget ternyata.

Pengalaman unik yang pernah dialami selama menjadi foodblogger/foodgrammer?

Apa ya? Saya kebetulan sering banget memotret jajanan pinggir jalan, kadang ada beberapa penjualnya malu-malu. Paling epic di Tongseng Sudimoro, penjualnya langsung sembunyi masuk dan saya cuma kayak orang bego ngelihatinnya. Sampai akhirnya saya terpaksa foto makanannya saja.

Apa saja yang diperlukan untuk menjadi foodblogger/foodgrammer?

Yang jelas nggak boleh takut mencoba. Nyobain sebuah tempat dan berakhir kurang memuaskan itu wajar banget. Kemudian, harus humble juga sih. Foodblogger bukan kritikus makanan seperti di luar negeri, jangan merasa lidah lebih elit daripada orang lain karena kita kan cuma berbagi info dan pengalaman. Pada saranya selera orang beda-beda, jangan seenaknya kasih kritik yang tidak membangun, harus berdasar. Sama yang terakhir, harus banyak baca. Apalagi tentang food and beverage. Harus mau belajar masak juga sih, biar tahu gimana susahnya masak.

Sebutkan tiga tempat makan favorit di Jogja

Susah ya, pertanyaannya. Kayak ditanyain buku favorit apa. Saya sih suka banget Sate Klathak Mak Adi, Mie Aayam Goreng Seyegan, sama Gudeg Pawon.

 

Terbit di Folksy Magazine edisi 9 tahun 2016

Disadur dengan gubahan seperlunya.

Photo by: @javafoodie


Folksy DIY Tutorial: Cheap Tropical Flatlay Set

Sekarang nggak ada lagi alasan nggak punya uang buat beli properti foto produk, karena kita bisa bikin sendiri dan lebih irit tentunya. Hasilnya juga nggak kalah cakep sama alas foto lipat yang dijual online. Nggak percaya? Nih folksy kasih tutorial bikin flatlay set dari kertas warna-warni yang bisa kalian beli di stationery store dekat rumah ;) enjoy! 




Event Update: MAKER SPACE EXHIBITION dan POP- UP Space #6 Genetika Concept Store

4 – 5 Agustus 2018 kemarin Genetika Concept Store dan Greenhost Boutique Hotel telah mengadakan sebuah rangkaian acara dari Pameran karya program Maker Space . Sebuah program yang diinisiasi oleh Rempah Rumahkarya, dalam program ini Rempah Rumahkarya memberikan ruang berkarya bagi seniman/ desainer selama 3 bulan di Rempah Rumahkarya, fasilitas berkarya dalam program ini didukung oleh BEKRAF. Selama 3 bulan tersebut seniman menghasilkan 13 karya yang kemudian dipamerkan di Greenhost Boutique Hotel selama 2 minggu.

 Pembukaan acara tersbut dilaksanakan dengan rangkaian kegiatan berupa POP-UP Space ke-6 yaitu bazzar yang diadakan oleh Greenhost dan Genetika setiap 4 bulan sekali, dalam bazzar kali ini ada 8 Brand yang terlibat dan semuanya berdasarkan hasil kuratorial yang bertema Re-cycle, Tema tersebut diangkat karena Danny Yuwanda sang seniman selama residensi membuat konsep berkarya dengan material limbah kayu. Dengan eksplorasi teknik kriya kayu yang baik sehingga dapat menghasilkan karya recycle material yang unik dan menarik. Ke- 8 brand yang berhasil melalui kuratorial dalam Tema POP-UP Space kali ini adalah Lagi – Lagi , Kreskross, Gulaliku, Gazewany Labs, Guna Goni, Waiki, Fabulous Garbage, dan NakNik Jewelry. Mereka adalah para desainer dan crafter yang menggunakan 70% limbah atau menggunakan proses upcycle dalam pembuatan produknya.

 Selain bazzar juga diadakan Artis Talk sebagai wadah diskusi antara audience dan Seniman untuk bertukar idea dan issue terbaru dalam industry design dan seni. Setelah Artist  talk diadakan workshop Recycle Jewelry dari papan skate board dalam work shop ini dihadiri oleh 10 peserta dari berbagai usia, usia termuda adalah 8 tahun hingga dewasa. Selama workshop ini peserta diajari cara mengolah limbah papan skate board yang saat ini sering ditemui disekitar kita. Diawali dari membuat sketsa desain hingga proses pemotongan, penghalusan, dan penyambungan kayu diajarkan disini. Setelah itu diakhiri dengan merangkai material menjadi perhiasan yang bisa langsung digunakan.



We Heart Printed Magazine

Beberapa waktu terakhir, Tim Folksy menggodok tema Folksy Magazine edisi 17 mendatang. Pilihan jatuh pada persoalan printed magazine yang ‘tampaknya’ mulai kehilangan pembacanya dan beberapa diantaranya memutuskan tidak menerbitkan lagi versi cetaknya. Pada artikel ini, selain ingin sedikit memberi kode tentang tema Folksy Magazine 17, Tim Folksy juga ingin mengajak kamu bernostalgia dengan printed magazine.

Tim Folksy mencoba merasakan kembali beberapa hal menyenangkan yang bisa didapatkan dari printed magazine. Tentunya, tidak bisa begitu saja tergantikan oleh e-magazine.

Kertas itu sendiri,

Hmm, ketika membeli printed magazine, hal pertama yang sangat ‘ngena’ di benak kita mungkin bau kertasnya ya Folks. Rasanya sulit dideskripsikan, momen pertama kali membuka majalah yang barusan dibeli seperti sesuatu yang sakral karena setelah beberapa kali dibaca dan dibuka-buka maka bau kertasnya akan berbeda, hahaha.

Selain baunya, sensasi saat menyentuh kertas majalah yang glossy atau ada pula yang doff juga sangat menyenangkan hati. Kita lalu membayangkan proses orang-orang dibaliknya membuat konten-konten majalah tersebut hingga akhirnya dicetak. Mungkin saat baru saja keluar dari percetakan, kertasnya masih hangat hingga sampai di tangan kita dengan keadaan yang apik dan rapih.

Bonus modus

Siapa dari kalian yang membeli suatu edisi majalah tertentu dengan menguras tabungan uang jajan hanya karena bonusnya? Hahaha. Dulu, Tim Folksy salah satunya. Di momen-momen tertentu memang beberapa majalah menyediakan bonus yang lucu-lucu seperti agenda saat menjelang akhir tahun, hand body lotion, pouch hingga tas!

Nah, kalian yang suka musik pasti masih ingat ya beberapa majalah musik yang mungkin saat ini sudah tidak lagi terbit versi cetaknya, memberikan bonus poster band favorit kamu.

Cheating di toko buku

Satu ini terdengar negatif tapi menghangatkan kalau dikenang, ya. Majalah-majalah besar khususnya yang impor biasanya kurang terjangkau harganya ya, Folks. Demi menjawab rasa penasaran dan haus akan literasi (hahaha) akhirnya kita membuka sampul majalah di toko buku tanpa seijin petugas, lalu membaca bagian yang paling menarik hati, lalu keterusan sampai duduk berjam-jam di toko buku.

Nah, apa saja kenang-kenangan tentang majalah cetak yang tidak bisa tergantikan oleh e-magazine, versi kamu Folks? Ada juga lho beberapa pembaca yang menggunakan majalah bekas untuk sampul buku, khususnya di bagian yang ia sukai, foto idola misalnya. Jadi lebih semangat belajarnya kan, hehe.



