JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Maybe it’s time to discover yourself more

Folks, apa yang kamu lakukan ketika perasaan-perasaan tidak mengenakkan datang? Seperti sedih, gelisah, merasa tidak menambahkan nilai apa-apa terhadap apa yang dipercayakan padamu, atau perasaan bahwa kamu adalah yang terburuk dari sekian banyak kolegamu. Mengutip kalimat dari Adjie Santosoputro, seorang ahli di bidang self healing and mindfulness, bahwa seperti halnya bahagia, perasaan-perasaan sedih juga butuh kita terima dan rasakan.

Setelah menerima perasaan tidak mengenakkan itu, coba kita melihat ke dalam sendiri. Kira-kira, apa yang menyebabkan berbagai perasaan dan pikiran negatif itu muncul? Sebagian orang memilih jalan-jalan ke tempat yang jauh dan belum pernah dikunjungi sebelumnya. Menyenangkan memang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya, kan? Mari coba terlebih dahulu cara sederhana ini. Kamu butuh selembar kertas dan pena untuk menuliskannya satu demi satu. Pertama, ceritakan yang kamu rasakan dan pikirkan. Tuliskan semuanya, bahkan sampai selembar hingga dua lembar kertas tidak cukup lagi. Setelah itu, ceritakan juga apa yang membuatmu merasakan dan memikirkannya. Apakah pekerjaanmu, atau keseringan membuka media sosial, atau kekhawatiranmu terhadap masa depan? Ceritakan.

Sekarang, waktunya kamu menyortir. Apa saja hal-hal yang harus kamu kurangi dan kamu tambah, supaya kamu merasa lebih baik. Apakah itu seorang teman yang akhirnya kamu rasa memberikan pengaruh negatif? Atau mungkin pikiran-pikiranmu sendiri yang terlalu khawatir tentang hal-hal kecil membuatmu jadi kurang bersyukur? Coba timbang-timbang, mungkin saja kamu juga menemukan bahwa kamu perlu mengubah rutinitas. Kamu mungkin ingin mencoba yoga, mengikuti komunitas baru, bahkan mungkin melakukan hal yang selama ini menjadi ketakutanmu.

Setelah kamu memetakan dan menyortir, putuskan tindakanmu! Mari buat list yang berisi aktivitas konkret berdasarkan apa yang sudah kamu dapatkan dari menyortir. Jika kamu merasa lelah karena begadang tanpa alasan yang jelas, lalu di pagi hari merasa tidak semangat, coba cari cara-cara mengatasinya. Misalnya, minum susu hangat sebelum tidur, kemudian memilih jam tidur tidak diatas tengah malam. Jangan lupa untuk tetap konsisten melakukannya ya. Menurut penelitian, sesuatu yang dilakukan berulang-ulang selama 21 hari akan menjadi sebuah kebiasaan baru. Nah, tidak ada salahnya kan memiliki kebiasaan baru yang lebih positif? Kenali dirimu lebih jauh, jika kebiasaan tersebut membuatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, kamu berhasil.

Biasanya dengan memetakan seperti ini, semuanya akan kelihatan lebih jelas Folks. Kamu pun jadi lebih mengerti apa sebenarnya yang kamu inginkan. Apalagi, ketika kamu memutuskan mencoba hal yang tidak pernah kamu duga-duga sebelumnya, adrenalinmu jadi terpacu, ada kejutan-kejutan kecil saat kamu mencobanya. Aku pun melakukannya Folks, tahun kemarin adalah pertama kalinya aku mencoba facial. Hal ini kuputuskan karena salah satu hal yang membuat mood ku tidak baik di pagi hari adalah jerawat membandel yang kulihat di kaca tiap akan memulai aktivitas. Facial untuk pertama kali, rasanya sangat menyenangkan, aku pun turut menebak-nebak apa yang akan dilakukan selanjutnya kepada wajahku, hahaha.


P.S. Artikel ini pernah dimuat di Folksy Magazine edisi 17


Folksy DIY Class

Mengikuti pergerakan handmade itu berarti harus ikut mengkampanyekan handmade di kalangan umum. Biasanya kampanye itu dilakukan dengan mengadakan acara yang bisa memperkenalkan serunya bebikinan. Workshop craft adalah salah satu acara tersebut. Folksy sudah dikenal dengan sering mengadakan acara workshop di Jogja. 

