JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Seniman Atau Pengrajin? Yang Penting Sih Rajin

by Ika Vantiani on 2019-05-16 19:57:24

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010, dalam sebuah wawancara oleh sebuah koran di Jakarta, saya pernah ditanya bagaimana saya melihat diri saya, seniman atau pengrajin. Dengan cepat saya jawab pengrajin, karena saya sadar sekali betapa saya memulai proses berkarya saya berasal dari sana. Tidak hanya dalam membuat produk namun juga komunitas dan pasar yang saya ikuti baik di Jakarta maupun di luar Indonesia.

Saya masih ingat bagaimana semangatnya saya saat diajarkan membuat sabun berbungkus pita menggunakan jarum pentul di bangku Sekolah Dasar dulu. Yang kemudian saat di bangku Sekolah Menengah ada trend jepit rambut dari pita yang saya juga pelajari dengan penuh semangat dan kemudian bahkan berani mulai menjual jepit rambut pita tersebut kepada tetangga dan bibi serta teman ibu saya. Hingga di tahun 2004 saat saya melihat trend korsase dari felt di Jakarta waktu itu,saya pun mulai menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membuat kelopak bunga yang paling sempurna di seluruh jagat raya untuk korsase felt buatan saya. Saya juga masih ingat saat dengan malu-malu memperlihatkan kepada seorang teman sekotak felt korsase buatan saya yang langsung dengan penuh semangat teman saya itu menawarkannya pada teman-teman kantornya. Atau seorang teman lain yang memiliki sebuah toko furniture juga menawarkan untuk menjualkannya di tokonya. Itulah pertama kali saya mengenal yang namanya membuat sesuatu dan menjualnya kepada orang lain. Tidak mudah, bukan karena saya merasa kesulitan menentukan harga atau menjualnya kepada siapa, tapi lebih kepada betapa beratnya ternyata merelakannya menjadi milik orang lain! Haha!

Perasaan sulit berpisah dengan karya buatan tangan masih berlanjut sampai pada tahun 2008 saat saya mulai melihat kolase sebagai medium membuat karya seni setelah sejak tahun 2000 saya hanya melihat kolase sebagai cara untuk membuat zine saja. Lewat blog seniwati-seniwati kolase dan mix media seperti Lisa Congdon, Mati Rose dan Karena Colquhoun, saya melihat lagi bagaimana kolase kemudian bisa menghasilkan karya yang sangat cantik dan membahagiakan tidak hanya di mata tapi juga di dada pembuatnya. Karenanya kemudian mulailah saya menghabiskan berjam-jam setiap pulang kantor membuat kolase hingga kemudian berpameran dan juga membuat lokakarya hingga hari ini dan disebut sebagai seniman kolase kemudian. Dan walaupun saya masih sulit berpisah dengan beberapa karya kolase yang saya buat, namun saya juga sadar bahwa kalau saya tidak menjualnya lalu mau saya taruh dimana?Karena ruangnya sudah tidak ada, sementara saya juga butuh uang. Jadi mari realistis sajakan?

Jadi kembali ke pertanyaan diatas, apakah saya seniman atau pengrajin?saya akan bilang saya keduanya.Walaupun ada bedanya tentu saja. Misalnya saya membuat karya kolase untuk pameran, membuat produk kriya untuk dijual. Tapi toh karya kolase yang dibuat untuk pameran juga kemudian dijual kan? Atau saya ada pesanan membuat produk kriya untuk souvenir pernikahan, saya juga menerima pesanan kolase untuk dekorasi kantor teman. Kemudian kalau kolase hanya ada satu buah karya asli, karya kriya saya walaupun jumlahnya banyak namun tetap tak akan pernah cukup banyak untuk bisa dibilang produk massal. Artinya, tetap ada eksklusifitas disitu kalau memang mau bicara eksklusifitasya. Lalu kebutuhan akan artisan. Sebagai pengrajin saya sangat bergantung pada artisan untuk banyak produk kriya saya, sama seperti kebutuhan saya saat mau berpameran akan artisan yang membuat bingkai dan membantu pemasangan display pameran saya.  Iyakan?

Lalu kalau kita bicara tentang cerita karya dan produk kriya yang kita buat, semuanya ada ceritanya walaupun perspektif ceritanya berbeda. Bisa lewat konsep karya, bisa lewat bahan untuk kriyanya. Artinya produk itu baik karya seni atau kriya, mereka bukan produk kodian atau buatan massal yang bisa dibeli di mal atau department store. Dengan publik yang masih belum banyak mengerti proses pembuatan sebuah karya seni atau kriya buatan tangan, mengedukasi publik untuk seorang seniman dan pengrajin menjadi beban yang bisa dibagi bersama agar publik mengerti kenapa karya dan kriya buatan kita nilainya berbeda dengan apabila mereka membeli produk massal. Karena walaupun dengan banyaknya market atau bazaar art & craft seperti sekarang menurut saya tidak lantas berarti publiknya sendiri mengerti tentang produk atau karya yang mereka beli selain karena mereka menyukai tampilannya. Apalagiya? Oh proses kurasi. Apabila di galeri atau pameran ada kurasi, di banyak art & craft market juga banyak yang mengaplikasikannya terlebih apabila memang ada tema tertentu dari market tersebut. Belum lagi kalau bicara profesionalisme, seniman dan pengrajin saya percaya memiliki ekspektasi yang sama dari klien atau pembeli mereka.

Iya kan, hampir tidak ada bedanya menjadi seniman atau pengrajin pada akhirnya. Kita semua ingin bisa hidup dari karya atau kriya yang kita buat karena kita senang membuatnya. Toh intinya sama, berkarya dengan gaya dan keterampilan yang kita miliki dan pelajari sampai hari ini. Sama-sama bergengsi, sama-sama bikin bangga. Hanya sekarang pertanyaannya mau jadi seniman dan pengrajin seperti apa kitanya?

Kalau saya mau jadi seniman dan pengrajin yang rajin, karena rajin membawa banyak manfaat di dunia dan akhirat.

“Saya percaya semua orang kreatif, tapi memang tidak semua orang rajin.”

 Ika Vantiani  


Artikel ini pernah dipublish di Folksy Magazine 

Recent Post
Categories