Shop Visit: Toko Barang Bareng

Senangnya tinggal di Yogyakarta adalah kamu bisa mengeksplorasi berbagai hal unik Folks, termasuk toko. Salah satu toko yang digandrungi Tim Folksy sekarang ini adalah Toko Barang Bareng (TBB), kamu pernah dengar? Nah, simak obrolan kami dengan owner nya yuk.

Siapa saja sih owner Toko Barang Bareng, kenalan dong?

Awalnya TBB didirikan oleh empat orang, tapi satu orang mengundurkan diri karena alas an pribadi. Saat ini TBB dikelola oleh tiga orang sisanya: Ipiet selaku owner Kebun Kemangi, Melisa Angela selaku owner Matloob dan Christy Mahanani owner Kinanthi Soap.

Kenapa namanya “Toko Barang Bareng”, apakah berkaitan dngan produk yang ada?

Nama “Toko Barang Bareng” muncul sebagai pilihan terfavorit dari beberapa usulan yang ada. Selain itu, kami rasa nama tersebut sesuai dengan semangat kerja bersama. Jadi, mewadahi barang-barang handmade dengan kualitas yang baik.

Saat ini ada 38 merk yang tergabung dalam TBB dan tentunya akan terus dikembangkan. Selain produk dari owner sendiri, di TBB juga tersedia produk-produk aksesoris, sandal, buku, dan lain-lain.


Kalian bisa kenal dan berteman darimana? Lalu, bagaimana bisa memutuskan membuat toko bersama?

Sudah saling kenal sejak lama, saat itu masing-masing dari kami sudah mulai menekuni produksi produk handmade. Maka, saat ada tawaran ruang kosong di lokasi yang strategis, kami sepakat untuk membuka toko bersama.

Konsep TBB seperti apa sih? Khususnya yang menjadikannya berbeda dengan concept store lainnya.

TBB bertujuan memasarkan produk-produk handmade, kami bekerjasama langsung dengan produsennya. Setiap produk yang masuk selalu melewati proses pertimbangan terlebih dahulu. Kami mengutamakan produk local crafter yang otentik, berkualitas baik, tapi dengan kisaran harga yang terjangkau.


Apa suka duka kalian membangun bisnis bersama?

Beralih dari crafter menjadi shop owner tentunya membutuhkan adaptasi yang tidak sedikit. Menyenangkan, karena toko kami tidak hanya menjual produk-produk dari owner, tapi juga produk teman-teman crafter lain. Tantangannya adalah kami harus belajar manajemen toko, karena tanggung jawabnya langsung kepada crafter lain. Kami tetap menyempatkan diri untuk ngobrol langsung kalau jadwalnya memungkinkan. Namun, kadang jika ada yang punya ide baru biasanya langsung dibahas di grup chat.

Adakah "resep rahasia" agar pertemanan tidak bermasalah karena bisnis?

Kami berusaha memisahkan antara pertemanan dan bisnis, salah satunya dengan pembagian tugas yang adil. 

Kedepannya Toko Barang Bareng ingin seperti apa?

Kami berharap Toko Barang Bareng bias bertahan dan menjadi lebih populer. Semacam, kalau orang pergi ke Jogja mau cari barang-barang lucu, tinggal ke TBB aja. Kami ingin bisa membuat local crafter lebih diminati.

Kemana kita bisa beli produk yang dijual di TBB?

Bisa berkunjung ke Toko Barang Bareng, di Jalan Suryodiningratan 53 Yogyakarta, atau online di Instagram: @barangbarengstore



Bikin mouse pad


Hey folks, tau nggak kalau Folksy punya Youtube lho. Konten akun Youtube Folksy ada banyak macamnya, dari mulai behind the scene pemotretan, shop visit, liputan event, sampai tutorial. Video ini adalah salah satu video tutorial yang dibuat oleh tim Folksy. Kalian nggak perlu punya ketrampilan khusus untuk mempraktikkan semua tutorial yang Folksy bikin, dan semua bahan yang digunakan sangat terjangkau serta mudah didapat. Seru khan? Yuk kita coba bikin bersama! Jangan lupa posting dan pamerin ke kita hasil tutorial Folksy yang sudah kalian bikin di Instagram ya, kami tunggu! 



More Folksy Tutorial DIY videos: https://www.youtube.com/channel/UCaqdpiLiNHYlhSsXLHnJOwg


Bikin Skincare Rumahan Ala Evete Naturals

Hi Folks, adakah dari kalian yang sempat menyimak acara Folksy Womens Week beberapa bulan lalu? Kalau kalian ingat, salah satu brand yang nongol di acara itu adalah EVETE Naturals. Yup! Waktu itu brand ini sempat bagi-bagi beberapa produk natural skincare artisan, ada yang dapat giveaway nya?

Di tengah kesibukannya, salah satu owner Evete,Vania menyempatkan untuk ngobrol bareng Tim Folksy. Sedikit bocoran, owner Evete Naturals akan berbagi cerita tentang bisnis produk skincare alami yang mereka bangun. Kamu juga bisa belajar dari pengalaman mereka lho Folks. Jadi, supaya kalian nggak terlalu penasaran, Tim Folksy akan membagikan sedikit bahasan dari obrolan seru kala itu. Pastinya, isinya berbeda dengan yang di majalah nanti ya.


Siapa yang hari ini pingin banget memanjakan diri? Tim Folksy mau banget, haha ditambah cuacanya sudah mulai mendung-mendung, sepulang kerja seru kali ya kalau membuat skincare sendiri dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Vania memberikan beberapa tips dan pengetahuan tentang bahan-bahan alami untuk dijadikan wash-off skincare. Ya, Vania sempat bercerita kalau bahan-bahan yang ada di rumah lebih direkomendasikan menjadi wash-off skincare alias bukan yang nempel seharian di badan atau wajah. Apa saja sih?

Ampas buah-buahan enaknya diapain ya?

Setelah membuat smoothies, jangan langsung membuang sisa buah yang ada di blender ya Folks! Kamu bisa menjadikannya masker wajah. Bisa juga, beberapa buah yang mengandung vitamin C seperti tomat atau perasan jeruk kamu jadikan masker.

Alpukat nggak cuma enak dimakan

Buah-buahan yang punya kadar lemak tinggi seperti alpukat bisa dijadikan masker rambut, Folks! Caranya tinggal kamu lumatkan dan diolesin ke rambut seperti hair mask pada umumnya. Pijat-pijat kulit kepalamu juga ya.

Eksfoliasi kulit kamu yuk

Bahan yang bersifat granula atau butiran-butiran kecil bisa digunakan untuk eksfoliasi lho. Misalnya, gula dan garam. Tapi kan kasar? Nah, kamu bisa menambahkan madu dan menggunakannya untuk scrubbing atau luluran.

No more pijit pakai balsem

Waduh, suka gimana gitu ya kalau habis pijit pakai balsem? Pegal hilang sih, tapi baunya nggak oke banget. Coba cari apakah di rumahmu ada semacam minyak esensial, misalnya olive oil atau minyak zaitun. Kamu bisa menggunakannya untuk pijit sekaligus melembabkan area-area kulit tertentu misalnya siku, lutut, dan lainnya. Tapi Vania juga sempat titip pesan, jangan pakai minyak goreng Folks, hihihi.

 



Mengelola Stres, Bagaimana Caranya Ya?