Membuat workshop craft itu gampang-gampang susah. Kadang bisa gampang banget menjualnya, peserta yang ikut banyak, tapi juga kadang susah menjualnya. Materi workshop yang disukai pun susah ditebak. Ada juga pandangan kalau pemateri workshopnya sudah terkenal biasanya akan mudah mencari peserta, tetapi ternyata nggak 100% benar. Ya ada efeknya sih tetapi tidak sedahsyat yang dibayangkan hehe. Bisa dibilang itu semua adalah suka duka membuat workshop.

Berhenti terbitnya majalah Folksy dan agak vakumnya kami membuat event seperti workshop, bazaar, dan talkshow, membuat kami ingin menghidupkan kembali hiruk pikuk kota Jogja dengan kegiatan seru tersebut. Apakah kalian ada ide atau rekues untuk workshop atau talkshow yang ingin kami wujudkan? Butuh masukannya nih ;) 






Dokumentasi: Folksy Magazine


Play with scarf

Kalian suka pakai scarf tapi bosan kalau dipakai seperti biasanya? Coba intip foto dari Folksy berikut, siapa tau menginspirasi kalian untuk pakai scarf dengan gaya lain ;) Enjoy!




Credit:

Photographer: Luthfi Satya | G: @luthfisatya
Stylist: Olla Agustia Leriani | IG: @olla.tia
Model: Muthia Pratamadea | IG: @mpratamadea
Scarf: Start From The Bottom | IG: @startfromthebottom
Earring: Frigiliana.id | IG: @frigiliana.id
Venue: Sumringah | IG: @sumringahid


Hello Stranger, How Are You?


Semasa kecil, orang tua membatasi kita untuk berinteraksi dengan orang asing, bahkan bagi orang tua yang over protective, mereka memberikan doktrin bahwa orang asing itu berbahaya dan anak-anak dilarang bermain dengan orang asing. Ditambah lagi, pada masa saya kanak-kanak, populernya film Sherina yang diculik oleh orang yang pura-pura menjadi kenalan orang tuanya, membuat saya pribadi semakin parno dengan orang asing. Sebenarnya doktrin dari orang tua tadi merupakan usaha preventif yang baik, namun apabila berlebihan sepertinya dapat menumbuhkan kepribadian malas bersosialisasi alias anti sosial.

Nah, dewasa ini, menyapa dan berkenalan dengan orang asing sudah tidak semenakutkan itu, loh. Ketika menunggu bus, menunggu hujan, menunggu antrian, selalu dihabiskan untuk bermain gadget, membaca buku, atau sekedar melamunkan entah apa itu. Lalu-lalang orang-orang terabaikan, menjadi individual dan larut dalam kepentingan pribadi, seakan dunia ini hanya tentang kita dan kita sendiri. Daripada hanya terkekang dalam keheningan tak berarti, bukankah lebih baik menyapa atau berbicara dengan bahasa manusia?

Kio Stark dalam TED Talks menyebutkan dua hal yang menjadi kelebihan dari berbicara dengan strangers; Yang pertama adalah kita dapat membicarakan hal apa saja, berkata jujur tentang hal yang cukup receh, hingga hal-hal pribadi. Pertemuan singkat, dan kemungkinan untuk bertemu lagi di kemudian hari kecil, maka konsekuensi ceritamu akan tersebar pun juga kecil; Kedua, hubungan kita dengan orang-orang terdekat menimbulkan bias tersendiri, kita berekspektasi bahwa mereka sebagai orang  terdekat sudah sangat mengerti kita, seolah-olah mereka memiliki kemampuan untuk membaca pikiran saja. Ketika dengan orang asing, sudah pasti mereka tidak tahu semua hal tentang kita, member sedikit penjelasan juga akan memberikan mereka sedikit pemahaman, tidak perlu repot-repot berharap mereka mengerti kita secara mendalam. Nah, dari dua hal tersebut sudah terlihatkan bagaimana unik dan serunya pengalaman yang akan kita alami ketika bercengkerama dengan orang asing!

Kemudian, untuk memulai pembicaraan, Kio Stark menyebutkan bahwa biasanya pembicaraan dimulai dengan topik yang mengacu pada pihak ketiga. Misal bagaimana kita memberikan compliment terhadap apa yang ia pakai, betapa lucu kucing yang dia pelihara, atau anak berumur dua tahun yang ia ajak jalan-jalan ketaman.

