JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Folksy DIY Tutorial: Washi Tape Rosette Badge

Kalian suka koleksi washi tape? begitu sudah ada "segunung" trus bingung mau buat apa aja? Gimana kalau kita bikin rosette badge aja? Nih tim Folksy punya tutorial bikinnya :)



Seniman Atau Pengrajin? Yang Penting Sih Rajin

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010, dalam sebuah wawancara oleh sebuah koran di Jakarta, saya pernah ditanya bagaimana saya melihat diri saya, seniman atau pengrajin. Dengan cepat saya jawab pengrajin, karena saya sadar sekali betapa saya memulai proses berkarya saya berasal dari sana. Tidak hanya dalam membuat produk namun juga komunitas dan pasar yang saya ikuti baik di Jakarta maupun di luar Indonesia.

Saya masih ingat bagaimana semangatnya saya saat diajarkan membuat sabun berbungkus pita menggunakan jarum pentul di bangku Sekolah Dasar dulu. Yang kemudian saat di bangku Sekolah Menengah ada trend jepit rambut dari pita yang saya juga pelajari dengan penuh semangat dan kemudian bahkan berani mulai menjual jepit rambut pita tersebut kepada tetangga dan bibi serta teman ibu saya. Hingga di tahun 2004 saat saya melihat trend korsase dari felt di Jakarta waktu itu,saya pun mulai menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membuat kelopak bunga yang paling sempurna di seluruh jagat raya untuk korsase felt buatan saya. Saya juga masih ingat saat dengan malu-malu memperlihatkan kepada seorang teman sekotak felt korsase buatan saya yang langsung dengan penuh semangat teman saya itu menawarkannya pada teman-teman kantornya. Atau seorang teman lain yang memiliki sebuah toko furniture juga menawarkan untuk menjualkannya di tokonya. Itulah pertama kali saya mengenal yang namanya membuat sesuatu dan menjualnya kepada orang lain. Tidak mudah, bukan karena saya merasa kesulitan menentukan harga atau menjualnya kepada siapa, tapi lebih kepada betapa beratnya ternyata merelakannya menjadi milik orang lain! Haha!

Perasaan sulit berpisah dengan karya buatan tangan masih berlanjut sampai pada tahun 2008 saat saya mulai melihat kolase sebagai medium membuat karya seni setelah sejak tahun 2000 saya hanya melihat kolase sebagai cara untuk membuat zine saja. Lewat blog seniwati-seniwati kolase dan mix media seperti Lisa Congdon, Mati Rose dan Karena Colquhoun, saya melihat lagi bagaimana kolase kemudian bisa menghasilkan karya yang sangat cantik dan membahagiakan tidak hanya di mata tapi juga di dada pembuatnya. Karenanya kemudian mulailah saya menghabiskan berjam-jam setiap pulang kantor membuat kolase hingga kemudian berpameran dan juga membuat lokakarya hingga hari ini dan disebut sebagai seniman kolase kemudian. Dan walaupun saya masih sulit berpisah dengan beberapa karya kolase yang saya buat, namun saya juga sadar bahwa kalau saya tidak menjualnya lalu mau saya taruh dimana?Karena ruangnya sudah tidak ada, sementara saya juga butuh uang. Jadi mari realistis sajakan?

Jadi kembali ke pertanyaan diatas, apakah saya seniman atau pengrajin?saya akan bilang saya keduanya.Walaupun ada bedanya tentu saja. Misalnya saya membuat karya kolase untuk pameran, membuat produk kriya untuk dijual. Tapi toh karya kolase yang dibuat untuk pameran juga kemudian dijual kan? Atau saya ada pesanan membuat produk kriya untuk souvenir pernikahan, saya juga menerima pesanan kolase untuk dekorasi kantor teman. Kemudian kalau kolase hanya ada satu buah karya asli, karya kriya saya walaupun jumlahnya banyak namun tetap tak akan pernah cukup banyak untuk bisa dibilang produk massal. Artinya, tetap ada eksklusifitas disitu kalau memang mau bicara eksklusifitasya. Lalu kebutuhan akan artisan. Sebagai pengrajin saya sangat bergantung pada artisan untuk banyak produk kriya saya, sama seperti kebutuhan saya saat mau berpameran akan artisan yang membuat bingkai dan membantu pemasangan display pameran saya.  Iyakan?