Melanjutkan pembahasan pada rubrik sebelumnya, kali ini kita akan berkenalan lebih dekat dengan cara dasar agar dapat mengelola stres dalam diri kita. Mengelola berarti melakukan upaya agar tekanan yang terjadi dalam diri kita dapat berubah menjadi bermanfaat dan membuat pikiran dan tubuh kita lebih sehat dan bugar. Langkah awal dalam pengelolaan stres adalah mengenali kondisi stres yang sedang kita alami, apakah itu stres positif atau negatif telah dibahas pada edisi sebelumnya.

Dalam dunia psikologi, ada dua pendekatan umum dalam merespon hadirnya stres yang negatif. Respon ditujukan agar situasi stres negatif yang melanda seseorang dapat diolah dan diubah sehingga mengarah pada kondisi netral, tidak terlalu memunculkan reaksi negatif atau bahkan dapat diubah menjadi suatu stres yang positif sehingga akan menjadi motivasi atau pendorong.

Pendekatan pertama dalam merespon stres dikenal sebagai pengelolaan berfokus pada masalah (problem focus coping). Cara ini berarti seseorang berusaha untuk mencari pintu keluar atau solusi atas persoalan atau tekanan yang sedang terjadi. Artinya, ketika ada masalah datang misalnya ada penugasan bertubi-tubi atau teguran dari atasan, lalu diikuti dengan usaha menjalankan tugas, atau perbaikan diri, maka sebetulnya kita telah melakukan suatu proses penanganan stres berfokus pada masalah. Pada contoh lain misalnya, ketika kita sedang mengalami masalah keuangan.

Pada bulan ini banyak sekali musibah dalam keluarga, kemudian berakibat pada pengeluaran tak terduga yang berlebih. Tiba-tiba teringat pada tagihan asuransi dan beberapa cicilan kredit yang harus dibayar.  Nah, situasi ini dapat berujung pada dua hal. Pertama, perilaku marah-marah, mengurung diri, menangisi, atau yang kedua mencari cara agar mendapatkan pemasukan baru. Seperti berusaa mencari sesuatu yang dapat digadaikan atau dijual, maupun mencari pinjaman sementara yang berarti tutup lubang dan gali lubang. Cara-cara yang lebih menghasilkan adanya uang atau dana bagi keluarga itu merujuk pada proses pengelolaan stres berfokus pada masalah.


Pendekatan kedua adalah mengelola tekanan dengan terlebih dahulu mengatur situasi emosi dalam diri kita. Pada pendekatan ini, penekanannya adalah bagaimana kita dapat terlebih dulu memunculkan usaha agar emosi yang dirasakan saat muncul suatu tekanan tidak meledak-ledak yang dapat berakibat pada tindakan kurang sehat, maupun justru merusak diri sendiri. Sebagai contoh, ketika mendapati anak dengan pengasuh sedang bermain di arena bermain pusat perbelanjaan, lalu terdorong oleh anak lain sehingga bibirnya berdarah.

Respon si ibu berupa dengan menarik nafas terlebih dahulu, memeluk anak untuk menenangkan, lalu mengajak anak ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengalir sambil menenangkan diri. Kemudian, menuju pada klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi anak. Tindakan ini merupakan salah satu respon terhadap situasi penuh tekanan yang terlebih dulu berpusat pada emosi. Saat kita dapat menarik nafas ketika tekanan terjadi lalu menenangkan diri, maka ada waktu agar proses bernalar dapat terjadi. Alih-alih si ibu mencari anak yang mendorong atau orang tuanya dan memarahi habis-habisan atau berkata kotor. Hal tersebut merupakan respon emosi negatif yang dapat berujung pada tindakan kurang sehat dan kurang bermanfaat.

Selain itu, akan muncul pula respon sosial yang dapat menjadi stresor baru bagi kita seperti para pengunjung lain yang menjadikan kita sebagai bahan tontonan. Bisa juga muncul ketakutan pada anak karena respon kita yang marah-marah pada orang lain, tetapi dapat dipersepsi anak sebagai marah pada dirinya.

Lalu, ketika kita mendapati situasi yang membuat stres, pendekatan manakah yang terbaik? Coping berfokus pada masalah atau emosi?


Published on Folksy Vakantie Issue (2016)

Edited by Angela Shinta

Main Illustration by Maskrib


Liburan Itu Rasa, Bukan Masa

Pekerja serabutan, itu adalah profesi yang rasanya lebih tepat buatku sejak tidak lagi bekerja di kantor beberapa tahun terakhir ini. Karena walaupun bidang yang aku geluti kurang lebih mirip, tapi bentuk-bentuk pekerjaannya beragam sekali. Mulai dari menulis, jualan online, mengoordinir pameran, berpameran, menyelenggarakan lokakarya, dan banyak lagi. Mengerti kan sekarang, mengapa aku memilih disebut pekerja serabutan?

Lalu, kalau ditanya aku lebih memilih jadi pekerja serabutan atau kantoran, ternyata aku lebih menyukai jadi pekerja serabutan. Aku menyukai keadaan dimana aku bisa memilih bentuk pekerjaan yang mau aku lakukan atau tidak. Aku menyukai beragamnya pekerjaan yang bisa aku lakukan dalam satu waktu sehingga aku hampir tak sempat merasa jenuh. Aku juga ternyata menjadi lebih berani dalam mengambil bentuk-bentuk pekerjaan yang ditawarkan kepadaku. Ya, karena setelah satu pekerjaan selesai, aku bisa langsung melakukan pekerjaan baru yang sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya, kan? Aku juga merasa tidak mesti kreatif 24 jam dalam 7 hari seperti pekerjaan kantoranku sebelumnya. Sekarang aku bisa memutuskan kapan aku mau dan mesti berpikir kreatif, kapan aku hanya ingin bekerja menggunakan keterampilanku yang lain.

Belum lagi jaringan rekan kerja yang semakin bertambah bersamaan dengan datangnya sebuah pekerjaan baru. Plus, tentu saja ruang kerja yang bisa di mana saja, tak selalu mesti di meja kerja. Oh ya, baju kerja! Hampir tidak ada yang namanya baju kerja. Setiap baju yang kupakai bisa menjadi baju kerjaku kapanpun aku menginginkannya.

Hal ini juga yang ternyata aku lebih sukai, waktu kerjanya. Waktu kerja yang dikembalikan padaku sepenuhnya kapan aku mau bekerja, berhenti dahulu, lalu kerja lagi dan seterusnya. Mau sejak pagi, sore, atau hanya malam hari. Aku biasanya mencoba menggunakan malam hari untuk pekerjaan yang membutuhkan laptop, sisanya untuk bepergian dan bikin sesuatu tanpa laptop. Belum sepenuhnya berhasil tentu saja, tapi sekarang aku mengerti kemewahan menjadi pekerja serabutan seperti yang sering dikatakan orang-orang padaku. Tapi bicara waktu kerja, mesti bicara liburan juga dong. Nah, ini dia yang mestinya aku bicarakan dari tadi! Haha! Maaf buat pembukaan yang lumayan panjang di depan ya.

Saat aku kerja kantoran, aku mesti bekerja dalam jangka waktu tertentu setiap hari di dalam ruang dan rekan kerja yang sama. Tentu saja ada istirahat makan siang dan juga waktunya pulang, tapi tetap saja yang namanya cara kerja kantoran lama kelamaan akan datang rasa jenuh. Tentunya tekanan yang kita rasakan setiap hari tidak selalu menjadi lebih ringan saat kita pulang. Juga, walaupun pekerjaan yang kita lakukan di kantor cukup bergam, tapi yang jelas misalnya dari jam sembilan pagi sampai lima sore kita mesti duduk di meja, bekerja.