“When you talk to strangers, you’re making beautiful interruptions into the expected narrative of your daily life and theirs.”- Kio Stark

Untuk menanggapi kutipan tersebut, saya ingin menceritakan sedikit “beautiful interruptions” yang pernah terjadi pada saya. Saya sendiri selalu mengalami percakapan menarik dengan orang asing di bandara, dimana setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, bagaimana mereka mengejar waktu penerbangan yang ternyata malah delay, bagaimana mereka merasakan dan memaknai perpisahan untuk merantau, bagaimana mereka mempersiapkan yang mereka tuju, percakapan-percakapan seperti itu sangat menarik bagi saya. Pernah suatu hari, di bandara, saya diceritakan pengalaman religious dari seorang ibu yang menjadi TKW Taiwan, topic pembicaraan kami dimulai akibat saya secara ceroboh memasukkan barang-barang bagasi kedalam mushola. Kemudian beliau bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya, meski saya sedikit tidak percaya, namun tetap dengan antusias mendengarkan karena semangat yang dibawa beliau.

Kemudian juga terjadi perbincangan saya dengan pria 30 tahunan yang baru saja mengisi seminar kewirausahaan di kota tempat kami bertemu, juga akibat pihak ketiga yaitu delay-nya penerbangan. Banyak hal yang kami bicarakan, dari masalah kota yang relate dengan kuliah yang saya pilih sekarang, hingga kuliah dari beliau agar saya lebih peka dalam melihat peluang berwirausaha, di setiap kesempatan. Dari kedua cerita tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa interupsi dari orang asing memang betul indah, bagaimana mereka dapat menyebarkan semangat walaupun kita tidak saling mengenal, pun saya mendapatkan banyak hal yang benar-benar baru, bahkan bias dibilang kuliah/seminar gratis, hahaha.

Berinteraksi dan berbincang dengan orang asing selalu akan menjadi menarik; Menambah hal-hal baru sebagai pengetahuan baru; Belajar mendengarkan cerita orang lain dan mengajarkan kita untuk tidak melulu menjadi pribadi yang egois yang merasa bahwa dunia ini hanya tentang kita; Menambah kenalan baru atau mungkin kalian memang ditakdirkan bertemu, seperti yang terjadi pada film Hello Stranger dari Thailand (silakan ditonton sendiri karena saya tidak ingin memberikan spoiler).

Lalu, berbicara dengan orang asing tidak perlu tahu siapa namamu, di mana kamu tinggal, pembicaraan akan mengalir secara menarik ketika membahas hal-hal acak, dari topik yang sedang hangat, hingga hal-hal aneh sekalipun. Bagaimana? Tertarikkah untuk memulai percakapan dengan orang asing? Siapa tahu yang kamu sapa besok adalah penulis artikel ini.



Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas


"Intro"

"slow music"

Clap (tepuk tangan satu kali)

Siapa yang familiar dengan opening video di atas? Ya benar, itu tadi adalah opening video-video dari channel Youtube bernama Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas, atau biasa disingkat dengan KKL, atau mereka sendiri lebih sering menyebut diri mereka qql.

Hah, apa tadi? Kok lampu lalu lintas, memangnya siapa sih mereka? Kemarin tim folksy berkesempatan untuk ngobrol dengan Aya dan Fabi, dua dari tiga anggota KKL. Nah, simak obrolan kami dengan mereka yuk, Folks!

Halo KKL! Kenalan dulu dong, kalian ini sebenernya siapa sih?

Halo halo, kami dari, kelompok kolektif lampu-lalu-lintas. Kita bertiga, ada aku (Aya) lampu merah, ada Fabi lampu kuning dan Fasya lampu ijo. Jadi di channel youtube qql itu ada video-video yang menggemaskan, hehehe. Video yang sebenarnya nggak penting, tapi, kita merasa itu penting. Topiknya bisa macem-macem, mulai dari seni, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Tapi sebenarnya lebih banyak tentang seni dan gaya hidup sih.

Awalnya gimana sih, kok bisa terbentuk KKL?

