JavaScript seems to be disabled in your browser.

You must have JavaScript enabled in your browser to utilize the functionality of this website. Click here for instructions on enabling javascript in your browser.



Play with scarf

Kalian suka pakai scarf tapi bosan kalau dipakai seperti biasanya? Coba intip foto dari Folksy berikut, siapa tau menginspirasi kalian untuk pakai scarf dengan gaya lain ;) Enjoy!




Credit:

Photographer: Luthfi Satya | G: @luthfisatya
Stylist: Olla Agustia Leriani | IG: @olla.tia
Model: Muthia Pratamadea | IG: @mpratamadea
Scarf: Start From The Bottom | IG: @startfromthebottom
Earring: Frigiliana.id | IG: @frigiliana.id
Venue: Sumringah | IG: @sumringahid


Hello Stranger, How Are You?


Semasa kecil, orang tua membatasi kita untuk berinteraksi dengan orang asing, bahkan bagi orang tua yang over protective, mereka memberikan doktrin bahwa orang asing itu berbahaya dan anak-anak dilarang bermain dengan orang asing. Ditambah lagi, pada masa saya kanak-kanak, populernya film Sherina yang diculik oleh orang yang pura-pura menjadi kenalan orang tuanya, membuat saya pribadi semakin parno dengan orang asing. Sebenarnya doktrin dari orang tua tadi merupakan usaha preventif yang baik, namun apabila berlebihan sepertinya dapat menumbuhkan kepribadian malas bersosialisasi alias anti sosial.

Nah, dewasa ini, menyapa dan berkenalan dengan orang asing sudah tidak semenakutkan itu, loh. Ketika menunggu bus, menunggu hujan, menunggu antrian, selalu dihabiskan untuk bermain gadget, membaca buku, atau sekedar melamunkan entah apa itu. Lalu-lalang orang-orang terabaikan, menjadi individual dan larut dalam kepentingan pribadi, seakan dunia ini hanya tentang kita dan kita sendiri. Daripada hanya terkekang dalam keheningan tak berarti, bukankah lebih baik menyapa atau berbicara dengan bahasa manusia?

Kio Stark dalam TED Talks menyebutkan dua hal yang menjadi kelebihan dari berbicara dengan strangers; Yang pertama adalah kita dapat membicarakan hal apa saja, berkata jujur tentang hal yang cukup receh, hingga hal-hal pribadi. Pertemuan singkat, dan kemungkinan untuk bertemu lagi di kemudian hari kecil, maka konsekuensi ceritamu akan tersebar pun juga kecil; Kedua, hubungan kita dengan orang-orang terdekat menimbulkan bias tersendiri, kita berekspektasi bahwa mereka sebagai orang  terdekat sudah sangat mengerti kita, seolah-olah mereka memiliki kemampuan untuk membaca pikiran saja. Ketika dengan orang asing, sudah pasti mereka tidak tahu semua hal tentang kita, member sedikit penjelasan juga akan memberikan mereka sedikit pemahaman, tidak perlu repot-repot berharap mereka mengerti kita secara mendalam. Nah, dari dua hal tersebut sudah terlihatkan bagaimana unik dan serunya pengalaman yang akan kita alami ketika bercengkerama dengan orang asing!

Kemudian, untuk memulai pembicaraan, Kio Stark menyebutkan bahwa biasanya pembicaraan dimulai dengan topik yang mengacu pada pihak ketiga. Misal bagaimana kita memberikan compliment terhadap apa yang ia pakai, betapa lucu kucing yang dia pelihara, atau anak berumur dua tahun yang ia ajak jalan-jalan ketaman.

“When you talk to strangers, you’re making beautiful interruptions into the expected narrative of your daily life and theirs.”- Kio Stark

Untuk menanggapi kutipan tersebut, saya ingin menceritakan sedikit “beautiful interruptions” yang pernah terjadi pada saya. Saya sendiri selalu mengalami percakapan menarik dengan orang asing di bandara, dimana setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, bagaimana mereka mengejar waktu penerbangan yang ternyata malah delay, bagaimana mereka merasakan dan memaknai perpisahan untuk merantau, bagaimana mereka mempersiapkan yang mereka tuju, percakapan-percakapan seperti itu sangat menarik bagi saya. Pernah suatu hari, di bandara, saya diceritakan pengalaman religious dari seorang ibu yang menjadi TKW Taiwan, topic pembicaraan kami dimulai akibat saya secara ceroboh memasukkan barang-barang bagasi kedalam mushola. Kemudian beliau bercerita tentang mimpi-mimpi yang dialaminya, meski saya sedikit tidak percaya, namun tetap dengan antusias mendengarkan karena semangat yang dibawa beliau.

