JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas

by Nifadhilah Sofiassalam on 2019-01-25 10:48:06


"Intro"

"slow music"

Clap (tepuk tangan satu kali)

Siapa yang familiar dengan opening video di atas? Ya benar, itu tadi adalah opening video-video dari channel Youtube bernama Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas, atau biasa disingkat dengan KKL, atau mereka sendiri lebih sering menyebut diri mereka qql.

Hah, apa tadi? Kok lampu lalu lintas, memangnya siapa sih mereka? Kemarin tim folksy berkesempatan untuk ngobrol dengan Aya dan Fabi, dua dari tiga anggota KKL. Nah, simak obrolan kami dengan mereka yuk, Folks!

Halo KKL! Kenalan dulu dong, kalian ini sebenernya siapa sih?

Halo halo, kami dari, kelompok kolektif lampu-lalu-lintas. Kita bertiga, ada aku (Aya) lampu merah, ada Fabi lampu kuning dan Fasya lampu ijo. Jadi di channel youtube qql itu ada video-video yang menggemaskan, hehehe. Video yang sebenarnya nggak penting, tapi, kita merasa itu penting. Topiknya bisa macem-macem, mulai dari seni, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Tapi sebenarnya lebih banyak tentang seni dan gaya hidup sih.

Awalnya gimana sih, kok bisa terbentuk KKL?

Jadi, kami dulu pernah satu sekolah, aku sama Fasya pernah satu ekskul, jadi aku tahu kalau dia suka hal-hal tentang seni juga. Waktu kita kelas 11, Fabi pindah sekolah. Nah, justru pas Fabi pindah, kita bertiga jadi deket. Hampir setiap minggu ketemuan, biasanya main ke pameran atau acara di jakarta bareng-bareng. Akhirnya bikin nama geng dan merintis karir jadi Youtuber.

Kok namanya bisa KKL, gimana sejarahnya?

Dulu namanya sempat The Lampu Merah, gara-gara pas ada acara ulang tahun temen yang temanya retro, kita bertiga sama-sama pakai turtle neck merah, kuning, dan ijo. Dari situ, kami menamai diri kami The Lampu Merah, tapi terus ganti jadi lampu lalu lintas karena sebagai Aya, si lampu merah, aku merasa spotlight nya di aku, padahal yang lain juga kerja untuk video-video kami di Youtube. Selain itu, kami ingin pakai istilah sebenarnya bukan istilah sehari-hari, jadi lampu lalu lintas bukan lampu merah lagi.

Ceritain dong, gimana awalnya sampai KKL buat video-video di Youtube?

Sebenarnya waktu KKL ada, kita nggak pernah sampai berpikiran untuk bikin video di Youtube. Waktu itu karena aku (Fabi) lagi siapin kado untuk acara tukar kado yang videonya ada di channel youtube KKL itu, awalnya spontan aja, pas itu liat ada kamera, terus ya ingin mengabadikan aja. Lalu, edit-edit videonya, dulu pertama kali di upload di channel pribadi aku, terus kepikiran, kenapa nggak coba bikin channel baru aja, dengan nama kita, qql.

Konten video-video KKL kok bisa unik gitu, apa emang ide kontennya sengaja dibikin beda?

Kami sebenarnya bikin konten video, tentang video yang pengen kita tonton. Seperti video ‘Pamer Barang : Pasar Baru’ misalnya, kami suka nonton thrift haul dari Youtuber luar negeri, dan di Indonesia sepertinya hal itu masih baru. Karena Fabi udah biasa thrifting kami akhirnya bikin video tentang thrift haul ala kami sendiri. Lalu, video KKL pertama, ‘Tuker Kado’, itu sebenarnya pengen ikutan video-video unboxing tapi dengan twist isi kado adalah barang-barang dari rumah sendiri. Kalau video yang ‘Sedetik Sehari’ Fabi duluan yang punya ide, dia udah sering bikin video-video ‘Sedetik Sehari’, pas KKL punya channel youtube, langsung deh di propose jadi project bulanan.

Kalau konten video seperti ‘Cerita Rakyat’ dan ‘Kultum’ emang dibuat untuk seru-seru an aja, atau mau kasih edukasi ke viewers juga?

Kalau cerita rakyat, awalnya kami juga nggak tau tetang cerita itu, terus search, kok ternyata bagus, jadilah dibikin konten buat video. Konten ‘Cerita Rakyat’ mengedukasi kami lebih dulu. Kalau ‘Kultum’ pada dasarnya emang sharing aja, tapi dikasih batas waktu tujuh menit, biar ngomongnya nggak ngalor-ngidul. Disetiap video yang di upload, kami pengen ada outcome yang positif dari video itu, entah menghibur atau mengedukasi, jadi kuota, waktu, dan effort yang dikeluarin buat nonton video kami tidak terbuang sia-sia.

Pertanyaan terakhir, gimana sih pandangan KKL tentang video-video youtube di Indonesia?

Kalau dari aku (Fabi) sendiri, mungkin selama ini banyak youtuber yang masih mementingkan popularitas, padahal kalau digunakan dengan baik dan benar, sebenarnya Youtube itu bisa menjadi wadah untuk kita berbagi informasi. Walaupun aku masih jarang liatnya di Indonesia, tapi semakin kesini semakin banyak channel-channel Youtube yang kreatif, kritis, yang tidak mementingkan popularitas tetapi lebih mementingkan bobot kontennya. Walaupun memang masih jarang, tapi sepertinya akan berkembang.

Nah, itulah tadi hasil obrolan tim folksy kemarin dengan Aya dan Fabi, anggota dari KKL, seru banget kan ngobrol sama mereka. Kalau kalian masih penasaran dengan mereka atau penasaran dengan video-video mereka, langsung saja buka youtube channel mereka di Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas. Selamat menonton!


Recent Post
Categories