JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Girl Gang Is Not My Thang

by Ika Vantiani on 2019-01-14 10:54:59

Saya percaya konsep kerja kolektif dengan sepenuh jiwa raga saya. Pengalaman saya berkolektif adalah yang membuat saya menjadi diri saya yang hari ini. Sejak pertama kali dikenalkan pada bentuk sistem kerja ini, dimana semua orang di dalamnya memiliki posisi, peran dan tanggung jawab yang sama, saya tidak lagi merasa mesti sendirian terus untuk menggapai sebuah tujuan. Dan yang paling penting, saya juga bisa belajar dan melihat bahwa semua orang itu SAMA. Tidak peduli jenis kelamin, orientasi seksual, latar belakang, status, jumlah followernya, ataupun dia temannya siapa. Tak ada ketua, semuanya adalah anggota.

Saya mulai berkolektif sejak tahun 2001. Awalnya hanya dengan teman-teman lelaki dimana saya selalu jadi satu-satunya perempuan di dalamnya. Tapi sebenarnya, tak pernah sekalipun saya merasa begitu kalau saja beberapa orang tidak mengingatkan tentang hal tersebut, karena memang saya tidak merasa dibedakan sama sekali oleh teman-teman berkolektif saya. Dari mulai pembagian kerja, peran dan tanggung jawab tak pernah sekalipun ada kata-kata ‘Lo kan perempuan…”. Saya sungguh merasa berdaya dan bangga dengan hasil-hasil kerja kolektif kami. Dan saat akhirnya kami mengambil keputusan untuk membubarkan kolektif pun kami melakukannya dengan biasa saja dan tetap berteman baik setelahnya. Begitu pun pengalaman saya berkolektif dengan beberapa teman lelaki dan perempuan untuk sebuah acara pameran yang kami buat bersama. Semuanya berjalan lancar hingga acara selesai walaupun pasti ada kekurangan disana sini tapi di akhir acara kami semua senang dan kolektif kerja kami berakhir dengan riang gembira bersamaan dengan berakhirnya acara. Dan satu hal yang menarik dari berkolektif bersama dengan teman lelaki semua atau dengan teman lelaki dan perempuan adalah kolektif kami dilihat sebagai sebuah kelompok kerja seperti banyak kelompok kerja lainnya. Orang luar melihatnya dari hasil-hasil kerja kami sebagai kolektif.

Namun ternyata kalau berkolektif bersama perempuan semua, dinamikanya jauh berbeda. Sebagai perempuan, saya mengerti dan mengakui spesialnya menjadi bagian dari kolektif yang semuanya perempuan terlebih saat perempuan lebih sering dimotivasi untuk berkompetisi mencari perhatian lelaki dan dibuat untuk merasa dirinya ‘kurang’ terus oleh lingkungan sekitarnya. Mungkin itu juga yang membuat sulit sekali mengaplikasikan bahwa kita semua sama kalau berkolektif bersama perempuan, karena selalu ada yang merasa minder atau ‘kurang’ dibandingkan anggota lainnya di dalam kolektif. Lalu kalau kita bicara emosi, semua orang tentu saja mempunyai emosi namun tampaknya kalau berada di dalam kolektif perempuan manajemen emosi adalah sebuah tantangan tersendiri. Berusaha untuk tetap tidak terbawa emosi saat anggota yang lainnya sedang sangat emosi bisa jadi sebuah tugas yang tidak ringan bagi anggota lainnya, apalagi kalau mesti berada di dalam situasi seperti itu berkali-kali. Belum lagi mereka yang bicara di belakang, sikut-sikutan, ingin lebih ‘tampil’ dari yang lainnya, dan kehidupan personal setiap orang di dalam kolektif yang juga memiliki tantangan tersendiri. Berkolektif bersama perempuan menjadi rangkaian upaya menanggulangi ini semua hingga seringkali malah lupa tujuan berkolektifnya semula untuk apa. Padahal  setiap orang di dalam kolektif ternyata memiliki definisi dan ekspektasi berbeda tentang apa itu berkolektif namun belum sempat menyamakan hal ini sudah kadung capek berkolektif jadinya. Lalu bumbu-bumbu dari anggapan dan tanggapan publik diluar kolektif yang melihat betapa kerennya kolektif yang isinya perempuan semua lalu mereka akan memberi ekspektasi-ekspektasi lengkap dengan kritik-kritik nyinyir tak berdasar yang makin menambah tekanan terhadap kolektif perempuan semua ini baik disadari ataupun tidak.

Jadi memang berkolektif bersama perempuan semua itu ternyata jauh lebih sulit daripada berkolektif dengan lelaki semua atau yang ada lelaki dan perempuannya. Setidaknya inilah kesimpulan saya sekarang setelah lebih dari 10 tahun berkolektif dengan berbagai tujuan. Mungkin sudah waktunya saya rehat dulu dari kehidupan berkolektif di luar sana supaya bisa lebih memfokuskan diri kepada kerja kolektif yang ada di dalam lingkungan terdekat saya sendiri seperti pasangan dan keluarga. Karena lalu apa gunanya berkolektif bila tak ada yang dihidupkan dan menghidupkan di dalamnya?




Recent Post
Categories