Kemudian juga terjadi perbincangan saya dengan pria 30 tahunan yang baru saja mengisi seminar kewirausahaan di kota tempat kami bertemu, juga akibat pihak ketiga yaitu delay-nya penerbangan. Banyak hal yang kami bicarakan, dari masalah kota yang relate dengan kuliah yang saya pilih sekarang, hingga kuliah dari beliau agar saya lebih peka dalam melihat peluang berwirausaha, di setiap kesempatan. Dari kedua cerita tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa interupsi dari orang asing memang betul indah, bagaimana mereka dapat menyebarkan semangat walaupun kita tidak saling mengenal, pun saya mendapatkan banyak hal yang benar-benar baru, bahkan bias dibilang kuliah/seminar gratis, hahaha.

Berinteraksi dan berbincang dengan orang asing selalu akan menjadi menarik; Menambah hal-hal baru sebagai pengetahuan baru; Belajar mendengarkan cerita orang lain dan mengajarkan kita untuk tidak melulu menjadi pribadi yang egois yang merasa bahwa dunia ini hanya tentang kita; Menambah kenalan baru atau mungkin kalian memang ditakdirkan bertemu, seperti yang terjadi pada film Hello Stranger dari Thailand (silakan ditonton sendiri karena saya tidak ingin memberikan spoiler).

Lalu, berbicara dengan orang asing tidak perlu tahu siapa namamu, di mana kamu tinggal, pembicaraan akan mengalir secara menarik ketika membahas hal-hal acak, dari topik yang sedang hangat, hingga hal-hal aneh sekalipun. Bagaimana? Tertarikkah untuk memulai percakapan dengan orang asing? Siapa tahu yang kamu sapa besok adalah penulis artikel ini.



Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas


"Intro"

"slow music"

Clap (tepuk tangan satu kali)

Siapa yang familiar dengan opening video di atas? Ya benar, itu tadi adalah opening video-video dari channel Youtube bernama Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas, atau biasa disingkat dengan KKL, atau mereka sendiri lebih sering menyebut diri mereka qql.

Hah, apa tadi? Kok lampu lalu lintas, memangnya siapa sih mereka? Kemarin tim folksy berkesempatan untuk ngobrol dengan Aya dan Fabi, dua dari tiga anggota KKL. Nah, simak obrolan kami dengan mereka yuk, Folks!

Halo KKL! Kenalan dulu dong, kalian ini sebenernya siapa sih?

Halo halo, kami dari, kelompok kolektif lampu-lalu-lintas. Kita bertiga, ada aku (Aya) lampu merah, ada Fabi lampu kuning dan Fasya lampu ijo. Jadi di channel youtube qql itu ada video-video yang menggemaskan, hehehe. Video yang sebenarnya nggak penting, tapi, kita merasa itu penting. Topiknya bisa macem-macem, mulai dari seni, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Tapi sebenarnya lebih banyak tentang seni dan gaya hidup sih.

Awalnya gimana sih, kok bisa terbentuk KKL?

Jadi, kami dulu pernah satu sekolah, aku sama Fasya pernah satu ekskul, jadi aku tahu kalau dia suka hal-hal tentang seni juga. Waktu kita kelas 11, Fabi pindah sekolah. Nah, justru pas Fabi pindah, kita bertiga jadi deket. Hampir setiap minggu ketemuan, biasanya main ke pameran atau acara di jakarta bareng-bareng. Akhirnya bikin nama geng dan merintis karir jadi Youtuber.

Kok namanya bisa KKL, gimana sejarahnya?

Dulu namanya sempat The Lampu Merah, gara-gara pas ada acara ulang tahun temen yang temanya retro, kita bertiga sama-sama pakai turtle neck merah, kuning, dan ijo. Dari situ, kami menamai diri kami The Lampu Merah, tapi terus ganti jadi lampu lalu lintas karena sebagai Aya, si lampu merah, aku merasa spotlight nya di aku, padahal yang lain juga kerja untuk video-video kami di Youtube. Selain itu, kami ingin pakai istilah sebenarnya bukan istilah sehari-hari, jadi lampu lalu lintas bukan lampu merah lagi.