Makanya, hari libur termasuk akhir pekan, menjadi sesuatu yang istimewa rasanya. Saat itu setidaknya bisa melepaskan semua beban tanggungan dikejar-kejar pekerjaan selama beberapa hari. Sungguh tenteram dan damai. Namun, buat aku yang pekerja serabutan ini, liburan itu bisa kapan saja. Aku tidak mesti menunggu akhir tahun atau Lebaran, termasuk jatah cuti. Toh waktu kerjaku pun tidak baku. Aku bisa merasa tidak perlu menyentuh pekerjaan sama sekali sepanjang hari, baru besok mulai bekerja lagi. Aku bisa memilah pekerjaan yang aku lakukan setiap harinya termasuk jangka waktu dan tenggat waktunya agar aku tidak merasa tertekan terlalu lama. Siapa menunda, dia yang merana. Itulah yang mesti aku ingatkan terus-menerus kepada diriku setiap hari. Tapi liburan, aku bisa lakukan kapan saja karena untukku hari ini, liburan adalah jeda. Ia bukan sesuatu yang mesti panjang, berhari-hari dan keluar dari rutinitasku setiap hari. Ia adalah berbagai kegiatan yang tujuannya menjadi jeda dari rentetan kegiatanku setiap hari. Bisa kecil, besar, tak terduga, juga repetisi. Tak masalah, yang penting rasanya. Cara menikmatinya. Jadi, kalau ditanya apa liburanku hari ini?

Berjalan kaki di taman sambil memotret tanaman yang bergerak-gerak tertiup angin, memberi makan burung-burung gereja yang berterbangan mengelilingi atap rumah, mendengarkan album terbaru Justin Bieber sambil menyanyi keras-keras dan joget-joget. Kemudian mewarnai kuku karena sudah mulai bocel-bocel, juga membaca buku puisi buatan teman satu kantorku dulu.

Itu hanya untuk hari ini lho ya. Besok, bisa jadi bentuk liburanku berbeda lagi. Bisa jadi lebih sedikit jumlahnya dan lebih aneh bentuknya, tapi yang penting kan liburan. Jeda dulu. Sekali lagi, karena liburan itu rasa, bukan masa. 


Pernah dipublish di majalah Folksy, edisi 11, Vakantie Issue (2016)

Edited by Angela Shinta



Ngobrol sama Deidra, Soal Ngeramal sampai Media Sosial

Yup, waktunya rehat Folks!

Sehari-hari, apa sih yang biasanya kamu lakukan? Bekerja, kuliah, sekolah, atau melakukan aktivitas lain di luar mainstream? Jangan kira, kesibukan orang di luar sana hanya begitu-begitu saja ya Folks, termasuk tentang cara memandang sesuatu, atau pekerjaan. Nah, beberapa waktu lalu Tim Folksy bertemu dengan Deidra Mesayu di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 30 nih. Lalu kami ngobrol santai di stand Klub Bangsawan sambil sesekali ngintip ke booth Folksy Press kalau-kalau ada kalian yang mampir, hihi. Oiya! Kalian sudah ke FKY belum? Jangan-jangan ada yang sudah bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, tapi belum pernah ke FKY.

Hmm, lalu ada apa sih dengan Deidra? Perempuan delapan bersaudara ini terkenal dengan gambar-gambarnya yang artsy, cara berpakaiannya, bahkan kemampuannya meramal. Karenanya, Tim Folksy (F) kali ini ngobrol dengan Deidra (D) sebagai #artsypeopleofthemonth. Terlepas dari apa yang orang-orang lihat tentang Deidra, khususnya melalui akun Instagram miliknya @ramesayur, Tim Folksy pengen tahu gimana sih cara pandang Deidra soal berbagai hal.

F: Deidra kan narot (tarot), capek nggak sih dicurhatin orang-orang? Paling wow, pernah dicurhatin soal apa?

D: Capek! Tapi itu kan emang pekerjaanku. Hmm, waktu itu sama bapak-bapak dicurhatin soal urusan ranjang.

F: Deidra itu peramal atau seniman?

D: Nah, aku tuh pengen fokus bikin karya dan ngembangin merchandise ku. Merchandiseku itu akan kukembangin rencananya. Biar orang nggak bingung gitu lho. Oh deidra tu yang ramal terus nggambar itu ya, atau yang nggambar terus ramal itu ya.

F: Kamu ngerasa artsy nggak?

D: Emmm, ya. Kurasa aku artsy, karena memang dari dulu aku begini.

Dulu waktu sekolah, suka nggak pede sama bentuk tubuh, mau pakai (pakaian) ini dan itu nggak pede (percaya diri). Dulu sempat insecure. Terus, dulu waktu sekolah kerjaanku nggambar. Jadi buku tuh ya isinya coret-coretan, gambar. Nah, begitu kuliah, oke nih nggak ada matematika, aku bisa nggambar aja. Dulu tuh aku nyatet suka, tapi nggak ada yang nyangkut di otak. Tapi nyatet sukak..

Nah, jadi kurasa aku artsy. Karena aku bukan yang tiba-tiba begini, tiba-tiba pakai bajunya yang artsy banget. Aku dari dulu memang begini, dan lingkunganku juga banyak seniman, bahkan orang tuaku seniman, apalagi waktu aku masuk kuliah.

F: Deidra, dulu kamu pernah social media detox ya, ceritain dong. Soalnya, kalau dilihat dari Instagram kan kamu kelihatan banyak ya temennya.

D: Ehhh, yeah you can say that. Bahkan aku aja bangga sama orang yang ngelihat aku banyak temen di Instagram. Tapi kalau aku butuh uang, butuh makan, butuh cerita, butuh ketenangan batin, aku nggak ke followers ku itu. Dari 4.000, yang mau bener-bener doain aku tiap hari, apalagi kalau aku udah meninggal yang mendoakan dan peduli sama keluargaku itu yang mana aja, nggak semua. Dari awal aku kebanyakan melihat timeline sampai ngerasa semua itu bullshithahaha akhirnya aku uninstall.

Setelah itu, mikir tuh jernih banget, kamu jadi getting your priority straight.

Kamu mau ngapain hari ini di antara jam boker (buang air besar) sampai sikat gigi, lalu pakai baju tanpa buka Instagram tuh gimana. Aku tuh dulu parahnya sampai bawa handphone (HP) ke kamar mandi, mandi pakai musik, baca buku komik di HP, semua di HP apalagi kerjaanku yang ramal online.

Nah, yaudah dari pada aku buang ramal online ku, mending aku buang Instagram ku dulu biar aku ngerti mana yang harus kubaikin mana yang nggak.

Tapi akhirnya ada orang yang bilang ke aku, “Kamu jangan kayak anak alay gitu lah. Kamu tuh kayak anak SMP labil gitu, deactivate atau uninstall Instagram terus balik lagi. Biarkan itu tetap ada di HP mu tapi gimana kamu kontrol biar nggak buka aja. Kalau kamu rasa itu toxic, cukup nggak buka aja.” Gitu, tapi kadang kalau kebutuhanku uninstall yaudah.

Itu masa-masa menyenangkan sih, dimana aku jadi lebih dekat sama teman-temanku.

Aku ngerasa kehilangan banyak waktu karena social media, ya sesimpel lagi makan bareng tapi masih ngecek (social media) gitu lho. Kan nyebelin ya?

F: Kamu tipe yang ingin berubah buat diri sendiri atau ngajak orang lain biar terinspirasi?