Lalu kalau kita bicara tentang cerita karya dan produk kriya yang kita buat, semuanya ada ceritanya walaupun perspektif ceritanya berbeda. Bisa lewat konsep karya, bisa lewat bahan untuk kriyanya. Artinya produk itu baik karya seni atau kriya, mereka bukan produk kodian atau buatan massal yang bisa dibeli di mal atau department store. Dengan publik yang masih belum banyak mengerti proses pembuatan sebuah karya seni atau kriya buatan tangan, mengedukasi publik untuk seorang seniman dan pengrajin menjadi beban yang bisa dibagi bersama agar publik mengerti kenapa karya dan kriya buatan kita nilainya berbeda dengan apabila mereka membeli produk massal. Karena walaupun dengan banyaknya market atau bazaar art & craft seperti sekarang menurut saya tidak lantas berarti publiknya sendiri mengerti tentang produk atau karya yang mereka beli selain karena mereka menyukai tampilannya. Apalagiya? Oh proses kurasi. Apabila di galeri atau pameran ada kurasi, di banyak art & craft market juga banyak yang mengaplikasikannya terlebih apabila memang ada tema tertentu dari market tersebut. Belum lagi kalau bicara profesionalisme, seniman dan pengrajin saya percaya memiliki ekspektasi yang sama dari klien atau pembeli mereka.

Iya kan, hampir tidak ada bedanya menjadi seniman atau pengrajin pada akhirnya. Kita semua ingin bisa hidup dari karya atau kriya yang kita buat karena kita senang membuatnya. Toh intinya sama, berkarya dengan gaya dan keterampilan yang kita miliki dan pelajari sampai hari ini. Sama-sama bergengsi, sama-sama bikin bangga. Hanya sekarang pertanyaannya mau jadi seniman dan pengrajin seperti apa kitanya?

Kalau saya mau jadi seniman dan pengrajin yang rajin, karena rajin membawa banyak manfaat di dunia dan akhirat.

“Saya percaya semua orang kreatif, tapi memang tidak semua orang rajin.”

 Ika Vantiani  


Artikel ini pernah dipublish di Folksy Magazine 


You are perfect, everything is just only in your mind

Kalian pernah menonton film berjudul I Feel Pretty (2018)? Bukan termasuk film box office sih, tapi aku memang lebih suka menonton film yang tidak ada di daftar tontonan wajib kekinian. Random saja, apapun yang sepertinya menarik aku tonton. Film komedi romantis yang dikemas dengan sangat ringan, buat hiburan ‘receh’ kalau bisa dibilang. Sudah bisa ditebak dari judul dan poster kalau film ini bercerita tentang seorang perempuan yang ingin terlihat cantik. Yups betul sekali! Ceritanya tentang perempuan yang merasa minder karena dia merasa jelek dan gendut. Suatu ketika saat si perempuan itu mengalami kecelakaan kecil di sebuah gym, tiba-tiba dia merasa tubuh dan wajahnya berubah menjadi sangat cantik, serta menarik. Disinilah semuanya dimulai, perempuan itu menjadi sangat percaya diri hingga mendapatkan pekerjaan yang diharapkan dan kekasih yang diidamkan. Padahal dalam kenyataannya, kondisi badannya tetap sama seperti dia yang dahulu, tetap tambun. Ujung dari konflik film itu adalah ia menyadari bahwa selama ini dirinya tidak pernah berubah, tetap sama. Hanya pemikirannya saja yang membuatnya merasa sempurna, cantik, berbadan bagus, sehingga berani menampilkan diri apa adanya. Keberuntungan untuk mendapatkan pekerjaan yang dia sukai bukan karena ia berpenampilan bak model, tetapi karena keberaniannya untuk mengutarakan pendapatnya dan selalu memiliki ide cemerlang sehingga disukai oleh bosnya. Bukan juga karena dia cantik dan langsing, sehingga akhirnya mendapatkan seorang kekasih. Namun, pembawaannya yang menyenangkan dan lucu, jadilah ada laki-laki yang suka dan mau menjadi kekasihnya.

Ternyata perasaan dan gambaran cantik atau tidaknya diri kita hanya ada di pikiran saja, atau bisa dibilang hasil dari konsep diri. Apakah itu konsep diri? Konsep diri adalah pandangan individu tentang dirinya, meliputi gambaran tentang diri dan kepribadian yang diinginkan, diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik atau psikologis. Calhoun dan Acocella (1990) juga menjelaskan bahwa konsep diri terdiri atas tiga hal yang meliputi: pengetahuan terhadap diri sendiri (real-self), pengharapan mengenai diri sendiri (ideal-self), yaitu pandangan tentang kemungkinan yang diinginkan terjadi pada diri seseorang di masa depan, dan penilaian tentang diri sendiri (social-self), yaitu penilaian dan evaluasi antara pengharapan mengenai pribadi seseorang dengan standar dirinya yang menghasilkan harga diri, yang berarti seberapa besar orang menyukai dirinya sendiri.

Konsep diri ini bisa berubah sepanjang kehidupan dan kemauan tiap orang. Apakah konsep diri kita positif atau negatif, semua pribadilah yang mengendalikan. Konsep diri positif biasanya menunjukkan adanya penerimaan diri dimana seseorang mengenal pribadinya dengan sangat baik. Jadi, ketika kita berpikir bahwa diri kita cantik dengan segala yang dipunyai, kita jadi fokus pada hal positif sehingga diri menjadi lebih bahagia. Sedangkan, seseorang yang memiliki konsep diri negatif ketika ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya, atau yang dihargai dalam kehidupannya. Ketika kita merasa tidak cantik ataupun menarik, imbasnya membuat pribadi menjadi pesimis, minder, tidak bisa mencintai diri sendiri, bahkan tidak memiliki penghargaan terhadap diri sendiri. Sehingga, kita lupa kalau sebenarnya ada nilai positif di dalam diri sendiri yang justru tidak bisa dilihat oleh orang sekitar. Nah bagaimana, konsep diri seperti apa yang ingin kalian miliki? apakah kalian sudah berani mengubah konsep diri kalian?