Ceritain dong, gimana awalnya sampai KKL buat video-video di Youtube?

Sebenarnya waktu KKL ada, kita nggak pernah sampai berpikiran untuk bikin video di Youtube. Waktu itu karena aku (Fabi) lagi siapin kado untuk acara tukar kado yang videonya ada di channel youtube KKL itu, awalnya spontan aja, pas itu liat ada kamera, terus ya ingin mengabadikan aja. Lalu, edit-edit videonya, dulu pertama kali di upload di channel pribadi aku, terus kepikiran, kenapa nggak coba bikin channel baru aja, dengan nama kita, qql.

Konten video-video KKL kok bisa unik gitu, apa emang ide kontennya sengaja dibikin beda?

Kami sebenarnya bikin konten video, tentang video yang pengen kita tonton. Seperti video ‘Pamer Barang : Pasar Baru’ misalnya, kami suka nonton thrift haul dari Youtuber luar negeri, dan di Indonesia sepertinya hal itu masih baru. Karena Fabi udah biasa thrifting kami akhirnya bikin video tentang thrift haul ala kami sendiri. Lalu, video KKL pertama, ‘Tuker Kado’, itu sebenarnya pengen ikutan video-video unboxing tapi dengan twist isi kado adalah barang-barang dari rumah sendiri. Kalau video yang ‘Sedetik Sehari’ Fabi duluan yang punya ide, dia udah sering bikin video-video ‘Sedetik Sehari’, pas KKL punya channel youtube, langsung deh di propose jadi project bulanan.

Kalau konten video seperti ‘Cerita Rakyat’ dan ‘Kultum’ emang dibuat untuk seru-seru an aja, atau mau kasih edukasi ke viewers juga?

Kalau cerita rakyat, awalnya kami juga nggak tau tetang cerita itu, terus search, kok ternyata bagus, jadilah dibikin konten buat video. Konten ‘Cerita Rakyat’ mengedukasi kami lebih dulu. Kalau ‘Kultum’ pada dasarnya emang sharing aja, tapi dikasih batas waktu tujuh menit, biar ngomongnya nggak ngalor-ngidul. Disetiap video yang di upload, kami pengen ada outcome yang positif dari video itu, entah menghibur atau mengedukasi, jadi kuota, waktu, dan effort yang dikeluarin buat nonton video kami tidak terbuang sia-sia.

Pertanyaan terakhir, gimana sih pandangan KKL tentang video-video youtube di Indonesia?

Kalau dari aku (Fabi) sendiri, mungkin selama ini banyak youtuber yang masih mementingkan popularitas, padahal kalau digunakan dengan baik dan benar, sebenarnya Youtube itu bisa menjadi wadah untuk kita berbagi informasi. Walaupun aku masih jarang liatnya di Indonesia, tapi semakin kesini semakin banyak channel-channel Youtube yang kreatif, kritis, yang tidak mementingkan popularitas tetapi lebih mementingkan bobot kontennya. Walaupun memang masih jarang, tapi sepertinya akan berkembang.

Nah, itulah tadi hasil obrolan tim folksy kemarin dengan Aya dan Fabi, anggota dari KKL, seru banget kan ngobrol sama mereka. Kalau kalian masih penasaran dengan mereka atau penasaran dengan video-video mereka, langsung saja buka youtube channel mereka di Kelompok Kolektif Lampu-lalu-lintas. Selamat menonton!



Girl Gang Is Not My Thang

Saya percaya konsep kerja kolektif dengan sepenuh jiwa raga saya. Pengalaman saya berkolektif adalah yang membuat saya menjadi diri saya yang hari ini. Sejak pertama kali dikenalkan pada bentuk sistem kerja ini, dimana semua orang di dalamnya memiliki posisi, peran dan tanggung jawab yang sama, saya tidak lagi merasa mesti sendirian terus untuk menggapai sebuah tujuan. Dan yang paling penting, saya juga bisa belajar dan melihat bahwa semua orang itu SAMA. Tidak peduli jenis kelamin, orientasi seksual, latar belakang, status, jumlah followernya, ataupun dia temannya siapa. Tak ada ketua, semuanya adalah anggota.