D: Dua-duanya. Prioritas pertamaku tetap buat diriku. Kalau aku senang, semoga orang lain terinspirasi. Nah tapi kalau pengen orang lain terinspirasi, cukup kudiemin aja, nggak usah gembar-gembor ternyata mereka terinspirasi sendiri kok. Nggak usah trying hard buat menginspirasi. Kayak orang yang pengen banget viral malah nggak viral. Terus mereka bilang, resep viral itu adalah jangan berusaha viral.

F: Kamu kalau berefleksi suka di mana? Suka jalan-jalan nggak?

D: Olah raga, karena kita fokus dan sambil mikir juga. Misal lari-lari, atau zumba, gitu enak. Aku suka jalan-jalan kalau ada uangnya. Aku lebih suka jalan-jalan sambil urusan kerjaan. Misal ke Jakarta dibayarin buat pameran, atau emang urusan pekerjaan jadi orang tuaku mengijinkan aku lebih merasa enak.

F: Oh Deidra tipe yang nurut sama orang tua ya? Atau kalau merasa benar lakuin aja begitu?

D: Dua-duanya juga. Kalau aku rasa orang tuaku sudah selalu bilang sesuatu, instingnya kok kebeneran terus mereka, aku nggak berani lagi maksain pikiranku. Tapi aku kadang maksain pikiranku karena nggak enak sama orang lain. Misal aku terlalu percaya sama teman, orang tua bilang ngapain kamu tuh percaya banget sama orang itu. Kadang first impression orang tua tuh lebih jeli. Nah kadang bundaku ngeluarin kalimat tuh blak-blakan, kalau ngomong direct banget, nurun ke aku sih hahaha. Kadang ya aku berusaha positif thinking, tapi aku temenan dari kecil sampai sekarang kok ya yang bundaku bilang bener terus. Temanku yang kubela mati-matian karena kukira baik, ternyata bundaku tahu kalau mereka bakal jahatin aku.

F: Padahal orang-orang tahunya kamu seperti rebel gitu ya?

D: Iya kayak pemberontak gitu ya? Nggak, aku anak manis.

F: Pernah ada orang underestimate? Ceritain soal pertemanan kamu.

D: Ya, misal di Klub Bangsawan kan cewe-cewe berjilbab semua, nah lalu aku begini nih (penampilan). Pernah ada temannya Mbak Riri bilang, “Deidra tuh anaknya seks bebas ya?” Nah, temanku marah, mereka belain aku, kamu nilai dia dari pakaiannya doang? Deidra malah yang paling polos dari kami semua, gitu.

Makanya, teman-temanku yang sekarang ini kurasa harus kupertahanin sampai selama-lamanya. Ya karena mereka nggak kayak teman-temanku cowo waktu SMA dulu yang begini: wah iya Deidra bisa ‘dipakai’ kok. Dulu teman-temanku pada begitu, jadi akunya seperti objek. Seperti anjing yang ditendang-tendang gitu, haha.

Sekarang, nemu cewe-cewe yang lebih dewasa dan sayang aku, ngerawat aku, kalau ketemu teman-temanku yang setipe juga langsung sayang. Itu menurutku sesuatu yang membahagiakan sih.

F: Padahal banyak yang bilang kalau cewe temenan sama cowo-cowo itu bakal lebih asyik ya?

D: Nggak juga, tergantung itu tadi.

Nah aku jadi mau cerita tentang bedanya prasangka buruk sama insting. Prasangka buruk itu misalnya kamu berteman sama aku, terus aku bikin salah dan minta maaf. Besoknya waktu aku ngajak main kamu mikir ah deidra nih, jangan-jangan dia mau gitu lagi. Nah itu artinya kamu nggak percaya sama permintaan maafku

Tapi kalau insting, dari awal kamu ketemu udah ngerasa kok hatiku nggak nyaman ya, kok aku takut sih, kok keliatannya matanya jahat ya, kok ngeliatin atas bawah ya. Nah itu insting.

F: Sekarang Deidra lagi suka makan apa?

D: Aku mi! Aku sukak banget mi, apapun yang bentuknya mi aku suka. Sukak mi jawa, spaghetti, mi ayam, semuanya suka!

F: Share tips fashion dong, kalau beli-beli baju di mana sih?

D: Jadi, aku tuh sebenarnya jarang belanja yang beli tuh bundaku dan aku selalu dapat lungsuran (bekas) dari kakakku, atau bapakku, kakak sepupuku. Bundaku juga ngerawat bajunya baik-baik sih. Ini baju bunda waktu kuliah dulu, masih bisa dipakai. Nah bundaku tipe yang kalau beli baju bingung warna apa, beli semua hahaha.

Kalau menurutku Pujha tuh oke, tapi aku nggak kuat milih lama-lama, hahaha. Aku mending second-an dari temenku, jadi yang udah dikurasi temenku.

Aku kalau pakai baju sesuai mood dan nyaut, jadi apa yang ada di lemari kupakai.

 

Jadi itulah beberapa obrolan Tim Folksy dengan Deidra di FKY 30, Folks. Gimana, apakah kamu juga ingin social media detox habis ini? Atau yang sudah beberapa kali tahu Deidra, langsung kaget oh ternyata begini ya orangnya. Hmm, lalu Tim Folksy sempat bertanya kira-kira siapa nih orang yang seru buat diajak ngobrol selanjutnya? Deidra sudah sebut satu nama, tunggu #artsypeopleofthemonth selanjutnya ya!



Writer: Angela Shinta D. P.

Photo: Yasmine Sani Pawitra


Got A Fancy & Warm Homestay for You Folks!

Liburan yuk!

Kamu sudah ada rencana untuk liburanmu di tahun ini Folks? Biasanya, kalau akan liburan apa saja yang menjadi list untuk kamu persiapkan? Destinasi wisata, tentu. Tapi, jangan lupa memikirkan tempat menginap yang nyaman ya.

Nah, beberapa waktu lalu Tim Folksy berkesempatan untuk mengunjungi sebuah homestay di Kaliurang, Yogyakarta, namanya Omah Ucok. Pertama kali datang, kami langsung disambut dengan pemandangan rumput hijau, rumah-rumah bernuansa coklat dan lampu-lampu yang bikin suasananya jadi warm banget. Seketika, Tim Folksy langsung kepikiran, “Asli ini seru banget buat barbeque-an.”

Pilih sendiri rumahmu

Yup, Omah Ucok nampaknya bisa jadi alternatif seru buat kamu yang bosan menginap di hotel Folks. Di sini, kamu bisa memilih satu dari lima rumah yang ada. Jadi, model homestay ini adalah rumah yang terpisah-pisah dalam satu komplek dan masing-masing punya ciri khasnya sendiri. Apa aja sih? Ada rumah mezzanine bata, mezzanine kayu, omah cilik batu, omah cilik kayu dan bata, serta pendopo. Seru ya! Nah, khusus yang pendopo, kamu bisa menggunakannya untuk acara-acara seperti gathering, atau pertemuan dengan kawan lama sambil ngopi-ngopi folks!

Nuansa tradisional di tengah modernitas

Konsep Omah Ucok adalah kombinasi tradisional dan modern, jadi kamu tetap bisa merasakan suasana pedesaan sekaligus menikmati fasilitas hunian masa kini. Pastinya, menginap di Omah Ucok membuat kamu terbebas dari bisingnya laju kendaraan, polusi dan hal-hal lain yang biasanya membuatmu penat. Apalagi, kalau kamu menginap di rumah dengan interior didominasi batu atau kayu, rasanya waktu bangun di pagi hari jadi semangat. Apalagi lokasinya di Kaliurang, sangat pas dengan temperatur udaranya yang sejuk.