Artikel ini pernah dipublish di Folksy Magazine edisi 16.


Studio Vlog: DIY Selotip Kain

Hai folks, kami masih suka bebikinan lho meskipun sudah tidak dimasukkan di majalah Folksy, sebagai gantinya, DIY kami dimasukkan di Youtube channel Folksy Press. Kalian sudah subscribe belum? Kalau belum, buruan gih! :) 



Maybe it’s time to discover yourself more

Folks, apa yang kamu lakukan ketika perasaan-perasaan tidak mengenakkan datang? Seperti sedih, gelisah, merasa tidak menambahkan nilai apa-apa terhadap apa yang dipercayakan padamu, atau perasaan bahwa kamu adalah yang terburuk dari sekian banyak kolegamu. Mengutip kalimat dari Adjie Santosoputro, seorang ahli di bidang self healing and mindfulness, bahwa seperti halnya bahagia, perasaan-perasaan sedih juga butuh kita terima dan rasakan.

Setelah menerima perasaan tidak mengenakkan itu, coba kita melihat ke dalam sendiri. Kira-kira, apa yang menyebabkan berbagai perasaan dan pikiran negatif itu muncul? Sebagian orang memilih jalan-jalan ke tempat yang jauh dan belum pernah dikunjungi sebelumnya. Menyenangkan memang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya, kan? Mari coba terlebih dahulu cara sederhana ini. Kamu butuh selembar kertas dan pena untuk menuliskannya satu demi satu. Pertama, ceritakan yang kamu rasakan dan pikirkan. Tuliskan semuanya, bahkan sampai selembar hingga dua lembar kertas tidak cukup lagi. Setelah itu, ceritakan juga apa yang membuatmu merasakan dan memikirkannya. Apakah pekerjaanmu, atau keseringan membuka media sosial, atau kekhawatiranmu terhadap masa depan? Ceritakan.

Sekarang, waktunya kamu menyortir. Apa saja hal-hal yang harus kamu kurangi dan kamu tambah, supaya kamu merasa lebih baik. Apakah itu seorang teman yang akhirnya kamu rasa memberikan pengaruh negatif? Atau mungkin pikiran-pikiranmu sendiri yang terlalu khawatir tentang hal-hal kecil membuatmu jadi kurang bersyukur? Coba timbang-timbang, mungkin saja kamu juga menemukan bahwa kamu perlu mengubah rutinitas. Kamu mungkin ingin mencoba yoga, mengikuti komunitas baru, bahkan mungkin melakukan hal yang selama ini menjadi ketakutanmu.

Setelah kamu memetakan dan menyortir, putuskan tindakanmu! Mari buat list yang berisi aktivitas konkret berdasarkan apa yang sudah kamu dapatkan dari menyortir. Jika kamu merasa lelah karena begadang tanpa alasan yang jelas, lalu di pagi hari merasa tidak semangat, coba cari cara-cara mengatasinya. Misalnya, minum susu hangat sebelum tidur, kemudian memilih jam tidur tidak diatas tengah malam. Jangan lupa untuk tetap konsisten melakukannya ya. Menurut penelitian, sesuatu yang dilakukan berulang-ulang selama 21 hari akan menjadi sebuah kebiasaan baru. Nah, tidak ada salahnya kan memiliki kebiasaan baru yang lebih positif? Kenali dirimu lebih jauh, jika kebiasaan tersebut membuatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, kamu berhasil.

Biasanya dengan memetakan seperti ini, semuanya akan kelihatan lebih jelas Folks. Kamu pun jadi lebih mengerti apa sebenarnya yang kamu inginkan. Apalagi, ketika kamu memutuskan mencoba hal yang tidak pernah kamu duga-duga sebelumnya, adrenalinmu jadi terpacu, ada kejutan-kejutan kecil saat kamu mencobanya. Aku pun melakukannya Folks, tahun kemarin adalah pertama kalinya aku mencoba facial. Hal ini kuputuskan karena salah satu hal yang membuat mood ku tidak baik di pagi hari adalah jerawat membandel yang kulihat di kaca tiap akan memulai aktivitas. Facial untuk pertama kali, rasanya sangat menyenangkan, aku pun turut menebak-nebak apa yang akan dilakukan selanjutnya kepada wajahku, hahaha.


P.S. Artikel ini pernah dimuat di Folksy Magazine edisi 17


Previous
 
Recent Post
Categories