Saya mulai berkolektif sejak tahun 2001. Awalnya hanya dengan teman-teman lelaki dimana saya selalu jadi satu-satunya perempuan di dalamnya. Tapi sebenarnya, tak pernah sekalipun saya merasa begitu kalau saja beberapa orang tidak mengingatkan tentang hal tersebut, karena memang saya tidak merasa dibedakan sama sekali oleh teman-teman berkolektif saya. Dari mulai pembagian kerja, peran dan tanggung jawab tak pernah sekalipun ada kata-kata ‘Lo kan perempuan…”. Saya sungguh merasa berdaya dan bangga dengan hasil-hasil kerja kolektif kami. Dan saat akhirnya kami mengambil keputusan untuk membubarkan kolektif pun kami melakukannya dengan biasa saja dan tetap berteman baik setelahnya. Begitu pun pengalaman saya berkolektif dengan beberapa teman lelaki dan perempuan untuk sebuah acara pameran yang kami buat bersama. Semuanya berjalan lancar hingga acara selesai walaupun pasti ada kekurangan disana sini tapi di akhir acara kami semua senang dan kolektif kerja kami berakhir dengan riang gembira bersamaan dengan berakhirnya acara. Dan satu hal yang menarik dari berkolektif bersama dengan teman lelaki semua atau dengan teman lelaki dan perempuan adalah kolektif kami dilihat sebagai sebuah kelompok kerja seperti banyak kelompok kerja lainnya. Orang luar melihatnya dari hasil-hasil kerja kami sebagai kolektif.

Namun ternyata kalau berkolektif bersama perempuan semua, dinamikanya jauh berbeda. Sebagai perempuan, saya mengerti dan mengakui spesialnya menjadi bagian dari kolektif yang semuanya perempuan terlebih saat perempuan lebih sering dimotivasi untuk berkompetisi mencari perhatian lelaki dan dibuat untuk merasa dirinya ‘kurang’ terus oleh lingkungan sekitarnya. Mungkin itu juga yang membuat sulit sekali mengaplikasikan bahwa kita semua sama kalau berkolektif bersama perempuan, karena selalu ada yang merasa minder atau ‘kurang’ dibandingkan anggota lainnya di dalam kolektif. Lalu kalau kita bicara emosi, semua orang tentu saja mempunyai emosi namun tampaknya kalau berada di dalam kolektif perempuan manajemen emosi adalah sebuah tantangan tersendiri. Berusaha untuk tetap tidak terbawa emosi saat anggota yang lainnya sedang sangat emosi bisa jadi sebuah tugas yang tidak ringan bagi anggota lainnya, apalagi kalau mesti berada di dalam situasi seperti itu berkali-kali. Belum lagi mereka yang bicara di belakang, sikut-sikutan, ingin lebih ‘tampil’ dari yang lainnya, dan kehidupan personal setiap orang di dalam kolektif yang juga memiliki tantangan tersendiri. Berkolektif bersama perempuan menjadi rangkaian upaya menanggulangi ini semua hingga seringkali malah lupa tujuan berkolektifnya semula untuk apa. Padahal  setiap orang di dalam kolektif ternyata memiliki definisi dan ekspektasi berbeda tentang apa itu berkolektif namun belum sempat menyamakan hal ini sudah kadung capek berkolektif jadinya. Lalu bumbu-bumbu dari anggapan dan tanggapan publik diluar kolektif yang melihat betapa kerennya kolektif yang isinya perempuan semua lalu mereka akan memberi ekspektasi-ekspektasi lengkap dengan kritik-kritik nyinyir tak berdasar yang makin menambah tekanan terhadap kolektif perempuan semua ini baik disadari ataupun tidak.

Jadi memang berkolektif bersama perempuan semua itu ternyata jauh lebih sulit daripada berkolektif dengan lelaki semua atau yang ada lelaki dan perempuannya. Setidaknya inilah kesimpulan saya sekarang setelah lebih dari 10 tahun berkolektif dengan berbagai tujuan. Mungkin sudah waktunya saya rehat dulu dari kehidupan berkolektif di luar sana supaya bisa lebih memfokuskan diri kepada kerja kolektif yang ada di dalam lingkungan terdekat saya sendiri seperti pasangan dan keluarga. Karena lalu apa gunanya berkolektif bila tak ada yang dihidupkan dan menghidupkan di dalamnya?