Nah, kalau kamu penasaran, Tim Folksy sempat membuat video singkat untuk kamu nih! Selain itu kamu juga bisa kunjungi Folksy Magazine IG TV atau lihat-lihat interiornya di web Omah Ucok. Pilihan homestay udah di tangan, sekarang selamat menentukan destinasi liburanmu Folks!


 

Photo source: https://www.omahucok.com/gallery 



5 Things I’ve Learned About Running a Handmade Decoration Shop

Handmade decoration, menjalani usaha kecil di bidang ini bisa dibilang gampang-gampang susah, juga seneng-seneng nyebelin. Banyak hal-hal yang bisa dieksplorasi dan dipelajari dari berjualan produk dekorasi rumah. Lebih spesifiknya, hiasan dinding (wall decoration). Nah, berikut ini beberapa hal yang sekiranya bisa aku dan tim bagi untuk kalian, semoga bermanfaat ya!

1.       Bagaimana sih membuat konten wall decoration yang cocok untuk konsumen?

Membuat konten akan selalu diawali dengan imajinasi tentang siapa calon konsumen kita. Misal, Maken Living biasanya membayangkan seorang karyawati yang ingin menjadikan dirinya lebih bersemangat menjalani pekerjaannya. Ia membutuhkan sesuatu yang estetis dan kreatif untuk mengisi kubikelnya. Nah, kami mencoba membuat produk dengan ukuran minimalis dan konten yang lucu untuk memberi semangat.


2.       Pahami selera dan keinginan personal konsumen

Setelah konsumen menyampaikan berbagai keinginannya, kami coba mengolah segala informasi. Kemudian, tentu menuangkannya ke dalam desain. Sejauh pengalaman Maken Living, konten personal yang sering dibuat adalah sketsa wajah pengantin atau anggota keluarga.


3.       Belajarlah untuk ‘lebih dekat’ dengan konsumen lewat komunikasi secara organik

Kenyamanan konsumen dalam berkomunikasi dengan sebuah brand akan meningkatkan kedekatan. Melalui kedekatan, harapannya konsumen akan menjadi pelanggan (returned customer). Nah, cara membuat channel e-commerce sendiri, adanya customer service yang melayani chat dan e-mail (berkomunikasi secara organik) akan sangat membantu mengembangkan usaha.


4.       Pelihara brand kamu melalui konten dan packaging

Gimana sih cara berkomunikasi dengan konsumen melalui konten dan packaging? Konsistensi konten dalam berbagai media channels yang kita miliki akan membawa brand ke dalam posisi yang baik dalam ingatan konsumen. Setelah produk kita sampai di tangan mereka, packaging akan jadi pengantar yang mujarab untuk menempatkan brand dalam hati konsumen.


5.       Produk kita harus punya nilai lebih!

Buat kami, hal paling sederhana untuk memberikan nilai lebih adalah informasi. Informasi tersebut bisa berupa tips tentang bagaimana memasang dan menyusun wall decoration. Jadi, konsumen akan punya pilihan berbagai cara memasang dan menyusun wall decoration-nya.


Photo source: https://www.instagram.com/makenliving/
(Published in Folksy Magazine 8th Edition) 

Edited by Angela Shinta D. P.


Waffle Saus Coklat Ala Kebun Roti

Sebentar lagi akhir pekan, yay! Beberapa dari kalian mungkin sudah tidak asing lagi ya Folks dengan @kebunroti. Yup, brand roti lokal ini menjual berbagai roti sehat nan artisan yang bisa kamu sambangi di gerai Conogelateria. Nah, mereka mau berbagi resep sederhana membuat waffle saus coklat nih Folks, kita coba yuk!

Bahan Waffle:

250gr tepung terigu

1 sdt baking powder

1-2 sdm gula semut aren

450-475 ml susu/susu almond/ susu kelapa/ susu beras

1-2 sdm butter dilelehkan/ olive oil

1 sdt garam laut

2 kuning telur

2 putih telur kocok dengan whisk atau mixer sampai mengembang dan kaku

 

Bahan saus coklat:

100 gr susu atau whipping cream cair

100 gr dark chocolate

 

Cara membuat saus coklat:

  1. Hangatkan susu atau whipping cream cair, masukkan dark chocolate
  2. Aduk sesekali sampai coklat meleleh. Gunakan api kecil.
  3. Setelah tercampur rata (tidak perlu sampai mendidih) tuangkan di atas waffle yang telah matang

 

Cara membuat waffle:

  1. Ayak tepung terigu, dan beri baking powder 1 sdt
  2. Masukkan gula semut aren, aduk rata
  3. Masukkan bahan cair seperti susu dan kuning telur, aduk rata dengan spatula
  4. Masukkan butter/ olive oil, aduk rata terakhir masukkan garam laut
  5. Setelah semua tercampur rata baru masukkan putih telur sedikit demi sedikit sambil diaduk dari bawah ke atas supaya adonan ringan (usahakan udara dalam putih telur tidak banyak keluar)
  6. Panaskan cetakan waffle, beri minyak atau butter supaya tidak lengket
  7. Tuang adonan ke dalam cetakan yang sudah panas. Tutup. Balikkan jika sisi yang pertama sudah matang. Masak sampai kedua sisi matang. Keluarkan dari cetakan
  8. Beri saus coklat. Selain saus coklat, juga enak disajikan dengan keju riccota dan selai strawberry homemade


(Published in Folksy Magazine 8th Edition)

Edited by Angela Shinta D. P.



The Birthday Girl: Folksy Surprise Box

Happy birthday to you, happy birthday to you!

Bulan ini Folksy berulang tahun ke-empat nih. Udah berasa banget suasana persiapan event untuk merayakannya beberapa bulan lagi.

Tim Folksy mau mengucapkan selamat untuk kalian yang sudah mengikuti sepak terjang majalah ini sejak empat tahun yang lalu. Kalian keren! Mungkin kalau bukan karena dukungan kalian, Tim Folksy saat ini tidak akan bersiap-siap menyambut tahun keempat. Wah, terharu rasanya folks hehehe.

Nah, kita rayakan bersama-sama yuk Folks!

Folksy membuat beberapa surprise box untuk kalian, tentunya stok terbatas ya. Isinya sudah Tim Folksy bagi-bagi, tapi sedikit bocoran nih hihihi jadi kalian akan ada yang dapat postcard, pouch, stickers, notebook, dan...rahasia! Tapi tentunya ada majalah Folksy ya.


IDR: Rp 180.000,-
Order via: +62 81802604471













Sisters Day Out

Hi Folks! Akhir pekan nanti, ajak kakak perempuan jalan-jalan yuk. Tenang, boleh juga kok ajak teman perempuan kamu. Cari tempat yang menurut kalian oke buat foto-foto lucu, lalu coba berdandan ala diri kalian masing-masing yuk. Gimana ya hasilnya, apakah sangat match atau malah bertolak belakang? Share foto-foto seru kalian di Instagram @folksymagazine ya, ditunggu!