Jadi, kami dulu pernah satu sekolah, aku sama Fasya pernah satu ekskul, jadi aku tahu kalau dia suka hal-hal tentang seni juga. Waktu kita kelas 11, Fabi pindah sekolah. Nah, justru pas Fabi pindah, kita bertiga jadi deket. Hampir setiap minggu ketemuan, biasanya main ke pameran atau acara di jakarta bareng-bareng. Akhirnya bikin nama geng dan merintis karir jadi Youtuber.

Kok namanya bisa KKL, gimana sejarahnya?

Dulu namanya sempat The Lampu Merah, gara-gara pas ada acara ulang tahun temen yang temanya retro, kita bertiga sama-sama pakai turtle neck merah, kuning, dan ijo. Dari situ, kami menamai diri kami The Lampu Merah, tapi terus ganti jadi lampu lalu lintas karena sebagai Aya, si lampu merah, aku merasa spotlight nya di aku, padahal yang lain juga kerja untuk video-video kami di Youtube. Selain itu, kami ingin pakai istilah sebenarnya bukan istilah sehari-hari, jadi lampu lalu lintas bukan lampu merah lagi.

Ceritain dong, gimana awalnya sampai KKL buat video-video di Youtube?

Sebenarnya waktu KKL ada, kita nggak pernah sampai berpikiran untuk bikin video di Youtube. Waktu itu karena aku (Fabi) lagi siapin kado untuk acara tukar kado yang videonya ada di channel youtube KKL itu, awalnya spontan aja, pas itu liat ada kamera, terus ya ingin mengabadikan aja. Lalu, edit-edit videonya, dulu pertama kali di upload di channel pribadi aku, terus kepikiran, kenapa nggak coba bikin channel baru aja, dengan nama kita, qql.

Konten video-video KKL kok bisa unik gitu, apa emang ide kontennya sengaja dibikin beda?

Kami sebenarnya bikin konten video, tentang video yang pengen kita tonton. Seperti video ‘Pamer Barang : Pasar Baru’ misalnya, kami suka nonton thrift haul dari Youtuber luar negeri, dan di Indonesia sepertinya hal itu masih baru. Karena Fabi udah biasa thrifting kami akhirnya bikin video tentang thrift haul ala kami sendiri. Lalu, video KKL pertama, ‘Tuker Kado’, itu sebenarnya pengen ikutan video-video unboxing tapi dengan twist isi kado adalah barang-barang dari rumah sendiri. Kalau video yang ‘Sedetik Sehari’ Fabi duluan yang punya ide, dia udah sering bikin video-video ‘Sedetik Sehari’, pas KKL punya channel youtube, langsung deh di propose jadi project bulanan.

Kalau konten video seperti ‘Cerita Rakyat’ dan ‘Kultum’ emang dibuat untuk seru-seru an aja, atau mau kasih edukasi ke viewers juga?

Kalau cerita rakyat, awalnya kami juga nggak tau tetang cerita itu, terus search, kok ternyata bagus, jadilah dibikin konten buat video. Konten ‘Cerita Rakyat’ mengedukasi kami lebih dulu. Kalau ‘Kultum’ pada dasarnya emang sharing aja, tapi dikasih batas waktu tujuh menit, biar ngomongnya nggak ngalor-ngidul. Disetiap video yang di upload, kami pengen ada outcome yang positif dari video itu, entah menghibur atau mengedukasi, jadi kuota, waktu, dan effort yang dikeluarin buat nonton video kami tidak terbuang sia-sia.

Pertanyaan terakhir, gimana sih pandangan KKL tentang video-video youtube di Indonesia?

Kalau dari aku (Fabi) sendiri, mungkin selama ini banyak youtuber yang masih mementingkan popularitas, padahal kalau digunakan dengan baik dan benar, sebenarnya Youtube itu bisa menjadi wadah untuk kita berbagi informasi. Walaupun aku masih jarang liatnya di Indonesia, tapi semakin kesini semakin banyak channel-channel Youtube yang kreatif, kritis, yang tidak mementingkan popularitas tetapi lebih mementingkan bobot kontennya. Walaupun memang masih jarang, tapi sepertinya akan berkembang.

Nah, itulah tadi hasil obrolan tim folksy kemarin dengan Aya dan Fabi, anggota dari KKL, seru banget kan ngobrol sama mereka. Kalau kalian masih penasaran dengan mereka atau penasaran dengan video-video mereka, langsung saja buka youtube channel mereka di Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas. Selamat menonton!



Previous
 
Recent Post
Categories