Artsy People of The Month: Sombong


Beberapa waktu lalu, Tim Folksy ngobrol dengan Igi Anjangbiani atau biasa disapa Sombong. Singkat cerita, founder karakter Souka dan Sashi ini matanya sempat minus tiga, tapi enggan pakai kacamata. “Sempat dibilang begitu (sombong), karena dulu suka jarang nengok kalau disapa.” Ujarnya, saat menjelaskan kenapa Sombong dipilih jadi nama populernya hingga saat ini.

Jika kalian cek akun Instagram @sombong_ ada dua karakter hewan lucu dan ‘tidak biasa’ yang sering banget muncul di feeds nya. Satu adalah kucing bermata lima, satunya lagi yaitu kelinci tanpa mata, hidung, mulut, termasuk kumis. Mereka adalah Souka dan Sashi, urban toys ciptaan Sombong selain karyanya yang lain yaitu lukisan.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini tertarik dengan seni rupa sedari kecil. Igi atau Sombong yang lebih suka dibilang sebagai visual artist ini, aktif mengikuti pameran sejak tahun 2015. Sempat bercerita juga bahwa tahun 2017 kemarin, ia lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Selamat, Igi! Bulan Desember ini, Sombong adalah artsy people of the month yang dipilih Tim Folksy. Kami sempat tanya-tanya Sombong soal mengapa ia memilih medium untuk berkarya, arti mainan buat dia, sampai bayangan soal kalau saja saat ini tidak menggiati seni.

Igi Anjangbiani (@sombong_)

Ceritain dong tentang kesenian yang kamu giati. Sudah sejak kapan dan apa yang membuat kamu memilih medium yang bersangkutan?

Wah, banyak sekali. Pokoknya ada suatu masa di mana aku nyobain semua yang bisa kujangkau (berkaitan dengan seni rupa). Karena waktu kuliah tahun ke-dua, mulai ada kesadaran buat aktif pameran tapi nggak ada yang ngajakin. Akhirnya semua submission pameran yang bisa didaftarin aku ikutin, dari pameran post card sampe patung. Sekarang sedang cukup fokus bikin karya fine art, dua tahun terakhir lagi banyak ngulik “toys” dan lukisan, karena ya memang ternyata irisan kecintaan dan teknologi yang bisa kejangkaunya di dua medium itu.

Ceritain soal nama sombong

Wah, nama Sombong itu ceritanya panjang. Tapi kalau disingkat, intinya memang sempet dibilang begitu, karena dulu suka jarang nengok kalau disapa. Gara-gara sempet minus tiga tapi nggak pakai kacamata jadi nggak kelihatan kalau ada yang nyapa hahaha.

Mainan yang kamu buat, punya nama kah? Inspirasinya dari mana?

Ada dua karakter yang ada namanya, Sashi yang kelinci. Lalu ada Souka, kucing bermata lima yang suka muncul di graffiti yang kubuat.

Inspirasinya, kalau Sashi dari fakta yang aku temukan soal kelinci. Kelinci ternyata bisa mati gara-gara dikagetin doang, secemen itu. Gara-gara tingkat stresnya tinggi. Nah, sisi itu aku ambil jadi representasi rasa takut dan khawatir yang kualami. Kalau Souka yang kucing gara-gara aku suka kucing dan katanya nggak boleh kalau matanya satu (pernah dimarahin orang), jadi matanya lima.

Apakah dijual? Gimana caramu memberi nilai untuk karyamu?

Dijual dong, hehe. Kalau toys cara nentuin harganya yaitu dari ukuran dan dibantu konsultasinya oleh @so.toy. Kalau lukisan, aku dibantu juga sama orang yang sudah biasa pricing lukisan. Itu kalau nilai materi duit. Kalau nilai yang lain, ya itu kayak anak sendiri, sayang aja gitu.

Buatmu, mainan itu berarti apa dan seperti apa? Bayanganmu kalau di dunia ini nggak ada mainan?