Bag, accessories: Pix and Stacy (@pixandstacy)
Wardrobe, bag and scarf: Collage Kit (@collage_kit)
Location: Summergrass Bed and Breakfast (@summergrass.jogja)

Photographer and stylist: Yasmine Sani Pawitra (@pawitralaya)

Muse: Puput Aridhijati (@helloatmay), Angela Shinta (@sunshineatfour)



A Letter from the Future

Kepada Aku yang baru menginjak 17 tahun,

Kamu bukan lagi anak kecil yang suka merengek pada orang tuamu. Hari ini kamu akan mulai melihat dunia. Dunia yang selama ini hanya kamu dengar dari bisikan angin dan para orang dewasa yang sok tahu. Berawal dari perjalananmu ke sebuah kota nun jauh di sana, kamu akan melihat dan merasakan berbagai fenomena yang terasa asing bagimu. Memang tidak mudah awalnya, tapi percayalah bahwa kamu dapat melalui semuanya dengan baik.


Kamu akan bertemu dengan orang-orang baru yang datang silih berganti. Sebagian akan menyakitimu, sebagian akan menjadi penonton bagi lakumu, dan sebagian akan setia pada dirimu. Satu hal yang pasti, mereka semua akan menjadi pelajaran berharga bagimu. Petualanganmu tak akan berhenti sampai di situ. Keingin tahuanmu yang tinggi akan membawamu menuju tempat-tempat yang tak pernah kau kunjungi sebelumnya. Dari tempat-tempat ini, kamu akan menyadari bahwa kamu hanya bagian kecil dari semesta, dan kamu patut mensyukurinya.


Nanti, kamu akan lebih sering berjalan sendiri dan mengevaluasi diri. Merenungi banyak hal yang muncul di luar ekspetasimu. Mempertanyakan ini itu sambil menikmati senja dari daun jendela di bilik kamarmu dan mendengar musik kesukaanmu. Kadang kalau sedang bosan dengan musik-musik itu, kamu akan menikmati langit senja dalam hening. Meski atmosfirnya akan membuatmu semakin larut, luapkan saja, yakinlah bahwa lara itu akan berlalu seiring dengan pergantian hari. Menunjukkan titik lemahmu sekali-kali itu tak apa, setidaknya kamu jujur pada dirimu sendiri.


Hal terakhir yang perlu kamu ingat adalah kamu memiliki potensi luar biasa untuk menjadi manusia yang luhur. Lakukanlah apapun yang menyenangkan hatimu. Baik itu dengan berkesenian, berbagi, ataupun hal lain yang dapat membuatmu tersenyum bahagia. Walau akan ada yang tidak selaras dengan caramu, biarkan saja. Menjadi sedikit berbeda itu asyik kok. Dengan itu kamu akan memahami bagaimana cara dunia bekerja.


Dari Aku, 5 tahun kemudian.


Editor: Angela Shinta Dara Puspita


Keseruan Folksy Women Week

Beberapa waktu yang lalu, Folksy Magazine merayakan Hari Kartini selama dua hari. Kami menamai perayaan ini, “Folksy Women Week.” Bertempat di CIAO Point Yogyakarta, Tim Folksy ingin berbagi keseruan merayakan Hari Kartini dengan berbagai workshop, book talk, dan talk show bersama para perempuan inspiratif.

Suatu pagi di akhir pekan, tanggal 21 dan 22 April 2018 Tim Folksy menggelar kain berbagai warna, menata berbagai keperluan, serta menyiapkan pop-up-shop. Lalu, menyusun rumah-rumahan kardus dengan washi tape kesukaan Tim Folksy. Di sampingnya, ada beberapa mainan anak untuk peserta yang mengajak buah hatinya. Lucunya, ada juga mini organ untuk yang senang bermain musik, bahkan ada kuda mini dan berbagai mainan unik lainnya. Ya, ini adalah salah satu dukungan dari Haidee Rental, bisnis kreatif yang menyewakan mainan-mainan unik.

Sambil mendekor rumah kardus, ratusan washi tape dari Gudily bertebaran di lantai. Tim Folksy memotong, menempel, sampai bingung ingin pakai yang mana dulu. Siap? Acara hampir mulai! Peserta datang dan membongkar goodie bag, lalu senyum-senyum sendiri. Sepertinya, isinya lucu-lucu dan made-my-day banget, ya. Beberapa diantaranya adalah hadiah kecil dari Semoet Ketjil, Cipan Organics, Evete Naturals, dan masih banyak lagi.

Keseruan yang pertama dimulai, Puty Puar hadir untuk berbagi kreatifitasnya membuat jurnal dan doodling. Seorang ibu, ilustrator, sekaligus penulis buku ini juga sempat sharing pengalamannya menulis buku saat sesi book talk. Saat berlatih doodling, peserta asyik mengombinasikan warna-warna menggunakan alat tulis dari Staedtler. Mereka sangat bersemangat, apalagi saat sesi pembagian door prize. Kali ini, Mums Projcets mencoba berbagi karyanya berupa buku berbahan kain untuk perempuan yang sedang memiliki bayi. Wah, Tim Folksy sih juga ingin sekali bukunya.

Setelah seru-seruan dengan Puty Puar, workshop dari Desia’s Kitchen dan Fuwa Fuwa pun disambut hangat oleh peserta. Saat itu, lima hingga delapan orang duduk melingkar, berlatih membuat cheese cake dan sebagian membuat pompom. Suasananya akrab, mereka pun bisa tanya-tanya langsung dengan Desia dan Okta. Puncaknya, hadir empat perempuan inspiratif yang bergerak untuk perubahan sosial sesuai bidangnya masing-masing. Mereka adalah Ina Pane (Animal Friends Jogja), Pamela Abigail (social activist), Shinta Arshinta (Pusat Rehabilitasi YAKKUM), dan Fitri (SURVIVE! Garage).  Masing-masing memiliki fokus berbeda, dari mulai isu satwa, difabel, hingga idealisme seni.


Akhirnya, kerja keras selama beberapa bulan terbayarkan. Dukungan dari berbagai pihak pun sangat besar pada kesempatan tersebut. Salah satunya juga dari Omah Ucok, sebuah homestay kreatif yang memadukan aspek modern dan tradisional. Hari Kartini tahun ini, jadi lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, ternyata merayakan Hari Kartini bisa semenyenangkan ini ya, Folks.Tahun depan, kira-kira akan kita rayakan bersama dengan kegiatan apa nih?



Mencintai Produk Indonesia Ala Lookall Id

Unik, itulah kata yang pertama kali terlintas di benak Tim Folksy ketika bicara soal Lookall Id. Coba intip akun Instagram Lookall Id, kamu akan temukan sweater berdesain ayam jago, kaos kaki gambar kaleng kerupuk, dan barang lain yang bisa membuatmu terlihat estetik untuk mejeng di malam Minggu. Tampaknya, mengubah barang-barang biasa menjadi lebih unik, adalah ‘rebel’ versi Jaka, sosok dibalik brand yang berdiri sejak tahun 2015 itu. Serunya, Tim Folksy mendapatkan kesempatan untuk ngobrol langsung dengan doipenasaran?

Q: Apa sih tema dan hal yang melatarbelakangi Jaka bikin ini?

A: Sebenarnya tema yang diangkat bukan hanya makanan sih, tapi apa aja yang ada di keseharian yang  Indonesia banget. Latar belakang bikin ini sebenarnya adalah kejenuhan saya melihat tema lokal yang itu-itu saja pada berbagai brand Indonesia. Seperti tema pahlawan, tokoh, dan lainnya yang disajikan gitu-gitu saja. Padahal, Indonesia punya banyak objek menarik yang bisa diangkat, jika digali lebih dalam lagi. Seperti halnya spanduk pecel lele, mungkin kita sering menemukan dan melihat spanduknya tiap hari, tapi terkadang kita cuek gitu aja. Padahal itu adalah salah satu kearifan lokal yang Indonesia banget. Dari sana saya terpikir untuk membuat sebuah brand dengan mengangkat tema-tema yang ada di keseharian yang pastinya Indonesia banget, tapi dikemas dalam sebuah produk yang hype ala generasi millennial sekarang.

Q: Kenapa namanya Lookall?

A: Kenapa namanya Lookall? Itu sebenarnya gabungan antara LOKAL dan LOOK ALL mungkin definisi singkatnya adalah melihat semua kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kayaknya gitu.

Q: Craft apa saja yang dibuat Lookall? Apakah yang terpampang di Instagram saja?

A: Iya untuk sementara yang terpampang di Instagram saja, tapi dalam waktu dekat kita bakal ngeluarin beberapa produk baru lainnya. Stay tuned!

Q: Sejak kapan sih Jaka bergelut bersama Lookall.id? Apa ini bagian dari mencintai produk lokal?

A: Lookall Indonesia berdiri sejak tahun 2015. Yaps, mungkin ini salah satu cara untuk mendekatkan produk lokal Indonesia ke masyarakat yang lebih luas dan dari sana diharapkan tercipta rasa peduli dan mencintai produk dalam negeri. Selain itu produk ini juga diharapkan nantinya tidak hanya dinikmati orang Indonesia saja tapi dapat dinikmati orang luar Indonesia. Syukur-syukur bisa ngenalin Indonesia lebih jauh lagi di mata dunia.

Q: Gimana respon orang-orang terhadap apa yang Lookall tampilkan? Banyak kah yang berminat sama produk Lookall?

A: Alhamdulillah, untuk respon sangat positif dan lumayan banyak yang tertarik sama produk Lookall. Selain itu, banyak cerita seru yang datang dari orang-orang yang pakai produknya Lookall. Seperti halnya “Baju Kerupuk” yang kita buat, menimbulkan banyak cerita seru. Contohnya ada beberapa pelanggan kami yang cerita pada saat memakai produk tersebut, dia menjadi salah satu bahan perhatian orang-orang dan terkadang ditanyain, “Bang kerupuknya berapaan?” atau “Mbak, hati-hati kerupuknya melempem,” haha.. Dari sana mungkin bisa dikatakan kalau produk ini sudah mampu menarik perhatian dan diharapkan semakin banyak orang yang berminat terhadap produk Lookall.

Q: Dari sekian craft yang sudah dibuat, mana yang paling favorit?

A: Mmhh, mana ya?  Kayaknya digemari semua karena barangnya sudah pada sold out.

Q: Adakah rencana besar untuk Lookall?

A: Rencana besar? Apa ya? Mungkin angan-angan aja lah suatu saat nanti Lookall menjadi salah satu brand fashion setingkat dunia yang bertemakan Indonesia dan turut serta mengenalkan Indonesia di mata dunia.

Q: Pesan Jaka melalui brand Lookall?

A: Lihat di sekeliling kita, banyak kearifan lokal di dalamnya dan banyak objek-objek unik, menarik, dan terkadang menggelitik yang belum tentu di negara lain punya. Indonesia tidak hanya kaya akan budaya dan adat saja tapi objek-objek di dalamnya pun sangat beragam, maka dari itu hargai dan cintailah Indonesia!
 




Photo source: https://www.instagram.com/lookall_id



Studio Visit: Raksasa Print

Desember 2017, team Folksy untuk pertama kalinya pergi ke Malaysia untuk mengikuti Rantai Art Festival di IAM4U Puchong. Sebuah kesempatan yang sangat menyenangkan, bisa jalan-jalan sekaligus bertemu artist dan crafter Malaysia. Salah satu tenant favorit yang sudah Folksy incar sebelum kita sampai di Malaysia adalah Raksasa Print Studio! Raksasa Print adalah silkscreen printing studio yang didirikan oleh Jane Stephanny dan Julienne Mei Tan. Bersama beberapa teman lainnya mereka membuat berbagai macam merchandise mulai dari zine, plushie, tas, hingga kaos.

Tepat seperti yang sudah kami harapkan, meja Raksasa Print di Rantai Art Fest penuh dengan berbagai zine dan artprint yang melambai-lambai minta diborong. Sambil berbelanja Folksy berkenalan dengan Jane dan Julienne yang ramah. Mereka bahkan mengajak kami untuk mampir ke studio mereka di Chinatown Kuala Lumpur. Tentu saja mau! Kami langsung membuat janji untuk bertemu di Chinatown keesokan harinya.

Raksasa Print Studio terletak di lantai 4 dan memiliki akses ke rooftop garden kecil yang cantik. Kadang-kadang mereka mengadakan movie screening di sana. Ngos-ngosan naik tangga ke lantai 4? Jangan khawatir, mereka menjual minuman ringan di mini bar untuk kita yang kehausan. Jadi bisa duduk minum cola dingin sambil memanjakan mata melihat koleksi printilan yang lucu-lucu. Sementara itu studionya sendiri merupakan sebuah ruangan yang luas, memanjang tanpa sekat. Dindingnya dipenuhi artwork Raksasa Print dan juga rak-rak berisi CD dan buku bekas yang bisa kita koleksi.

Folksy mengobrol dengan Jane dan Julienne di bagian depan studio yang biasa dipakai Julienne untuk mengajari murid-muridnya. Ya, Raksasa Print secara berkala juga membuat workshop screen printing untuk siapa saja yang ingin belajar, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka ingin membagikan ilmu sekaligus menunjukkan kecintaan mereka terhadap seni kepada masyarakat Malaysia.



Kalau kamu ingin berkunjung ke Raksasa Print Studio, jangan lupa menghubungi mereka terlebih dahulu melalui email atau instagram @raksasaprint karena saat ini mereka hanya membuka studio by appointment. Atau kunjungi raksasaprint.com untuk melihat jadwal workshop dan pameran.



The First #MakersMarket in Town

#Throwbacklastweek

So Folks, this is the euphoria of #MakersMarket at Greenhost Hostel last week. Many days left and still, we can move from this event. Makers Market is an event featuring several artisans to showcase their artwork and you can appreciate them by buying some products they made. We also held some workshops and talk show presented by local artists in Yogyakarta. The enthusiasm of participants and visitors is the most important thing that turns this two-days-event (October, 14th & 15th 2017) to be amazing. Do we should make some kind of this event again?

If you are a participant or a visitor, tell us how do you feel and how happy you are attending this event. Also, thanks to Genetika Concept Store as our partner to held this event. Well, let’s enjoy the vibes again!


Looking for some ‘fresh’ earings? @gendis.projects offer you some fruity design earings. Let’s celebrate the cuteness and be different.

Looking for some ‘fresh’ earings? @gendis.projects offer you some fruity design earings. Let’s celebrate the cuteness and be different. 


Are you interested in some embroidery things? So you can wear the embroidery art work everytime you want. (embroidery necklace from @cub.club_)

Are you interested in some embroidery things? So you can wear the embroidery art work everytime you want.

(embroidery necklace from @cub.club_)

So, there’s a 90’s magazine in Indonesia entitled “Sarinah” and you can find them in different ‘creature’ now. (Collage postcard from @proyeksarinah).

So, there’s a 90’s magazine in Indonesia entitled “Sarinah” and you can find them in a different ‘creature’ now.
(collage postcard from @proyeksarinah).


Wanna play with them? (Paper craft from @lowpolypaper)

Wanna play with them?
(paper craft from @lowpolypaper)

This is our ways to appreciate local maker and crafter, now you can catch them up at their instagram and also follow @folksypress for some projects update. 

Photo by @dicakravala



Recent Post
Categories