Wah gila sih, mainan itu ternyata bisa diextend dari banyak wilayah visual maupun konsepnya. Bisa jadi seni dan bisa juga jadi banyak hal menarik lainnya. Kalau di dunia nggak ada mainan...nggak mungkin sih. Selama rasa bosan manusia masih ada, bentuknya aja yang terus berubah.

Sekarang lagi sibuk apa?

Sedang sibuk mencari uang, hehe. Nyiapin karya buat pameran pertengahan bulan ini (Desember) dan tahun depan. Juga masih sibuk nungguin satu pameran yang sekarang masih berlangsung.

Menurutmu, artsy itu apa dan yang gimana? Beda nggak kira-kira dengan definisi artsy yang berkembang sekarang?

Kalau yang aku tahu, artsy itu orang yang tertarik dengan seni. Beneran tertarik atau yang sekedar nampang doang. Aku bingung juga dengan istilah artsy sekarang, menurutku asal kontribusinya baik ke budaya dan seninya, nggak masalah.

Menurutmu, kamu artsy nggak?

Kalau definisi artsy sesimpel tertarik dengan seni, berarti aku artsy. Kalau beda lagi ya berarti belum tentu J

Menurutmu orang perlu punya ‘sense of art’ nggak di hidupnya, kenapa?

Hmm, bingung ya, sense of art aku nggak paham. Tapi yang penting adalah bisa memahami, segala sesuatu selalu berkenaan dengan sesuatu yang lain. Makna tunggal itu nggak ada dan harus sadar kalau melihat segala sesuatu, bisa nggak cuma dari satu sisi.

Motto hidup kamu?

Motto hidup yang coba aku kejar adalah jadi jujur, baik dalam hidup maupun bikin karya.

Apa yang kamu pikirkan akhir-akhir ini?

Yang aku pikirin akhir-akhir ini, bagaimana caranya makan obat pakai pisang dan mulai harus menerima kalau diriku memang tida berbakat ;(

Kalau lagi creative block, biasanya kamu ngapain?

Kalau kasusnya aku creative block, biasanya diawali dengan “pengen keliatan pinter”, diatasinya dengan damai sama diri sendiri dan jadi jujur sebisanya. Kalau nggak pinter yaudah nggak usah pura-pura pinter, hehe.

Mood penting nggak buat berkarya?

Penting. Aku kenal beberapa orang yang bisa bikin karya bagus kalau sambil mabok atau justru bagus banget kalau patah hati, galau, dsb. Kalau aku nggak bisa, harus dalam keadaan stabil. Kalau lagi nggak enak hati, biasanya nggak ngerjain apa-apa. Kecuali commission work yang deadline nya udah kelihatan mah yaudah gimana lagi harus dikerjain.

Kalau passion, penting nggak?

Passion penting, kalau memang cinta biasanya dia akan mengajari dirinya sendiri untuk jadi lebih baik.

Seandainya kamu nggak menggeluti dunia seni seperti sekarang, di bayanganmu kamu bakal berprofesi atau jadi apa?

Kalau nggak seni-senian aku sekarang sedang di kantor imigrasi, dideportasi dari Jepang karena tidak kredibel sebagai translator/guide dan pakainya visa liburan.


Gimana Folks, kamu yang lagi bingung mencari passion apakah jadi berniat pergi ke Jepang dan jadi translator? Hahaha. Selanjutnya, menurutmu siapa yang seru untuk diinterview sebagai artsy people of the month di Bulan Januari tahun depan Folks? Silakan kasih saran melalui direct message di akun Instagram @folksymagazine atau @folksypress ya. Nah, berikut ini adalah beberapa karya Igi berupa patung dan lukisan. Selebihnya, kamu bisa cek di akun Instagram @sombong_
enjoy!

Sashi

Ceritain sedikit dong tentang karya ini.

Ini adalah salah satu dari empat karya yang masuk dalam seri berjudul “kw” (2017). Visualnya berupa parodi alfamart tapi isinya adalah 'alfa mighty morphin power ranger'. Apa ya, bingung juga. Pokoknya itu adalah hasil dari upaya aku untuk ngulik soal humor, jadinya begitu. Minimal bisa bikin yang liat senyum dikit. Dasarnya memang aku suka karya yang kocak dan punya ambiguitas tinggi. Itu di Bandung, waktu itu bareng kolektif di mana aku tergabung di dalamnya, namanya @klub.remaja.



Previous
 
Recent Post
Categories